WhatsApp Image 2026-08-19 at 16.54.11(1)(1).jpeg

Rabu, 19 Agustus 2026 15:05:00 WIB

0

PBAK UIN Sunan Kalijaga 2026, Kalijaga Muda Diajak Merawat Keberagaman dalam Bingkai Keislaman dan Keindonesiaan

Sebagai mahasiswa UIN Sunan Kalijaga, kemampuan memadukan nilai-nilai keislaman dengan semangat kebangsaan menjadi bekal penting untuk merawat keberagaman sekaligus menjawab berbagai persoalan sosial di tengah masyarakat. Atas dasar itu, moderasi beragama dalam bingkai keislaman dan keindonesiaan menjadi salah satu materi yang disampaikan kepada ribuan mahasiswa baru dalam rangkaian Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK), Rabu (19/8/2026), di Gedung Multipurpose kampus setempat.


Dalam kesempatan tersebut, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama UIN Sunan Kalijaga, Prof. Abdur Rozaki, mengajak mahasiswa baru memahami bahwa kemerdekaan Indonesia tidak dapat dilepaskan dari peran kaum muda terdidik. Kesadaran untuk membebaskan bangsa dari kolonialisme tumbuh melalui pendidikan, kekuatan gagasan, serta kemampuan merawat persatuan di tengah keragaman.

“Anak-anak muda saat itu mungkin tidak seluruhnya saling mengenal secara fisik. Namun, mereka dipertemukan oleh imajinasi yang sama, yakni menjadi bangsa yang merdeka. Semua etnisitas dan ideologi sosial melebur dalam satu platform bernama Sumpah Pemuda,” ujar Prof. Rozaki.

Semangat persatuan tersebut kemudian menjadi salah satu pijakan para pendiri bangsa dalam memilih Pancasila sebagai dasar negara. Pilihan itu, menurut Prof. Rozaki, memungkinkan seluruh warga negara memperoleh kedudukan yang setara, tanpa memandang agama, suku, maupun latar belakang sosialnya.

Ia mengaitkan prinsip tersebut dengan konsep kalimatun sawa’, yakni upaya menemukan titik temu di tengah perbedaan. Prinsip serupa tercermin dalam Piagam Madinah yang dibangun Nabi Muhammad SAW untuk mengatur kehidupan bersama berbagai kelompok dan komunitas agama dengan menjunjung perdamaian serta mencegah kekerasan.

“Walaupun umat Islam menjadi mayoritas, para pendiri bangsa memilih meletakkan kehidupan kebangsaan dalam kedudukan yang setara bagi seluruh warga negara. Pilihannya adalah Pancasila. Inilah salah satu syarat Indonesia menjadi negara modern,” tuturnya.

Menurut Prof. Rozaki, keberagaman bukanlah ancaman, melainkan modal sosial yang harus dikelola secara cakap. Banyak konflik di berbagai negara, kata dia, muncul ketika masyarakat dan negara gagal memberikan ruang yang adil bagi perbedaan.

“Tidak ada negara yang gagal karena mendukung keanekaragaman. Sebaliknya, banyak negara mengalami kegagalan karena bersikap anti terhadap keragaman. Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu mengelola keberagaman,” katanya.

Dalam konteks tersebut, Wakil Rektor III menyebut UIN Sunan Kalijaga sebagai miniatur Indonesia karena mempertemukan mahasiswa dari beragam wilayah, budaya, tradisi, dan latar belakang. Para mahasiswa baru pun didorong menjadikan ruang kampus sebagai tempat belajar hidup bersama sekaligus membangun cara pandang yang moderat.

Dalam hal ini Prof. Rozaki menjelaskan, moderasi beragama dapat dikenali melalui empat indikator utama, yaitu komitmen kebangsaan, toleransi, sikap antikekerasan, dan penerimaan terhadap tradisi. Agama, menurutnya, perlu ditempatkan sebagai sumber nilai yang menghadirkan jalan keluar atas berbagai persoalan kemanusiaan.

“Agama harus berada dalam satu tarikan napas dengan komitmen kebangsaan. Agama jangan dijadikan alat pemecah belah, tetapi harus hadir sebagai kekuatan untuk menyelesaikan persoalan,” pungkasnya.

Pesan tentang keberagaman tersebut tidak berhenti pada pemahaman konseptual. Melalui PBAK, mahasiswa baru juga didorong menerjemahkan pengetahuan, kepedulian, dan nilai-nilai kemanusiaan ke dalam kontribusi nyata. Semangat itu disampaikan Sofia Nurul Husna, alumnus sekaligus mahasiswa berprestasi UIN Sunan Kalijaga periode 2023–2025 dan pemenang Kalijaga Changemaker 2025.


Menurut Sofia, program Kalijaga Changemaker menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menerjemahkan pengetahuan dan kepedulian sosial menjadi kontribusi nyata. Mahasiswa didorong untuk peka terhadap persoalan di sekitarnya, kemudian mengolah keresahan tersebut menjadi gagasan, inovasi, dan solusi.

Sofia juga menceritakan pengalamannya mengikuti pertukaran mahasiswa ke Malaysia dengan mengangkat isu mengenai kelompok lanjut usia. Pengalaman tersebut berawal dari keresahan dan kepeduliannya terhadap persoalan sosial, yang kemudian terus dipupuk hingga berkembang menjadi sebuah gagasan.

Ia menilai UIN Sunan Kalijaga memberikan ruang dan dukungan luas bagi mahasiswa untuk berkembang. Kesempatan tersebut dapat dimanfaatkan melalui kegiatan akademik, kompetisi, program pertukaran mahasiswa, maupun organisasi kemahasiswaan yang sesuai dengan minat masing-masing.

“Prestasi memiliki cakupan yang sangat luas. Jika memiliki minat dalam organisasi, masuklah ke organisasi. Langkah pertama akan menjadi pijakan untuk memulai langkah-langkah berikutnya,” katanya.

Sofia pun mengajak para mahasiswa baru untuk berani memulai, menjaga tekad, serta tetap percaya pada potensi diri selama menjalani perkuliahan. Sebab, perjalanan akademik tidak semata-mata ditentukan oleh hasil akhir, tetapi juga oleh keberanian mengambil kesempatan, ketekunan menjalani proses, serta kepedulian untuk menghadirkan manfaat bagi sesama.(humassk)