WhatsApp Image 2026-08-17 at 11.20.32.jpeg

Senin, 17 Agustus 2026 11:04:00 WIB

0

HUT Ke-81 RI, UIN Sunan Kalijaga Teguhkan Pengabdian dan Kerukunan di Tengah Kemajuan Teknologi

Semangat kemerdekaan terasa hidup di halaman Gedung PAU UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Senin (17/8/2026). Dalam balutan pakaian adat dari berbagai penjuru Nusantara, sivitas akademika dan para pegawai berdiri dalam satu barisan, menghadirkan potret keberagaman yang menyatu dalam penghormatan kepada perjuangan para pendahulu bangsa


Upacara diikuti jajaran pimpinan, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, serta sivitas akademika UIN Sunan Kalijaga. Rektor UIN Sunan Kalijaga, Prof. Noorhaidi Hasan, bertindak sebagai pembina upacara sekaligus membacakan amanat Menteri Agama Republik Indonesia.

Dalam amanat tersebut ditegaskan bahwa kemerdekaan Indonesia bukanlah hadiah, melainkan buah dari perjuangan, pengorbanan, darah, air mata, dan doa para pendahulu bangsa. Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 juga menegaskan bahwa kemerdekaan terjadi atas berkat rahmat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa.


Karena itu, kemerdekaan tidak cukup dirayakan sebagai peristiwa historis. Kemerdekaan merupakan amanah yang perlu diwujudkan melalui pengembangan ilmu pengetahuan, kerja keras, integritas, inovasi, dan pengabdian.

Memasuki usia kemerdekaan ke-81, masyarakat diajak melanjutkan perjuangan para pahlawan melalui peran yang relevan dengan tantangan zaman. Jika dahulu kemerdekaan diperjuangkan dengan mengangkat senjata dan mempertaruhkan nyawa, hari ini perjuangan dilakukan dengan mengembangkan ilmu pengetahuan, menjaga integritas, merawat kerukunan, serta memanfaatkan teknologi bagi kemanusiaan dan kelestarian alam.

Kerukunan sebagai modal pembangunan

Dalam amanatnya, Rektor juga menempatkan kerukunan sebagai modal utama pembangunan Indonesia yang tumbuh di tengah keberagaman. Capaian Indeks Kerukunan Umat Beragama yang meningkat dari 76,47 pada 2024 menjadi 77,89 pada 2025 perlu terus dijaga dengan menjadikan agama sebagai sumber pencerahan, kedamaian, dan kemaslahatan.


“Jangan biarkan perbedaan menjadi alasan untuk bermusuhan. Jangan biarkan agama menjadi alasan untuk saling menjauh. Jadikan agama dan nilai-nilainya sebagai jalan untuk saling menguatkan dan memberikan makna bagi kehidupan,” pesannya.

Pesan tersebut sekaligus mengingatkan bahwa keberagaman membutuhkan kesediaan untuk saling menghormati dan bekerja sama. Tanpa kerukunan, energi bangsa akan terkuras oleh konflik. Sebaliknya, ketika perbedaan dirawat sebagai kekuatan, pembangunan dapat bergerak lebih kokoh dan berkelanjutan.

Amanat yang disampaikan Rektor dalam upacara juga turut menyoroti perkembangan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) yang telah mengubah cara manusia belajar dan bekerja. Kemajuan teknologi harus diimbangi dengan kebijaksanaan, akhlak, serta penguatan literasi digital dan keagamaan.


Tanpa fondasi tersebut, teknologi dapat disalahgunakan untuk menyebarkan kebohongan, kebencian, dan perpecahan. Sebaliknya, apabila dikelola secara bertanggung jawab, teknologi dapat menjadi instrumen untuk memperluas akses pendidikan, mempercepat pelayanan, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“AI boleh semakin cerdas, tetapi manusia harus tetap bijaksana. Teknologi boleh semakin maju, tetapi akhlak tidak boleh tertinggal,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Rektor juga menekankan bahwa mengisi kemerdekaan berarti menerjemahkan nilai-nilai agama menjadi kekuatan sosial yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat. Pada 2025, penghimpunan zakat tercatat mencapai Rp44,6 triliun dan memberikan dampak kepada lebih dari 149 juta penerima manfaat. Filantropi keagamaan lainnya, seperti kolekte, dana punia, paramita, dan shan-si, juga terus tumbuh sebagai kekuatan ekonomi umat yang memberdayakan.

Semangat tersebut juga diwujudkan melalui kepedulian terhadap masyarakat yang sedang menghadapi bencana. Rektor mengajak seluruh peserta upacara mendoakan warga di Nusa Tenggara Timur, Sumatera Utara, dan Sulawesi Tengah yang terdampak gempa bumi. Doa dipanjatkan bagi para korban yang meninggal dunia, mereka yang sedang menjalani perawatan, serta keluarga dan masyarakat yang membutuhkan ketabahan dan percepatan pemulihan, baik secara lahir maupun batin.

Penghargaan atas pengabdian pegawai

Rangkaian upacara juga diisi dengan penganugerahan Tanda Kehormatan Satyalancana Karya Satya kepada para pegawai UIN Sunan Kalijaga. Penghargaan tersebut diberikan berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 53/TK/Tahun 2026 yang ditetapkan pada 4 Agustus 2026.


Satyalancana Karya Satya diberikan sebagai penghargaan atas pengabdian pegawai yang bekerja dengan penuh kesetiaan kepada Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, negara, dan pemerintah. Para penerima juga dinilai telah menunjukkan kejujuran, kecakapan, dan kedisiplinan secara terus-menerus sehingga dapat menjadi teladan bagi pegawai lainnya.

Sebanyak enam pegawai menerima Satyalancana Karya Satya 30 Tahun, salah satunya Rektor UIN Sunan Kalijaga Prof. Noorhaidi Hasan. Satyalancana Karya Satya 20 Tahun diberikan kepada 10 pegawai, termasuk Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama Prof. Abdur Rozaki. Sementara itu, tiga pegawai memperoleh Satyalancana Karya Satya 10 Tahun.

Penganugerahan tanda kehormatan dilakukan oleh Ketua Senat Universitas yang didampingi Sekretaris Senat, Wakil Rektor Bidang Administrasi Umum, Perencanaan, dan Keuangan yang didampingi Wakil Rektor Bidang Akademik dan Pengembangan Kelembagaan, serta Kepala Biro Administrasi Umum dan Keuangan yang didampingi Kepala Biro Administrasi Akademik, Kemahasiswaan, dan Kerja Sama.

Penganugerahan tersebut menjadi penanda bahwa kemerdekaan juga dirawat melalui ketekunan dalam bekerja. Pengabdian yang dijalankan secara jujur, disiplin, dan konsisten merupakan bagian dari ikhtiar sehari-hari untuk mengisi kemerdekaan.

Melalui peringatan HUT Ke-81 Republik Indonesia, sivitas akademika UIN Sunan Kalijaga diajak menjadikan kemerdekaan sebagai energi untuk memperkuat kontribusi kepada masyarakat. Dengan ilmu pengetahuan, kerukunan, integritas, dan pemanfaatan teknologi yang berlandaskan akhlak, semangat perjuangan para pendahulu dapat terus dihidupkan dalam menjawab persoalan bangsa.(humassk)