WhatsApp Image 2026-04-28 at 15.32.09.jpeg

Selasa, 28 April 2026 16:04:00 WIB

0

Belajar dari UIN Sunan Kalijaga, STABN Raden Wijaya Wonogiri Dalami Transformasi Tata Kelola Keuangan Menuju BLU

Yogyakarta — Upaya memperkuat tata kelola keuangan yang adaptif dan profesional terus dilakukan perguruan tinggi keagamaan di Indonesia. Salah satunya ditunjukkan oleh Sekolah Tinggi Agama Buddha Negeri (STABN) Raden Wijaya Wonogiri yang melakukan kunjungan benchmarking ke Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Selasa (28/4/2026).

Kunjungan ini diterima langsung oleh Rektor UIN Sunan Kalijaga bersama Kepala Biro Administrasi Umum, Perencanaan, dan Keuangan (AUK), Dr. Ali Shodiq, beserta jajaran. Pertemuan ini menjadi ruang berbagi pengalaman strategis, khususnya terkait pengelolaan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) serta transformasi kelembagaan dari satuan kerja (satker) menuju Badan Layanan Umum (BLU).

Delegasi dari STABN Raden Wijaya Wonogiri dipimpin oleh Dr. Lery Prasetyo, M.A., didampingi oleh Dr. Widia Darma, M.Pd., Heru Wiyanto, S.Ag., M.Pd., Ichwan Wijayanto, S.IP., M.A.P., serta Wawan Kresna Haryanto, S.Pd.B. Kehadiran tim ini mencerminkan keseriusan institusi dalam menggali praktik terbaik pengelolaan keuangan dan tata kelola kelembagaan yang telah dijalankan UIN Sunan Kalijaga.

Benchmarking ini dilakukan sebagai bagian dari ikhtiar STABN Raden Wijaya Wonogiri dalam meningkatkan kualitas tata kelola keuangan yang lebih fleksibel, mandiri, dan berorientasi pada penguatan layanan pendidikan.

Dalam forum tersebut, Kepala Biro AUK UIN Sunan Kalijaga, Dr. Ali Shodiq, menekankan bahwa transformasi dari satker ke BLU bukan sekadar perubahan administratif, tetapi perubahan paradigma dalam pengelolaan institusi.

“Banyak hal yang perlu diperhatikan ketika sebuah lembaga bertransformasi menjadi BLU. Mulai dari pengelolaan keuangan, pengelolaan aset negara (BMN), hingga aspek akademik dan kemahasiswaan. Semua itu harus berjalan secara terintegrasi,” jelasnya.

Ia menambahkan, status BLU menuntut lembaga untuk lebih inovatif dan kreatif dalam mengelola sumber daya. Hal ini karena tidak seluruh kebutuhan pembiayaan dapat ditopang oleh negara.

“BLU dituntut untuk lebih mandiri. Tidak semua belanja ditanggung negara, sehingga diperlukan inovasi dalam mencari sumber pendanaan alternatif agar institusi tetap dapat berkembang,” imbuhnya.

Rektor UIN Sunan Kalijaga dalam kesempatan tersebut turut membagikan pengalaman institusinya pasca bertransformasi menjadi BLU. Ia menyampaikan bahwa perubahan status tersebut membawa dampak signifikan, terutama dari sisi peningkatan pendapatan.

“Pengalaman kami menunjukkan bahwa setelah menjadi BLU, pendapatan institusi mengalami peningkatan yang cukup signifikan dari tahun ke tahun. Pengelolaan keuangan menjadi lebih fleksibel dan mandiri, meskipun harus diimbangi dengan kerja keras untuk mencapainya,” ungkapnya.

Namun demikian, Rektor menegaskan bahwa kemandirian finansial tidak boleh mengorbankan akses pendidikan. UIN Sunan Kalijaga, menurutnya, tetap berkomitmen menjadi kampus yang inklusif dan dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat.

“Kami terus berupaya agar tidak membebani mahasiswa melalui UKT. Komitmen kami adalah menjadi kampus rakyat, yang tetap terbuka bagi semua golongan ekonomi,” tegasnya.

Sebagai bagian dari strategi penguatan kemandirian, UIN Sunan Kalijaga mendorong pengembangan berbagai sumber pendapatan, mulai dari pembukaan program studi dan fakultas baru, hingga penguatan jejaring kerja sama.

Rencana pembukaan Fakultas Kedokteran, pengembangan program sarjana, magister, dan doktoral, menjadi salah satu langkah strategis untuk meningkatkan daya saing sekaligus mendukung keberlanjutan institusi.

Selain itu, Rektor juga mencontohkan bagaimana kerja sama eksternal mampu membuka peluang baru, seperti dalam program KKN UIN Sunan Kalijaga yang memungkinkan mahasiswa menjalankan pengabdian hingga luar Pulau Jawa bahkan ke luar negeri.

“Sebagai BLU, kita harus aktif mencari sumber-sumber pendanaan lain, termasuk melalui unit usaha dan kerja sama. Ini menjadi kunci agar institusi tetap tumbuh tanpa membebani mahasiswa,” jelasnya.

Ia juga menekankan bahwa inovasi tidak hanya dibutuhkan dalam pengelolaan keuangan, tetapi juga dalam pengembangan akademik.

“Pengembangan kurikulum yang adaptif membutuhkan kreativitas dan jejaring yang kuat. Di situlah peran inovasi menjadi sangat penting,” tambahnya.

Menutup paparannya, Rektor memberikan pesan optimistis kepada seluruh peserta benchmarking.

“Menjadi BLU memang menuntut effort yang lebih besar, tetapi yakinlah, kalau ada kemauan pasti ada jalan,” tuturnya.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi dialog antar unit, mencakup bidang akademik, kemahasiswaan, hingga pengelolaan Barang Milik Negara (BMN), sebagai bentuk pendalaman praktik baik yang dapat direplikasi di STABN Raden Wijaya Wonogiri.