Sebuah program studi tidak lahir dalam semalam. Di balik berdirinya Program Studi Kedokteran terdapat perjalanan panjang yang diwarnai penyusunan kurikulum, pemenuhan standar mutu, penyiapan sumber daya manusia, pengembangan sarana pembelajaran, hingga kerja kolektif berbagai pihak. Seluruh proses tersebut berlangsung melalui tahapan yang berkesinambungan sebelum akhirnya memperoleh legitimasi sebagai sebuah program studi yang siap menyelenggarakan pendidikan kedokteran.
Tonggak penting dari perjalanan itu hadir ketika Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia menerbitkan Surat Keputusan Nomor 490/B/O/2026 tentang Izin Pembukaan Program Studi Kedokteran Program Sarjana dan Program Studi Pendidikan Profesi Dokter Program Profesi pada 5 Mei 2026.
Terbitnya keputusan tersebut menjadi tonggak penting bagi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta untuk memasuki fase berikutnya, yakni membuka pintu bagi calon mahasiswa angkatan pertama. Jalur Mandiri Gelombang I dibuka pada 29 Mei hingga 29 Juni 2026. Di tengah proses penerimaan itu, Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Nasaruddin Umar, meresmikan peluncuran Program Studi Kedokteran UIN Sunan Kalijaga pada 4 Juni 2026 sebagai penanda dimulainya perjalanan institusi dalam menyelenggarakan pendidikan kedokteran dengan kekhasan pendekatan promotif dan preventif terhadap penyakit muskuloskeletal, khususnya pada kelompok lanjut usia (geriatri).
Seleksi kemudian berlangsung secara bertahap. Computer Based Test (CBT) Gelombang I diselenggarakan pada 1–2 Juli 2026 dan diikuti rangkaian tahapan seleksi berikutnya sesuai ketentuan. Antusiasme masyarakat tidak surut. Jalur Mandiri Gelombang II kembali dibuka pada 9–31 Juli 2026, sementara CBT gelombang kedua dilaksanakan pada Senin (3/8/2026). Rangkaian inilah yang menandai bahwa sebuah ikhtiar panjang kini mulai bertransformasi menjadi ruang belajar bagi calon dokter angkatan pertama UIN Sunan Kalijaga.
Bagi dr. Murtafiqoh Hasanah, dosen Program Studi Kedokteran UIN Sunan Kalijaga yang terlibat sejak proses pendirian program studi, perjalanan tersebut menghadirkan rasa syukur sekaligus haru.
"Perjalanan mendirikan Program Studi Kedokteran bukanlah proses yang singkat dan mudah. Banyak tahapan yang harus dilalui, mulai dari penyusunan kurikulum, pemenuhan berbagai persyaratan akademik dan sarana prasarana, hingga proses penjaminan mutu yang melibatkan banyak pihak. Melihat saat ini proses penerimaan calon mahasiswa baru telah memasuki gelombang kedua menjadi salah satu penanda bahwa ikhtiar panjang tersebut mulai membuahkan hasil," ujarnya.
Menurutnya, setiap calon mahasiswa yang mendaftar bukan sekadar memenuhi kuota penerimaan, melainkan amanah yang harus dipersiapkan melalui sistem pendidikan terbaik. Oleh karena itu, Prodi Kedokteran UIN Sunan Kalijaga tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga pembentukan karakter dan integritas calon dokter.
"Kami berharap kehadiran mereka menjadi awal lahirnya dokter-dokter yang unggul secara akademik, profesional dalam pelayanan, serta memiliki integritas dan nilai-nilai keislaman yang kuat," tambahnya.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui berbagai persiapan yang telah dilakukan sejak sebelum program studi memperoleh izin operasional. “Kami telah menyusun kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE) yang mengacu pada Standar Kompetensi Dokter Indonesia dan perkembangan pendidikan kedokteran terkini. Selain itu, sumber daya dosen, laboratorium, fasilitas pembelajaran, sistem pembelajaran digital, serta jejaring rumah sakit pendidikan dan wahana pembelajaran klinik juga telah dipersiapkan secara bertahap.” ujarnya
Bagi sosok yang akrab disapa dr. Fika ini, kesiapan sebuah program studi juga ditentukan oleh komitmen seluruh sivitas akademika untuk terus melakukan penyempurnaan.
"Kami memiliki semangat yang sama untuk memberikan pengalaman belajar terbaik bagi mahasiswa angkatan pertama. Memang akan selalu ada proses penyempurnaan dalam setiap program baru, namun kami memiliki sistem evaluasi dan penjaminan mutu yang akan memastikan proses pembelajaran terus berkembang dan semakin baik," jelasnya.
Untuk itu, ia juga mengajak para calon mahasiswa untuk memandang status sebagai angkatan pertama bukan sebagai alasan untuk ragu, melainkan sebagai kesempatan berharga untuk menjadi bagian dari sejarah.
"Menjadi angkatan pertama bukanlah sesuatu yang perlu dikhawatirkan, tetapi justru merupakan sebuah kesempatan yang sangat berharga. Kalian akan menjadi bagian dari sejarah lahirnya Program Studi Kedokteran ini dan menjadi generasi yang akan membangun budaya akademik, tradisi keilmuan, serta identitas program studi di masa depan," ungkapnya.
Ia juga menuturkan bahwa seluruh dosen dan tenaga kependidikan telah berkomitmen mendampingi mahasiswa secara optimal selama proses pendidikan berlangsung. Bahkan, masukan dari mahasiswa akan menjadi bagian penting dalam penyempurnaan sistem pembelajaran sehingga kualitas pendidikan dapat terus meningkat dari waktu ke waktu.
"Datanglah dengan semangat belajar, rasa ingin tahu yang tinggi, disiplin, dan kesiapan untuk bertumbuh. Pendidikan kedokteran adalah perjalanan panjang yang membutuhkan kerja keras, kolaborasi, serta integritas. InsyaAllah, apabila dijalani dengan sungguh-sungguh, mahasiswa angkatan pertama akan menjadi lulusan yang tidak hanya kompeten sebagai dokter, tetapi juga menjadi kebanggaan almamater dan masyarakat," pungkasnya.
Masuknya proses seleksi ke gelombang kedua menjadi tonggak penting dalam perjalanan Program Studi Kedokteran UIN Sunan Kalijaga. Momentum ini menandai dimulainya proses membangun ekosistem pendidikan kedokteran yang berorientasi pada mutu, kolaborasi, dan pengabdian kepada masyarakat. Dari angkatan pertama inilah fondasi budaya akademik akan dibangun, sekaligus melahirkan dokter-dokter yang diharapkan mampu menghadirkan layanan kesehatan yang profesional, humanis, dan berlandaskan nilai-nilai keislaman di tengah kebutuhan masyarakat yang terus berkembang.(humassk)