Di tengah persiapan menuju PORSI JAWARA II, keberagaman talenta mahasiswa UIN Sunan Kalijaga terlihat dalam satu ruang. Mahasiswa yang terbiasa berlatih pukulan dan strategi di lapangan berdiri berdampingan dengan peserta Musabaqah Syarhil Qur’an (MSQ). Mereka yang berlatih membawakan naskah persidangan berbaur dengan mahasiswa dari cabang seni dan olahraga lainnya. Berbeda bidang yang ditekuni, tetapi sama-sama membawa semangat untuk memberikan yang terbaik bagi UIN Sunan Kalijaga.
Di balik satu nama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, ada hampir 100 mahasiswa dengan talenta dan cerita yang beragam. Mereka akan membawa nama almamater dalam Pekan Olahraga, Seni, dan Ilmiah Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PORSI JAWARA) II di UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan, 9–13 September 2026.
Sebanyak 96 mahasiswa UIN Sunan Kalijaga akan memperkuat kontingen pada 23 cabang lomba dalam PORSI JAWARA II 2026. Keragaman cabang yang diikuti menunjukkan luasnya talenta mahasiswa UIN Sunan Kalijaga, mulai dari olahraga, seni, keislaman, hingga bidang ilmiah dan akademik.
Di bidang olahraga, mahasiswa UIN Sunan Kalijaga akan berlaga dalam Bola Voli, Bulu Tangkis, Panjat Dinding, Catur, Futsal, Taekwondo, Tenis Meja, dan Pencak Silat Seni. Sementara itu, pada cabang seni dan keislaman, mereka akan berkompetisi dalam Kaligrafi, MHQ, MTQ, MFQ, MSQ, Pop Solo Islami Putra/Putri, serta Da’i-Da’iyah.
Talenta akademik dan kemampuan berpikir kritis juga mendapat ruang melalui LKTI, Debat Bahasa Inggris, Debat Konstitusi, Peradilan Semu (Moot Court), dan Inovasi Media Pembelajaran. Keragaman ini menjadi gambaran bahwa prestasi mahasiswa UIN Sunan Kalijaga tumbuh dari berbagai minat, kemampuan, dan latar belakang.
Masing-masing memiliki arena, tantangan, dan cara berjuang yang berbeda. Namun, ada satu hal yang mempertemukan mereka: keinginan memberikan yang terbaik untuk UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Kegiatan Peningkatan Kapasitas Kontingen PORSI JAWARA II yang berlangsung di Omah Kecebong, Sleman, Kamis (3/9/2026), menjadi salah satu ruang yang mempertemukan mereka. Mahasiswa dari berbagai cabang berkenalan, bermain, dan membangun kebersamaan melalui kegiatan team building.
Salah satunya adalah Dwi Nurlitasari, mahasiswa Pendidikan Fisika yang akan turun di cabang bulu tangkis ganda putri. PORSI JAWARA II menjadi keikutsertaan keduanya setelah tahun sebelumnya ia juga memperkuat kontingen UIN Sunan Kalijaga.
Tahun lalu, Lita belum berhasil membawa pulang piala. Pengalaman tersebut justru menjadi alasan baginya untuk kembali mencoba.
“Karena yang tahun lalu tidak membawa piala, jadi di tahun ini saya berharap bisa berkontribusi untuk membawa piala untuk UIN,” ujarnya.
Bulu tangkis bukan olahraga yang baru bagi Lita. Ia telah mengenalnya sejak kecil dari lingkungan keluarga. Dari sekadar mengikuti orang tua bermain, ia kemudian diarahkan untuk berlatih di sekolah bulu tangkis sejak kelas 3 SD.
Berbagai turnamen pernah diikutinya. Salah satu pencapaian yang paling berkesan diraih ketika menjadi juara pertama ganda putri dalam kompetisi antarmahasiswa se-DIY.
Perjalanan itu sempat terhenti ketika ia mengalami cedera saat SMA. Ketika memasuki UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Lita bahkan sempat ragu untuk kembali bermain. Ajakan teman akhirnya membawanya kembali ke lapangan. Ia bergabung dengan UKM Bulu Tangkis dan kembali menemukan kesenangannya terhadap olahraga yang telah menjadi bagian dari hidupnya sejak kecil.
Kini, persiapannya jauh lebih matang dibanding tahun sebelumnya. Latihan dilakukan lebih panjang dengan perhatian pada fisik, mental, kesehatan, strategi, hingga kekompakan dengan pasangan ganda putri.
Bagi Lita, kesempatan mewakili UIN Sunan Kalijaga juga berarti membawa kepercayaan dari teman-teman yang belum berkesempatan lolos seleksi.
“Bagi saya, saya dipercayai teman-teman saya yang tidak lolos seleksi untuk bisa berjuang, bisa mewakili teman-teman saya,” katanya.
Targetnya pun jelas: memberikan yang terbaik dan membawa pulang kemenangan untuk almamater.
Cerita berbeda datang dari Muhammad Satrio Mufid Favendi, mahasiswa Bimbingan Konseling Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi. Tahun ini, Mufid akan tampil dalam cabang Musabaqah Syarhil Qur’an (MSQ).
PORSI JAWARA bukan pengalaman pertamanya. Pada PORSI JAWARA I di Jember, ia mengikuti cabang Da’i. Tahun ini, ia kembali mengikuti seleksi dan mendapatkan kesempatan mewakili UIN Sunan Kalijaga untuk kedua kalinya, tetapi melalui cabang yang berbeda.
Menurut Mufid, salah satu hal yang membuatnya tertarik adalah kesempatan terbuka bagi mahasiswa untuk mengikuti seleksi. Ia sendiri bukan mahasiswa UKM yang secara khusus menaungi cabang tersebut, tetapi berhasil lolos dan kembali menjadi bagian dari kontingen.
Tahun ini juga menjadi momen istimewa karena merupakan kesempatan terakhirnya sebagai mahasiswa.
“Ini tahun terakhir. Jadi saya harap bisa memberikan yang terbaik untuk UIN Sunan Kalijaga,” ujarnya.
Persiapannya tidak sederhana. Mufid harus berlatih bersama dua anggota tim yang berada di lokasi berbeda karena sedang menjalani KKN. Selama sekitar satu bulan, mereka berlatih secara daring melalui video call setelah menyelesaikan kegiatan KKN masing-masing.
Latihan tatap muka baru dapat dilakukan beberapa hari terakhir menjelang keberangkatan. Mereka juga menyiapkan dua naskah, kostum dengan sentuhan adat Jawa, serta menjaga kondisi kesehatan.
Namun, tantangan terbesar justru terletak pada kekompakan.
“Kalau Da’i, aku hafalan, aku tampil, beres. Kalau sekarang tanggung jawabnya teman-teman juga. Kekompakan, ego pribadi, itu sih,” ungkapnya.
Bagi Mufid, membawa nama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta merupakan sebuah kebanggaan sekaligus tanggung jawab.
“Membawa nama UIN Sunan Kalijaga ini adalah sebuah kebanggaan, sebuah kehormatan,” katanya.
Ia berharap dapat tampil maksimal bersama timnya, lolos ke babak final, dan membawa pulang prestasi terbaik bagi UIN Sunan Kalijaga.
Ada pula Fachril Maulana, mahasiswa Ilmu Hukum yang akan berlaga dalam cabang Peradilan Semu. Berbeda dengan kebanyakan cabang lain, Peradilan Semu baru pertama kali dipertandingkan dalam PORSI JAWARA tahun ini.
Bagi Fachril dan timnya, kesempatan tersebut menjadi panggung untuk menunjukkan kemampuan yang selama ini mereka kembangkan melalui Komunitas Peradilan Semu.
Timnya terdiri atas 18 mahasiswa. Persiapan dilakukan secara intensif karena waktu yang tersedia jauh lebih singkat dibandingkan kompetisi peradilan semu pada umumnya.
“Kalau peradilan semu pada umumnya kita berjalan tiga sampai delapan bulan. Tapi untuk PORSI ini kita menyiapkannya hanya dalam jangka waktu dua bulan, kurang. Sehingga memang intens banget,” jelas Fachril.
Hari-harinya dipenuhi pemberkasan dan latihan persidangan. Bahkan, latihan dapat dilakukan hingga tiga kali dalam sehari. Mereka juga mendapatkan pendampingan dari berbagai pihak, termasuk praktisi hukum, kepolisian, kejaksaan, hakim, dan advokat.
Beban persiapannya tidak ringan. Namun, Fachril melihat tantangan tersebut sebagai kesempatan untuk memberikan sesuatu bagi almamater.
“Membawa nama UIN Sunan Kalijaga itu yang pertama kita serasa punya tanggung jawab yang besar. Atas apa yang telah diberikan UIN Sunan Kalijaga selama ini kepada kita, kita mempunyai beban untuk membawa nama UIN Sunan Kalijaga juga menjadi lebih baik ke depannya,” tuturnya.
Di balik tim yang tampil di arena, Fahril juga menyadari ada banyak orang yang bekerja di belakang layar. Mereka membantu menyusun berkas, merumuskan pasal, hingga mempersiapkan proses persidangan.
Tiga mahasiswa tersebut hanyalah sebagian kecil dari hampir 100 mahasiswa yang akan membawa UIN Sunan Kalijaga ke PORSI JAWARA II. Mereka datang dari latar belakang, fakultas, program studi, komunitas, dan bidang kemampuan yang berbeda.
Ada yang tumbuh bersama olahraga sejak kecil. Ada yang mengembangkan kemampuan berbicara dan mengolah pesan keagamaan. Ada pula yang menghabiskan waktu berlatih memahami hukum dan menjalankan simulasi persidangan.
Keragaman itu menjadi salah satu wajah kehidupan mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Kampus tidak hanya menjadi ruang untuk belajar di dalam kelas, tetapi juga tempat berbagai minat dan talenta menemukan ruang untuk tumbuh.
Pada akhirnya, PORSI JAWARA II bukan hanya tentang siapa yang berdiri di podium dan membawa pulang medali. Di sana ada hampir 100 mahasiswa dengan cerita masing-masing, yang untuk sementara meninggalkan sekat cabang dan program studi untuk berdiri sebagai satu kontingen.
Mereka berbeda dalam cara berlatih, berbeda dalam arena yang dihadapi, dan berbeda dalam talenta yang dimiliki. Namun, ketika kompetisi dimulai, mereka akan membawa nama yang sama: UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Dari keberagaman itulah UIN Sunan Kalijaga Yogyaakrta menunjukkan dirinya sebagai rumah bagi beragam talenta, tempat mahasiswa dengan kemampuan yang berbeda dapat tumbuh, menemukan panggungnya, dan bersama-sama membawa nama almamater lebih jauh.(humassk)