Upaya internasionalisasi pendidikan tinggi kian menemukan momentumnya. Di tengah kompetisi global yang semakin ketat, perguruan tinggi dituntut tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga adaptif dalam membangun jejaring internasional dan menghadirkan pengalaman belajar lintas batas bagi mahasiswanya.
Langkah itu tengah diperkuat oleh UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta melalui pengembangan kelas internasional atau International Undergraduate Program (IUP) di berbagai fakultas. Salah satunya di Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK), yang menghadirkan dosen tamu dari Leibniz Universität Hannover, Prof. Andreas Nehring, pada 30 Maret hingga 2 April 2026.
Kehadiran akademisi asal Jerman tersebut menjadi bagian dari upaya penguatan mutu pembelajaran, khususnya di Program Studi Pendidikan Kimia. Selain memberikan pengajaran, kunjungan ini juga membuka ruang dialog strategis untuk memperluas kolaborasi internasional.
Rektor UIN Sunan Kalijaga Prof. Noorhaidi Hasan, menyambut baik kehadiran Prof. Nehring di Ruang Rektor, Selasa (31/3/2026), bersama jajaran pimpinan fakultas, di antaranya Wakil Dekan Bidang Pengembangan Akademik dan Kelembagaan FITK Dr. Andi Prastowo serta Ketua Program Studi Pendidikan Kimia Dr. Paed. Asih Widi Wisudawati.
Dalam pertemuan tersebut, Prof. Nehring menawarkan sejumlah peluang kerja sama berkelanjutan antara kampusnya dan UIN Sunan Kalijaga. Kolaborasi itu mencakup lima bidang strategis, yakni riset dosen, akses pendanaan internasional seperti Erasmus+, DAAD, dan Siemens Foundation, pertukaran mahasiswa dan dosen melalui kelas IUP, peningkatan keterampilan berpikir kritis dan pemecahan masalah, serta pengembangan pembelajaran berbasis teknologi seperti kecerdasan buatan (AI) dan realitas virtual (VR).
Rektor menyambut positif inisiatif tersebut. Menurut dia, kolaborasi internasional menjadi bagian penting dalam strategi pengembangan universitas menuju kelas dunia.
“Langkah ini sejalan dengan arah pengembangan kampus 2024–2028. Kami terus mendorong penguatan internasionalisasi, baik dalam pembelajaran, riset, maupun jejaring global,” ujarnya.
Ia menambahkan, penguatan kelas internasional tidak hanya berdampak pada institusi, tetapi juga membuka peluang lebih luas bagi mahasiswa untuk mengakses pengalaman akademik global, termasuk mobilitas internasional dan keterlibatan dalam riset kolaboratif.
Di tahun ini, UIN Sunan Kalijaga mencatatkan sejumlah capaian di tingkat global. Pada 2026, universitas ini menempati peringkat ke-37 dunia dalam QS World University Rankings by Subject serta peringkat ke-7 dunia dalam Scimago Institutions Rankings (SIR) untuk bidang Religious Studies.
Capaian tersebut, menurutnya menjadi pijakan untuk terus memperkuat kualitas riset, inovasi, dan dampak keilmuan di tingkat internasional. “Yang terpenting adalah bagaimana capaian ini diterjemahkan menjadi manfaat nyata bagi mahasiswa dan masyarakat,” katanya.
Penguatan IUP dan kolaborasi internasional diharapkan tidak hanya meningkatkan daya saing lulusan, tetapi juga mempertegas posisi UIN Sunan Kalijaga sebagai perguruan tinggi yang mengintegrasikan keunggulan akademik dengan perspektif global.(humassk)