Dua Rekor Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) yang dianugerahkan kepada peneliti UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Fahrul Nurkolis, tidak hanya mencerminkan produktivitas akademik melalui ratusan publikasi ilmiah. Di balik capaian tersebut, tersimpan deretan inovasi yang telah memasuki tahap lebih lanjut, yakni perlindungan kekayaan intelektual dalam bentuk paten.
Hingga saat ini, Fahrul tercatat memiliki 10 paten sederhana yang telah granted, dengan cakupan bidang yang relatif luas, mulai dari bioteknologi, pangan fungsional, nutrisi, hingga inovasi biomedis. Paten-paten tersebut tidak berdiri sebagai temuan terpisah, melainkan merepresentasikan arah riset yang konsisten, menjembatani potensi bahan alam dengan kebutuhan kesehatan masyarakat.
Sebagian besar inovasi yang dihasilkan berangkat dari eksplorasi bahan hayati, terutama komoditas laut seperti Caulerpa racemosa atau rumput laut anggur. Dalam salah satu patennya, Fahrul mengembangkan metode isolasi polisakarida tersulfat dari bahan tersebut sebagai agen antioksidan. Pada pengembangan lain, ekstrak rumput laut yang sama diformulasikan sebagai kandidat obat untuk sindrom kardiometabolik, sekaligus sebagai suplemen untuk membantu regulasi metabolisme glukosa.
Pendekatan serupa juga terlihat dalam inovasi berbasis pangan fungsional. Fahrul mengembangkan minuman kombucha dengan formulasi antidiabetes, termasuk yang memanfaatkan limbah ampas kopi sebagai sumber senyawa bioaktif. Selain itu, terdapat pula inovasi tepung fungsional berbasis bayam dan nanas yang dirancang untuk mendukung fungsi kognitif, menunjukkan bahwa riset yang dilakukan tidak hanya menyasar aspek terapi, tetapi juga pencegahan.
Di bidang nutrisi, salah satu paten yang dihasilkan berupa konsentrat L-arginine dari belut dengan tambahan tempe sebagai suplemen kesehatan. Inovasi ini memperlihatkan upaya mengintegrasikan sumber pangan lokal dengan pendekatan ilmiah untuk menghasilkan produk bernilai tambah.
Sementara itu, pada ranah biomedis, Fahrul juga mengembangkan senyawa kandidat obat antidiabetes berbasis peptida serta senyawa baru hasil eksplorasi molekuler. Pendekatan ini menunjukkan bahwa riset yang dilakukan tidak hanya berhenti pada formulasi produk, tetapi juga menyentuh aspek penemuan senyawa aktif yang berpotensi dikembangkan lebih lanjut.
Jika ditarik dalam satu garis besar, keseluruhan paten tersebut memperlihatkan satu kecenderungan yang kuat, yakni orientasi pada penyakit metabolik seperti diabetes, gangguan kardiovaskular, serta penurunan fungsi kognitif. Tema ini sejalan dengan tantangan kesehatan global yang semakin didominasi oleh penyakit tidak menular.
Dalam konteks tersebut, inovasi yang dihasilkan tidak hanya relevan secara akademik, tetapi juga memiliki potensi aplikatif yang tinggi. Kehadiran paten menjadi indikator bahwa riset yang dilakukan telah bergerak melampaui publikasi ilmiah, menuju tahap hilirisasi dan pemanfaatan yang lebih luas.
Capaian ini pula yang memperkuat alasan dianugerahkannya dua Rekor MURI kepada Fahrul, yakni sebagai Magister Ilmu Biomedis dengan publikasi ilmiah terindeks Scopus terbanyak serta pemegang hak paten terbanyak pada bidang yang sama.
Bagi UIN Sunan Kalijaga, capaian tersebut tidak hanya menjadi kebanggaan institusi, tetapi juga mencerminkan arah pengembangan riset yang didorong untuk tidak berhenti pada produksi pengetahuan. Lingkungan akademik yang mendorong integrasi antara ilmu, inovasi, dan kemanfaatan menjadi ruang tumbuh bagi karya-karya yang tidak hanya produktif, tetapi juga berorientasi pada solusi.
Dengan demikian, dua Rekor MURI tersebut tidak sekadar menegaskan capaian individual, melainkan juga memperlihatkan bagaimana riset dapat berkembang menjadi inovasi yang lebih konkret. Ketika publikasi bertemu dengan paten, di situlah ilmu pengetahuan mulai menemukan jalannya untuk memberi dampak yang lebih nyata bagi masyarakat.(humassk)