WhatsApp Image 2026-07-10 at 15.54.39.jpeg

Jumat, 10 Juli 2026 15:55:00 WIB

0

Dosen Prodi Kedokteran UIN Sunan Kalijaga Perkuat Peran sebagai Fasilitator Team-Based Learning

Mahasiswa Kedokteran perlu dibiasakan belajar secara mandiri, bekerja dalam tim, mengemukakan argumentasi, serta menerapkan pengetahuan untuk memecahkan persoalan klinis. Team-Based Learning (TBL), menjadi salah satu fokus dalam Workshop Tutor PBL dan Instruktur KKD Kamis (9/7/2026), di Gedung Fakultas Kedokteran.

Kegiatan ini diikuti oleh dosen dan laboran Program Studi Kedokteran UIN Sunan Kalijaga dengan menghadirkan tim Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro sebagai universitas pendamping. Workshop ini menjadi bagian dari rangkaian persiapan sistem pembelajaran kedokteran yang menempatkan mahasiswa sebagai pembelajar aktif untuk mengembangkan penalaran klinis, keterampilan kolaboratif, dan kemampuan pengambilan keputusan dalam praktik kedokteran.


Sebagai narasumber, dr. Muflihatul Muniroh, M.Si.Med., Ph.D., menjelaskan bahwa Team-Based Learning merupakan pendekatan pembelajaran yang menempatkan mahasiswa sebagai peserta aktif dalam proses belajar. Mahasiswa tidak hanya menerima penjelasan dosen, tetapi terlebih dahulu mempersiapkan diri, mempelajari referensi, memahami skenario, dan membawa pengetahuan awal tersebut ke dalam diskusi kelompok.

“Kompetensi yang telah ditentukan perlu diterjemahkan ke dalam proses pembelajaran yang terencana. Karena itu, dosen harus menyiapkan materi, menyusun skenario, menentukan referensi, dan merancang evaluasi kesiapan mahasiswa sebelum pembelajaran dimulai,” jelasnya.

Menurut dr. Liha, tes awal dalam TBL bukan semata-mata alat untuk memberi nilai. Hasilnya membantu dosen memetakan pemahaman mahasiswa, mengetahui bagian yang masih membutuhkan penjelasan, serta membuat pelaksanaan diskusi dan praktik menjadi lebih terarah.

Ketika mahasiswa datang dengan kesiapan yang memadai, lanjut Dr. Liha, proses pembelajaran dapat berlangsung lebih lancar. Mereka lebih berani menyampaikan pendapat, mengajukan pertanyaan, menanggapi pemikiran teman, dan menghubungkan konsep yang dipelajari dengan persoalan yang sedang dibahas.

Sebagai fasilitator, menurut dr. Liha,  dosen juga harus dapat mengarahkan mahasiswa menemukan referensi Referensi pada sumber-sumber akademik yang dapat dipertanggungjawabkan, terutama buku ajar dan sumber ilmiah yang relevan. Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya memperoleh informasi, tetapi sekaligus belajar mencari, menilai, dan menggunakan referensi secara tepat.

“Belajar dalam tim memang menjadi tantangan bagi mahasiswa. Namun, ketika prosesnya difasilitasi dengan baik, pembelajaran dapat berlangsung lebih menyenangkan dan membantu mereka memahami materi secara lebih mendalam dibandingkan belajar sendiri,” ujarnya.

Prinsip-prinsip tersebut sejalan dengan arah pengembangan pembelajaran di Program Studi Kedokteran UIN Sunan Kalijaga yang menempatkan Team-Based Learning sebagai salah satu pendekatan strategis dalam membangun kompetensi mahasiswa.

Kemampuan tersebut berkaitan erat dengan realitas pelayanan kesehatan yang melibatkan kerja kolaboratif lintas profesi. Dalam praktiknya, dokter tidak bekerja sendiri, tetapi berinteraksi dengan tenaga kesehatan lain, pasien, keluarga, dan masyarakat.

Karena itu, pembelajaran dalam kelompok tidak sekadar menjadi metode mengajar, tetapi juga ruang awal untuk membentuk budaya profesional. Mahasiswa dibiasakan mempersiapkan diri, berkontribusi dalam tim, menghargai pendapat, mempertanggungjawabkan argumentasi, dan melakukan refleksi terhadap proses belajar.

Pada akhirnya, Team-Based Learning tidak hanya mengubah cara dosen mengajar, tetapi juga mengubah cara mahasiswa belajar. Dari ruang diskusi itulah mahasiswa dibiasakan untuk datang dengan persiapan, berpikir bersama, menguji pemahaman, dan bertanggung jawab terhadap pengetahuan yang akan mereka gunakan dalam pelayanan kesehatan.(humassk)