Yogyakarta — Upaya memperkuat tata
kelola keuangan yang adaptif dan profesional terus dilakukan perguruan tinggi
keagamaan di Indonesia. Salah satunya ditunjukkan oleh Sekolah Tinggi Agama
Buddha Negeri (STABN) Raden Wijaya Wonogiri yang melakukan kunjungan
benchmarking ke Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta,
Selasa (28/4/2026).
Kunjungan ini diterima langsung oleh
Rektor UIN Sunan Kalijaga bersama Kepala Biro Administrasi Umum, Perencanaan,
dan Keuangan (AUK), Dr. Ali Shodiq, beserta jajaran. Pertemuan ini menjadi
ruang berbagi pengalaman strategis, khususnya terkait pengelolaan Penerimaan
Negara Bukan Pajak (PNBP) serta transformasi kelembagaan dari satuan kerja
(satker) menuju Badan Layanan Umum (BLU).
Delegasi dari STABN Raden Wijaya
Wonogiri dipimpin oleh Dr. Lery Prasetyo, M.A., didampingi oleh Dr. Widia
Darma, M.Pd., Heru Wiyanto, S.Ag., M.Pd., Ichwan Wijayanto, S.IP., M.A.P.,
serta Wawan Kresna Haryanto, S.Pd.B. Kehadiran tim ini mencerminkan keseriusan
institusi dalam menggali praktik terbaik pengelolaan keuangan dan tata kelola
kelembagaan yang telah dijalankan UIN Sunan Kalijaga.
Benchmarking ini dilakukan sebagai
bagian dari ikhtiar STABN Raden Wijaya Wonogiri dalam meningkatkan kualitas
tata kelola keuangan yang lebih fleksibel, mandiri, dan berorientasi pada
penguatan layanan pendidikan.
Dalam forum tersebut, Kepala Biro
AUK UIN Sunan Kalijaga, Dr. Ali Shodiq, menekankan bahwa transformasi dari
satker ke BLU bukan sekadar perubahan administratif, tetapi perubahan paradigma
dalam pengelolaan institusi.
“Banyak hal yang perlu diperhatikan
ketika sebuah lembaga bertransformasi menjadi BLU. Mulai dari pengelolaan
keuangan, pengelolaan aset negara (BMN), hingga aspek akademik dan
kemahasiswaan. Semua itu harus berjalan secara terintegrasi,” jelasnya.
Ia menambahkan, status BLU menuntut
lembaga untuk lebih inovatif dan kreatif dalam mengelola sumber daya. Hal ini
karena tidak seluruh kebutuhan pembiayaan dapat ditopang oleh negara.
“BLU dituntut untuk lebih mandiri.
Tidak semua belanja ditanggung negara, sehingga diperlukan inovasi dalam
mencari sumber pendanaan alternatif agar institusi tetap dapat berkembang,”
imbuhnya.
Rektor UIN Sunan Kalijaga dalam
kesempatan tersebut turut membagikan pengalaman institusinya pasca
bertransformasi menjadi BLU. Ia menyampaikan bahwa perubahan status tersebut
membawa dampak signifikan, terutama dari sisi peningkatan pendapatan.
“Pengalaman kami menunjukkan bahwa
setelah menjadi BLU, pendapatan institusi mengalami peningkatan yang cukup
signifikan dari tahun ke tahun. Pengelolaan keuangan menjadi lebih fleksibel
dan mandiri, meskipun harus diimbangi dengan kerja keras untuk mencapainya,”
ungkapnya.
Namun demikian, Rektor menegaskan
bahwa kemandirian finansial tidak boleh mengorbankan akses pendidikan. UIN
Sunan Kalijaga, menurutnya, tetap berkomitmen menjadi kampus yang inklusif dan
dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat.
“Kami terus berupaya agar tidak
membebani mahasiswa melalui UKT. Komitmen kami adalah menjadi kampus rakyat,
yang tetap terbuka bagi semua golongan ekonomi,” tegasnya.
Sebagai bagian dari strategi
penguatan kemandirian, UIN Sunan Kalijaga mendorong pengembangan berbagai
sumber pendapatan, mulai dari pembukaan program studi dan fakultas baru, hingga
penguatan jejaring kerja sama.
Rencana pembukaan Fakultas
Kedokteran, pengembangan program sarjana, magister, dan doktoral, menjadi salah
satu langkah strategis untuk meningkatkan daya saing sekaligus mendukung
keberlanjutan institusi.
Selain itu, Rektor juga mencontohkan
bagaimana kerja sama eksternal mampu membuka peluang baru, seperti dalam
program KKN UIN Sunan Kalijaga yang memungkinkan mahasiswa menjalankan
pengabdian hingga luar Pulau Jawa bahkan ke luar negeri.
“Sebagai BLU, kita harus aktif
mencari sumber-sumber pendanaan lain, termasuk melalui unit usaha dan kerja
sama. Ini menjadi kunci agar institusi tetap tumbuh tanpa membebani mahasiswa,”
jelasnya.
Ia juga menekankan bahwa inovasi
tidak hanya dibutuhkan dalam pengelolaan keuangan, tetapi juga dalam
pengembangan akademik.
“Pengembangan kurikulum yang adaptif
membutuhkan kreativitas dan jejaring yang kuat. Di situlah peran inovasi
menjadi sangat penting,” tambahnya.
Menutup paparannya, Rektor
memberikan pesan optimistis kepada seluruh peserta benchmarking.
“Menjadi BLU memang menuntut effort
yang lebih besar, tetapi yakinlah, kalau ada kemauan pasti ada jalan,”
tuturnya.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan
sesi dialog antar unit, mencakup bidang akademik, kemahasiswaan, hingga
pengelolaan Barang Milik Negara (BMN), sebagai bentuk pendalaman praktik baik
yang dapat direplikasi di STABN Raden Wijaya Wonogiri.