Asia, khususnya Asia Tenggara, tidak lagi dapat dipandang sebagai wilayah pinggiran dalam studi Islam global. Pandangan tersebut disampaikan oleh Verena Meyer dari Leiden Institute for Area Studies saat menjadi keynote speaker dalam Graduate Conference yang diselenggarakan oleh Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Dalam wawancara usai menyampaikan keynote bertajuk “Asia as a Privileged Space of Inquiry in Islamic Studies”, Verena menegaskan bahwa Asia menjadi ruang yang sangat penting untuk memahami perkembangan studi Islam kontemporer.
Menurutnya, salah satu alasan paling mendasar adalah faktor demografis. Asia Tenggara merupakan rumah bagi sebagian besar populasi Muslim dunia sehingga berbagai dinamika kehidupan Islam global banyak berlangsung di kawasan ini.
“Secara jumlah saja, Asia tidak bisa diabaikan sebagai pusat dunia Muslim,” ujarnya.
Namun, Verena menilai pentingnya Asia Tenggara tidak hanya terletak pada jumlah populasi Muslim. Ia menyoroti sejarah panjang masyarakat Muslim di kawasan ini dalam memikirkan makna menjadi Muslim di luar konteks budaya Arab.
Menurutnya, Indonesia dan Asia Tenggara memiliki pengalaman historis yang unik dalam menjalankan Islam di tengah konteks budaya, bahasa, lingkungan, sosial, dan ekonomi yang sangat berbeda dari Timur Tengah. Dari pengalaman tersebut lahir berbagai pemikiran dan refleksi yang hingga kini tetap relevan dalam studi Islam.
Verena juga menjelaskan bahwa perjumpaan antara tradisi Islam, budaya lokal, dan pengaruh Barat kerap melahirkan ketegangan maupun konflik. Namun, ketegangan tersebut justru menjadi ruang produktif untuk melahirkan refleksi-refleksi baru tentang identitas, relasi sosial, hingga hubungan manusia dengan Tuhan.
Berbicara mengenai generasi muda peneliti Islam, Verena mendorong mahasiswa dan peneliti muda untuk tetap kritis serta menjaga rasa ingin tahu dalam proses akademik.
“Salah satu hal yang paling penting adalah tetap penasaran dan tidak menerima begitu saja apa yang dikatakan orang lain,” ungkapnya.
Ia juga mengajak para mahasiswa pascasarjana untuk lebih peka terhadap berbagai krisis global saat ini, baik krisis politik maupun lingkungan, serta mempelajari bagaimana komunitas Muslim pada masa lalu menghadapi situasi-situasi sulit dalam sejarah mereka.
Lebih lanjut, Verena membagikan pengalamannya sebagai akademisi di Leiden University, sebuah institusi yang memiliki tradisi panjang dalam kajian Indonesia dan studi Islam. Berbeda dengan banyak universitas di Barat yang memisahkan kedua bidang tersebut, Leiden justru menghubungkannya dalam satu lingkungan akademik yang saling berkaitan.
Meskipun demikian, ia mengakui bahwa sejarah akademik Leiden tidak dapat dilepaskan dari warisan kolonial dan orientalisme. Karena itu, menurutnya, penting bagi akademisi di Leiden untuk secara sadar merefleksikan sejarah tersebut dan membangun dialog yang lebih bertanggung jawab bersama para akademisi Indonesia.
Terkait kolaborasi akademik antara universitas di Indonesia dan Eropa, Verena menilai kerja sama tersebut sangat penting dalam menciptakan produksi pengetahuan yang lebih setara dan inklusif. Setiap peneliti, menurutnya, membawa perspektif dan pengalaman yang berbeda ke dalam ruang akademik.
“Sebagai seseorang yang tidak tumbuh besar di Indonesia, ada banyak hal yang bisa saya pelajari, tetapi tidak saya alami secara langsung,” katanya.
Selain berbicara tentang akademik, Verena juga membagikan kisah kedekatannya dengan Indonesia, termasuk proses belajar Bahasa Indonesia sejak masa kuliah di Jerman hingga akhirnya menjalani studi di Jakarta dan berinteraksi langsung dengan lingkungan akademik Indonesia.
Menutup wawancara, Verena menyampaikan pesan kepada para peserta graduate conference yang tengah membangun karier akademik di bidang studi Islam.
“Tetaplah penasaran. Jangan menerima jawaban begitu saja. Dan jangan takut memikirkan hal-hal yang sulit,” pesannya. “Ketika sesuatu terasa sulit dipahami, justru di situlah hal tersebut layak untuk terus diteliti.” (humassk)