Setiap laboratorium memiliki karakter, prosedur, dan potensi risiko yang berbeda. Mahasiswa biologi dapat bersinggungan dengan mikroorganisme dan spesimen hewan, sementara mahasiswa dari bidang lain berhadapan dengan bahan, peralatan, dan instrumen sesuai disiplin ilmunya. Karena itu, pengenalan terhadap lingkungan laboratorium dan prosedur keselamatan menjadi bekal penting sebelum mahasiswa memulai praktikum maupun penelitian.
Untuk itu, Laboratorium Terpadu UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta melalui kegiatan User Education bagi mahasiswa baru Fakultas Sains dan Teknologi serta program studi Pendidikan MIPA Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan. Kegiatan berlangsung pada Senin (31/8)– Jumat (4/9) secara bergiliran, dengan materi dan tempat yang disesuaikan dengan karakteristik laboratorium setiap program studi.
Pada Selasa (1/9/2026), kegiatan diikuti mahasiswa baru Program Studi Pendidikan Biologi FITK di Laboratorium Biologi Terpadu lantai 3. Sesuai karakter bidangnya, peserta mendapatkan pengenalan mengenai standar operasional prosedur, keselamatan dan kesehatan kerja, penggunaan alat pelindung diri, biosafety, dan lain sebagainya.
Pranata Laboratorium Pendidikan (PLP) Laboratorium Genetika Molekuler, Anif Yuni Mualifah, M.Biotech., menjelaskan bahwa User Education dirancang untuk membangun pemahaman dasar mahasiswa sebelum mereka mengikuti kegiatan praktikum maupun penelitian.
“Tujuannya agar mahasiswa mengenal lingkungan laboratorium UIN Sunan Kalijaga dan memahami bagaimana bekerja dengan aman dan nyaman sesuai prosedur operasional standar. Dengan begitu, kegiatan di laboratorium dapat berjalan lancar,” ujar Anif.
Anif juga mengungkapkan, pengenalan laboratorium mencakup pemahaman mengenai lokasi ruangan, jenis dan fungsi peralatan, serta potensi bahaya dari alat, bahan, dan prosedur yang digunakan. Seluruh aspek tersebut sama pentingnya karena setiap aktivitas laboratorium memiliki karakteristik risiko yang berbeda.
Mahasiswa, misalnya, perlu mengetahui fungsi dan cara menggunakan alat pelindung diri sesuai jenis pekerjaan yang dilakukan. Mereka juga diperkenalkan dengan Material Safety Data Sheet (MSDS), yakni dokumen yang memuat informasi mengenai karakteristik, potensi bahaya, cara penanganan, penyimpanan, serta langkah kedaruratan ketika menggunakan bahan kimia.
“Ketika bersinggungan dengan bahan kimia, mahasiswa harus mengetahui karakteristik bahan yang digunakan. Informasi dalam MSDS perlu dipahami agar mahasiswa mengetahui potensi bahayanya sekaligus cara menangani bahan tersebut dengan benar,” jelasnya
Selain keselamatan kerja, mahasiswa memperoleh pemahaman mengenai pengelolaan limbah laboratorium. Limbah tidak dapat dibuang begitu saja, tetapi harus terlebih dahulu diidentifikasi, dipilah berdasarkan karakteristiknya, dimasukkan ke dalam wadah yang telah diberi label, kemudian diolah mengikuti prosedur yang berlaku.
Bagi mahasiswa Pendidikan Biologi, materi keselamatan juga diarahkan pada prinsip biosafety sebagaimana disampaikan oleh Penata Laboratorium Pendidikan lainnya, Ethik Susiawati Purnomo, S.Si.. Pendekatan ini berkaitan dengan upaya mencegah paparan maupun penyebaran bahan biologis yang berpotensi menimbulkan risiko bagi pengguna laboratorium dan lingkungan.
“Di laboratorium mikrobiologi terdapat bakteri dan jamur. Beberapa di antaranya mungkin bersifat patogen sehingga ada kemungkinan pengguna laboratorium terpapar. Karena itu, pemahaman mengenai biosafety perlu diberikan sejak awal,” katanya.
PLP Laboratorium Zoologi dan Fisiologi Hewan, Sutriyono, turut memperkenalkan prosedur keselamatan dalam praktikum yang melibatkan spesimen hewan. Dalam praktik zoologi dan fisiologi hewan, mahasiswa dapat menggunakan ikan, katak, kadal, burung, atau tikus untuk kebutuhan pengamatan dan pembedahan.
Pengenalan tersebut menjadi penting karena kegiatan laboratorium memiliki tingkat kompleksitas lebih tinggi dibandingkan praktikum di sekolah. Peralatan yang digunakan lebih beragam, bahan yang dipakai lebih spesifik, dan prosedur kerja disesuaikan dengan target kompetensi serta peminatan mahasiswa. Kondisi itu membuat potensi bahayanya juga semakin beragam.
Melalui User Education, mahasiswa turut diperkenalkan dengan berbagai layanan Laboratorium Terpadu UIN Sunan Kalijaga. Selain mendukung praktikum, laboratorium menyediakan layanan penelitian, peminjaman alat, dan pengujian laboratorium yang diarahkan pada pemenuhan standar mutu, termasuk pengembangan layanan berbasis ISO.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya UIN Sunan Kalijaga membangun budaya keselamatan akademik sejak awal perkuliahan. Mahasiswa didorong untuk melihat prosedur K3 bukan sekadar aturan administratif, melainkan bagian dari integritas dan tanggung jawab ilmiah.
Dengan memahami alat, bahan, prosedur, serta risiko di lingkungan laboratorium, mahasiswa diharapkan mampu menjalankan kegiatan praktikum dan penelitian secara tertib, aman, dan bertanggung jawab. Bekal tersebut sekaligus menjadi fondasi bagi lahirnya proses pembelajaran sains yang berkualitas serta menghargai keselamatan manusia dan lingkungan.(humassk)