Persoalan sampah harus ditangani dari hulu, berangkat dari kesadaran, dibentuk menjadi kebiasaan, dan ditanamkan sejak di ruang-ruang belajar. Di titik inilah peran generasi muda menjadi krusial. Di tangan yang tepat, siswa dapat menjelma sebagai aktor perubahan yang membentuk pola hidup ramah lingkungan di masa depan.
Kesadaran itulah yang menjadi pijakan Tim KKN Angkatan 120 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta saat menggelar praktik pengolahan limbah organik rumah tangga menjadi pupuk organik cair (POC) di SMAN 1 Sintang, Kalimantan Barat, Jumat (7/8/2026). Menyasar siswa bukan tanpa alasan, karena perubahan perilaku paling efektif dibangun sejak dini, ketika kebiasaan masih lentur untuk dibentuk.
Sebanyak kurang lebih 250 siswa terlibat dalam kegiatan yang merupakan bagian dari kolaborasi antara Tim KKN UIN Sunan Kalijaga dengan pihak sekolah, sekaligus integrasi Program P8 SMAN 1 Sintang. Program ini dirancang tidak hanya memberi pemahaman, tetapi juga pengalaman langsung dalam mengelola sampah secara bertanggung jawab.
Ketua KKN, Mufid menuturkan bahwa selama tiga minggu pelaksanaan, pendekatan dilakukan secara bertahap. Pada minggu pertama, tim KKN memulai dengan sosialisasi pilah lah sampah yang dilanjutkan dengan “Operasi Semut”, gerakan sederhana untuk menumbuhkan kesadaran menjaga kebersihan lingkungan sekolah.
Memasuki minggu kedua, lanjut Mufid, kegiatan bergerak ke ranah yang lebih aplikatif. Sosialisasi pemilahan botol plastik bernilai guna menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan konsep ekonomi sirkular kepada siswa. Dalam sesi ini, Mufid menekankan bahwa sampah plastik memiliki nilai ekonomi jika dikelola dengan benar.
“Botol plastik sebaiknya dipilah berdasarkan bagian—tutup, label, dan badan botol. Selain itu harus dalam kondisi bersih dan bebas dari sisa minuman agar memiliki nilai jual lebih baik saat disetorkan ke pengepul,” ujarnya.
Dari pemilahan sampah anorganik, kegiatan berlanjut pada pemanfaatan limbah organik melalui praktik pembuatan pupuk organik cair. Anggota tim KKN lainnya, Almuhajirin menjelaskan konsep dasar POC sebagai solusi sederhana pengelolaan limbah rumah tangga.
“Alat dan bahan yang digunakan relatif sederhana dan mudah dijangkau. Peralatan meliputi gunting, lem, galon bekas, botol bekas, dan selang. Sementara bahan utama berasal dari limbah sehari-hari seperti air cucian beras, sisa sayuran, dan kulit buah, yang kemudian dipadukan dengan EM4 dan molase untuk mendukung proses fermentasi,” jelasnya.
Proses dimulai dari perakitan alat fermentasi sederhana menggunakan galon dan botol bekas yang dihubungkan dengan selang sebagai saluran pembuangan gas. Setelah itu, peserta memasukkan satu liter air cucian beras, ditambah empat tutup botol molase dan empat tutup botol EM4. Campuran tersebut diaduk dan didiamkan sekitar 15 menit sebelum limbah organik yang telah dicacah dimasukkan.
Selanjutnya, ditambahkan kembali sekitar dua liter air cucian beras, lalu seluruh campuran dikocok hingga merata. Pupuk organik cair tersebut kemudian difermentasikan selama kurang lebih dua minggu sebelum siap digunakan.
“Perawatan selama proses permentasi menjadi penting. Wadah tidak boleh terkena sinar matahari langsung, harus disimpan di tempat teduh, serta perlu dikocok setiap hari agar proses berjalan optimal,” pungkasnya.
Tindakan yang dilakukan oleh tim KKN UIN Sunan Kalijaga ini selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya pada konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab (SDG 12). Edukasi pemilahan sampah dan pengolahan limbah organik menjadi pupuk organik cair menunjukkan bahwa solusi lingkungan tidak selalu membutuhkan teknologi rumit, tetapi dapat dimulai dari praktik sehari-hari yang relevan dengan konteks lokal.
Sepintas, persoalan sampah kerap dipandang sebagai hal kecil dalam keseharian. Namun dalam akumulasi yang terus berlangsung, ia menjelma menjadi persoalan lingkungan yang tidak sederhana. Dalam konteks inilah, keterlibatan Tim KKN UIN Sunan Kalijaga menemukan relevansinya, hadir melalui langkah-langkah yang mungkin tampak sederhana, tetapi berangkat dari praktik yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Pendekatan semacam ini membuka ruang bagi tumbuhnya kebiasaan baru dalam memandang dan mengelola sampah. Di titik itu, peran perguruan tinggi hadir menjadi bagian dari upaya bersama dalam mengurai limbah dan mengolahnya menjadi sesuatu yang bernilai guna.(humassk)