WhatsApp Image 2026-07-09 at 16.31.26.jpeg

Jumat, 10 Juli 2026 16:03:00 WIB

0

Mantapkan Pembelajaran Keterampilan Klinis, Prodi Kedokteran UIN Sunan Kalijaga Siapkan Dosen sebagai Instruktur KKD

Kecakapan seorang dokter tidak cukup dibangun hanya melalui penguasaan teori. Pengetahuan medis harus diterjemahkan menjadi kemampuan melakukan prosedur klinis secara tepat, aman, dan percaya diri. Untuk memperkuat proses pembelajaran tersebut, Program Studi Kedokteran UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menyelenggarakan Workshop Instruktur Keterampilan Klinis Dasar (KKD), Kamis (9/7/2026), di Gedung Fakultas Kedokteran UIN Sunan Kalijaga.

Workshop ini menghadirkan tim Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro sebagai universitas pendamping dan diikuti oleh seluruh dosen serta laboran Program Studi Kedokteran UIN Sunan Kalijaga. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari penguatan kapasitas sumber daya manusia dalam mempersiapkan pembelajaran keterampilan klinis yang terstruktur, terukur, dan berorientasi pada kompetensi mahasiswa.


Salah satu narasumber, dr. Santoso, M.Si.Med., Sp.N., menjelaskan bahwa keterampilan memfasilitasi pembelajaran di laboratorium klinis merupakan kompetensi penting bagi dosen kedokteran. Dalam pendidikan dokter, mahasiswa tidak hanya dituntut memahami suatu tindakan, tetapi juga mampu menunjukkan dan melakukannya sesuai dengan standar yang telah ditetapkan.

“Target pembelajaran bukan sekadar mahasiswa mengetahui suatu prosedur. Mereka harus memahami caranya dan mampu menampilkannya dalam praktik. Sepintar apa pun mahasiswa, apabila tidak memiliki keterampilan melakukan tindakan klinis, kompetensinya belum utuh,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, dr. Santoso juga menekankan, kemampuan klinis tidak terbentuk secara instan. Keterampilan tumbuh melalui pengalaman, latihan yang berulang, serta pendampingan instruktur yang mampu memberikan ruang aman bagi mahasiswa untuk mencoba, melakukan kesalahan, mengevaluasi diri, dan memperbaiki performanya.

Karena itu, instruktur tidak hanya berperan sebagai pemberi penjelasan, tetapi juga sebagai fasilitator yang membangun keberanian mahasiswa untuk tampil. Mahasiswa perlu terus didorong agar meyakini bahwa keterampilan klinis dapat dipelajari selama mereka bersedia berlatih secara disiplin dan konsisten.

“Semakin sering suatu prosedur dilakukan, semakin terampil seseorang melakukannya. Bahkan untuk tindakan yang terlihat sederhana, pengulangan tetap menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran,” katanya.

Workshop tidak hanya diisi dengan pemaparan materi, tetapi juga terdapat simulasi pembelajaran di laboratorium keterampilan klinis. Secara bergantian, setiap dosen dan laboran menjalankan peran sebagai instruktur maupun mahasiswa. Melalui metode ini, peserta berlatih mendemonstrasikan prosedur, menguraikan setiap tahapan tindakan, memfasilitasi praktik mahasiswa, serta memberikan umpan balik secara tepat dan objektif.

Pergantian peran tersebut memungkinkan peserta memahami proses pembelajaran dari dua perspektif sekaligus. Saat menjadi instruktur, peserta dituntut mampu menyampaikan prosedur secara sistematis dan menciptakan suasana belajar yang mendorong mahasiswa berani mencoba. Sementara ketika berperan sebagai mahasiswa, peserta dapat merasakan secara langsung bentuk fasilitasi dan umpan balik yang efektif dalam membantu penguasaan keterampilan klinis.

Bagi UIN Sunan Kalijaga, workshop ini memiliki posisi strategis dalam membangun fondasi pendidikan kedokteran yang berkualitas. Sebagai prodi baru, kesiapan sarana pembelajaran harus berjalan beriringan dengan kesiapan dosen dan laboran dalam mengelola proses pendidikan berbasis kompetensi.

Kualitas lulusan kedokteran sangat dipengaruhi oleh mutu interaksi pembelajaran sejak tahap awal. Dosen yang mampu memfasilitasi keterampilan klinis secara sistematis akan membantu mahasiswa menghubungkan pengetahuan teoretis dengan tindakan nyata, sekaligus menanamkan prinsip keselamatan pasien, ketelitian, komunikasi, etika, dan tanggung jawab profesional.

Kolaborasi dengan Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro juga menunjukkan bahwa pengembangan Prodi Kedokteran UIN Sunan Kalijaga dilakukan melalui proses pendampingan akademik dan transfer pengalaman dari institusi yang telah memiliki ekosistem pendidikan kedokteran yang matang.

Melalui pendampingan tersebut, standar pembelajaran tidak dibangun berdasarkan asumsi, tetapi mengacu pada praktik baik pendidikan kedokteran, kebutuhan kompetensi profesi, serta tuntutan pelayanan kesehatan yang terus berkembang..

Workshop ini menjadi bagian penting dalam menyiapkan sistem pembelajaran yang selaras dengan kekhasan Fakultas Kedokteran UIN Sunan Kalijaga. Pendidikan kedokteran dikembangkan dengan orientasi promotif dan preventif, terutama untuk merespons persoalan kesehatan lansia, penyakit degeneratif, dan gangguan muskuloskeletal melalui pendekatan yang holistik.

Orientasi tersebut menuntut proses pendidikan yang tidak hanya menguatkan penguasaan pengetahuan, tetapi juga membentuk keterampilan klinis, ketepatan tindakan, kepekaan etik, dan tanggung jawab profesional. Sebab, kompetensi seorang dokter pada akhirnya tidak hanya tercermin dari apa yang diketahuinya, tetapi juga dari kemampuannya mengambil tindakan secara tepat, bersikap matang, dan menjaga keselamatan pasien dalam setiap pelayanan.(humassk)