Pengetahuan tidak berhenti di ruang kelas. Ia menemukan maknanya ketika bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat. Di titik itulah Kuliah Kerja Nyata (KKN) menjadi ruang pertemuan antara ilmu dan realitas.
Semangat itu mengemuka dalam Pembukaan Pembekalan KKN Angkatan 120 yang digelar LPPM UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta di Gedung Multipurpose, Selasa (28/4/2026). Sebanyak 3.725 mahasiswa yang akan mengikuti KKN reguler tahun ini bersiap menjalani pengabdian, tersebar di berbagai daerah, bahkan hingga luar negeri.
Di hadapan para pimpinan di lingkungan UIN Sunan Kalijaga dan ribuan mahasiswa, Ketua LPPM menegaskan, KKN bukan sekadar agenda rutin, tetapi ruang strategis untuk menghadirkan dampak nyata. “Harapannya betul-betul memberi dampak bagi mahasiswa, masyarakat, dan tentu kampus kita tercinta. Sejak 3 bulan sebelum pelaksaan mahasiswa sudah mengetahui kelompoknya, DPL, serta lokasi KKN, sehingga bisa merumuskan program sebaik mungkin. Selain itu, kami melakukan penataan pada sistem SIA KKN serta memperluas sebaran lokasi KKN agar lebih beragam” ujarnya.
Ia menambahkan, perbaikan juga menyasar aspek layanan dan perlengkapan, termasuk jaminan layanan kesehatan melalui BPJS. “Kami juga merancang sistem pembekalan yang lebih komprehensif dengan 10 kali pertemuan klasikal, agar mahasiswa benar-benar memiliki program yang matang dan siap saat diterjunkan ke lokasi KKN,” lanjutnya
Sementara itu. Wakil Rektor III bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama Prof. Dr. Abdur Rozaki, menempatkan KKN sebagai fase penting dalam perjalanan akademik mahasiswa. Menurutnya, pembelajaran selama beberapa semester di kampus mencapai puncaknya ketika ilmu yang dimiliki berjumpa dengan kebutuhan masyarakat.
“KKN menjadi pintu masuk untuk mendalami khazanah kebudayaan. Kita belajar di kampus, tetapi puncak pengetahuan terjadi ketika ilmu itu bertemu dengan realitas sosial,” ungkapnya.
Ia juga menekankan bahwa identitas keislaman UIN Sunan Kalijaga yang toleran harus hadir sebagai kekuatan di tengah masyarakat. Di tengah dunia yang masih menghadapi berbagai ketegangan, wacana keagamaan yang moderat dan berorientasi pada pendekatan anti-kekerasan menjadi kebutuhan mendesak.
“Inovasi yang dilakukan melalui KKN diharapkan menjadi wujud rahmatan lil ‘alamin. Karena itu, mahasiswa harus menyiapkan mental, semangat, serta membangun kolaborasi dengan masyarakat,” tambahnya.
Mengakhiri pidatonya, ia menyebut KKN sebagai ruang pembelajaran kepemimpinan. “Semoga KKN ini menjadi pintu bagi Anda untuk menjadi pemimpin Indonesia dan bahkan pemimpin dunia,” pungkasnya.
Sementara itu, Rektor UIN Sunan Kalijaga, Prof. Noorhaidi Hasan, menyebut KKN tahun ini sebagai bagian dari pembaruan menyeluruh yang tengah dilakukan kampus. “Ini KKN yang luar biasa, KKN yang istimewa,” ujarnya.
Menurutnya, KKN tidak lagi hanya dipahami sebagai program pengabdian, tetapi juga sebagai ruang inovasi dan pengembangan pendidikan. Ia mencontohkan keragaman lokasi KKN sebagai laboratorium sosial yang kaya, seperti Bali dengan karakteristik keberagaman, hingga Bengkulu yang memiliki pengalaman panjang dalam dinamika konflik komunal.
Di hadapan ribuan mahasiswa, ia berpesan agar KKN dijalani dengan kesungguhan. “Mahasiswa harus bangga menjadi bagian dari UIN Sunan Kalijaga. Bekali diri Anda, junjung tinggi norma agama, kebangsaan, dan etika. Jangan sampai ada anomali dalam perilaku,” tegasnya.
Perlu diketahui, bahwa KKN tahun ini tidak hanya dilaksanakan di dalam negeri, tetapi juga merambah tingkat global. Sebanyak 20 mahasiswa akan mengikuti KKN luar negeri di Malaysia, Thailand, Jepang, dan Korea Selatan, masing-masing lima mahasiswa per negara melalui proses seleksi.
Sementara itu, untuk KKN luar Jawa, mahasiswa akan ditempatkan di sejumlah wilayah seperti Sumba Barat Daya (NTT), Bireuen (Aceh), Karangasem (Bali), Morowali (Maluku Tengah), dan Sintang (Kalimantan Barat), dengan masing-masing 2 kelompok untuk setiap wilayah. Sementara itu, ribuan mahasiswa lainnya tersebar di berbagai wilayah di DIY dan luar DIY.
Ekspansi wilayah ini menunjukkan arah baru KKN sebagai ruang pengabdian yang tidak hanya lokal, tetapi juga nasional dan global.
Di tengah transformasi yang terus berlangsung, KKN UIN Sunan Kalijaga 2026 menjadi lebih dari sekadar program akademik. Ia adalah jembatan antara ilmu dan kemanusiaan, ruang di mana mahasiswa tidak hanya belajar memberi, tetapi juga belajar memahami. Dari sanalah, harapan tentang kampus yang unggul dan terkemuka di dunia perlahan menemukan pijakannya.(humassk)