Medali yang dikalungkan di leher mereka menjadi penanda kecil dari perjalanan yang jauh lebih panjang. Ada latihan berulang, tubuh yang harus kembali siap setelah lelah, hingga tuntutan kuliah yang tetap berjalan bersamaan dengan persiapan menuju arena.
Pada hari pertama PORSI JAWARA II di UIN K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) Pekalongan, Kamis (10/9/2026), perjalanan itu berbuah dua medali bagi kontingen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dari cabang pencak silat.
Salah satunya datang dari nomor Pencak Silat Ganda Putri melalui pasangan Pundari Zuhayka, mahasiswa Program Studi Ekonomi Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, dan Lailla Jelita Nur Melaka, mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan.
Di arena, keduanya tidak sekadar memperagakan rangkaian gerakan. Tongkat dan golok di tangan mereka bergerak dalam satu kesatuan, berpindah dari satu gerakan ke gerakan berikutnya dengan ritme yang terukur. Kekompakan pasangan, ketepatan waktu, dan keindahan gerakan menjadi bagian penting dari penampilan mereka.
Performa yang dibawakan itu membawa Pundari dan Lailla melaju ke babak final. Di penghujung kompetisi, keduanya meraih medali perak.
Bagi Pundari, capaian tersebut berada di luar ekspektasi awal. Terlebih, nomor seni yang mereka jalani memiliki karakter berbeda dari nomor fighter yang lebih dulu ia kenal.
“Di luar ekspektasi. Berbeda banget dengan fighter. Menurut saya, nomor seni jauh lebih sulit karena selama tiga menit kami harus nonstop melakukan gerakan. Gerakannya juga berbeda dengan fighter. Dalam nomor seni, gerakan harus memiliki unsur keindahan,” ujar Pundari.
Persiapan menuju pertandingan pun bukan proses singkat. Keduanya harus membangun kekompakan melalui latihan bersama selama sekitar tiga bulan. Setiap gerakan perlu dihafalkan sekaligus diselaraskan agar penampilan mereka terlihat sebagai satu rangkaian yang utuh.
Di balik persiapan itu, Pundari melihat dukungan kampus sebagai bagian penting dari kesiapan mereka. Mulai dari kebutuhan perlengkapan pertandingan hingga dukungan selama latihan.
“UIN Sunan Kalijaga support-nya luar biasa, terutama untuk pengadaan alat dan kebutuhan atlet,” katanya.
Menanggapi perolehan medali perak tersebut, Lailla memilih melihat capaian tersebut bukan semata-mata sebagai hasil akhir. Baginya, perjalanan menuju arena juga menjadi bagian yang layak dinikmati.
“Kita nikmati prosesnya, jangan dilihat hasilnya. Kemenangan itu berbeda,” ujar Lailla.
Ucapan terima kasih kemudian ia sampaikan kepada kampus yang telah mendukung persiapan mereka hingga bisa tampil di arena PORSI JAWARA II.
Jika medali perak datang dari nomor ganda putri, medali lainnya diraih dari nomor Pencak Silat Tunggal Putra melalui Dimas Kurniawan, mahasiswa Program Studi Sosiologi Agama, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam.
Baginya, medali yang diraih pada hari ini bukan menjadi titik akhir. Justru, capaian tersebut menjadi pengingat bahwa masih ada target lain yang ingin dikejar.
“Pastinya ini masih awal, belum menjadi akhir perjalanan bagi saya. Masih banyak target yang ingin saya capai,” kata Dimas.
Ia memilih menjaga fokus dengan menikmati setiap proses pertandingan. Menurutnya, berada di arena bukan hanya soal mengejar hasil, tetapi juga bagaimana menjalani setiap tahapan dengan sebaik mungkin.
Perjalanan menuju PORSI JAWARA II sendiri tidak sepenuhnya mudah. Di tengah persiapan sebagai atlet, kewajiban sebagai mahasiswa tetap berjalan. Persipan pertandingan yang berbarangan dengan Kuliah Kerja Nyata (KKN) membuatnya cukup merasa lelah.
Dukungan kampus menjadi salah satu hal yang membantunya melewati masa persiapan. Ketersediaan perlengkapan latihan, termasuk matras, membuat proses latihan dapat berlangsung dengan lebih baik.
Pada akhirnya, dua medali yang diraih pencak silat di ajang PORSI JAWARA II tidak berhenti pada angka di papan perolehan medali. Di baliknya ada mahasiswa yang membagi waktu antara ruang kuliah dan arena latihan, belajar menjaga tubuh sekaligus menata pikiran, serta membawa nama kampus ke sebuah kompetisi.
Dua medali itu akhirnya menjadi milik UIN Sunan Kalijaga. Namun, yang tertinggal dari arena bukan hanya warna medali yang mereka bawa pulang, melainkan keyakinan bahwa setiap capaian selalu punya cerita di belakangnya. PORSI JAWARA II masih panjang, dan nama UIN Sunan Kalijaga masih akan kembali disebut dari arena-arena berikutnya.(humassk)