1002436843.jpg

Kamis, 10 September 2026 23:53:00 WIB

0

Medali Pertama dan Emas Pertama UIN Sunan Kalijaga, Dua Jejak Awal di PORSI JAWARA II

Puncak dinding menjadi saksi ketika Cahyo Adi Nugroho menuntaskan langkah terakhirnya. Tangannya mencapai titik tertinggi lintasan panjat dinding nomor Lead Putra. Beberapa saat kemudian, mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta itu meluncur turun dengan sling pengaman.


Di bawahnya, sorak para pendukung segera pecah. Ada rasa bangga, lega, sekaligus haru yang menyatu dalam satu momen. Kamis (10/9/2026) itu, Cahyo bukan sekadar menyelesaikan lintasan. Ia membawa pulang medali emas pertama bagi kontingen UIN Sunan Kalijaga dalam PORSI JAWARA II yang berlangsung di UIN K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) Pekalongan.


Medali itu lahir dari proses yang telah disiapkan jauh sebelum kompetisi dimulai. Selama beberapa bulan, Cahyo berlatih sekaligus mengevaluasi setiap penampilannya dari kompetisi ke kompetisi.


Baginya, tantangan terbesar bukan semata-mata menaklukkan dinding, melainkan menaklukkan dirinya sendiri.

“Kesulitannya mengalahkan diri sendiri. Rasanya luar biasa, saya tidak bisa berkata-kata,” ujar Cahyo setelah pertandingan.

Di babak kualifikasi, ia tampil konsisten. Performa tersebut kembali dijaganya pada babak final. Satu demi satu pijakan ditaklukkan dengan penuh perhitungan hingga ia menjadi peserta yang mencapai titik tertinggi.

Bagi Cahyo, kemenangan tersebut tidak berdiri sendiri. Ada doa dan dukungan orang tua, teman-teman Mapala UIN Sunan Kalijaga yang datang langsung ke Pekalongan, proses latihan yang membentuknya untuk tetap tenang ketika berada di lintasan. Di perjalanan itu, dukungan UIN Sunan Kalijaga juga menjadi bagian yang membuatnya mampu melangkah hingga meraih emas pertama bagi kontingen.

Ia pun menyampaikan pesan kepada rekan-rekannya yang masih akan bertanding dalam rangkaian PORSI JAWARA II.

“Jangan terlalu dipikirkan apa pun hasilnya. Tetap kepala tegak. Yang penting kita maksimalkan hasil latihan dan keluarkan kemampuan kita secara maksimal di pertandingan,” katanya.

Pada hari yang sama, cerita lain datang dari arena seni. Ozy Qomar, mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam, Fakultas Dakwah dan Komunikasi, menyumbangkan medali perunggu melalui cabang Pop Solo Islami.

Bagi Ozy, medali tersebut menjadi buah dari kerja kerasnya. Ia mengaku sangat senang karena latihan yang dijalani secara intensif bersama pelatih akhirnya berbuah hasil di arena. Selama masa persiapan, ia terus berlatih untuk mematangkan penampilan sekaligus mengevaluasi setiap perkembangan agar tampil lebih baik saat kompetisi.

Dukungan kampus turut menjadi bagian dari proses tersebut. Ozy menyebut UIN Sunan Kalijaga memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mempersiapkan diri, termasuk melalui dukungan terhadap PSM Gita Savana.

“Yang penting lakukan yang terbaik. Berusaha untuk melakukan yang terbaik dan tampilkan apa yang kita bisa,” ujar Ozy.

Dua medali yang diraih pada hari pertama itu memperlihatkan wajah lain dari PORSI JAWARA II. Di satu sisi, ada Cahyo yang menguji ketenangan dan ketepatan gerak hingga mencapai puncak dinding. Di sisi lain, ada Ozy yang membawa latihan vokal dan musikalitasnya ke atas panggung.

Keduanya datang dari bidang yang berbeda, tetapi bertemu pada satu hal, yakni keberanian untuk membawa ketekunan ke ruang kompetisi.

Capaian ini menjadi pijakan awal bagi perjalanan kontingen yang masih panjang. Sebagian pertandingan masih berlangsung, sementara sejumlah cabang lainnya baru akan memasuki tahapan berikutnya.

Cahyo memilih memandang emas yang diraihnya bukan sebagai garis akhir. Ia justru melihatnya sebagai pembuka jalan bagi rekan-rekannya.

“Ini medali emas pertama kita untuk UIN Sunan Kalijaga. Saya yakin medali emas lainnya dari teman-teman yang lain akan berdatangan. Teman-teman pasti bisa juara,” katanya.

Dari puncak dinding hingga panggung seni, dua medali itu akhirnya menjadi cerita pembuka. Bukan hanya tentang siapa yang pulang membawa medali, melainkan tentang mahasiswa yang berani menguji dirinya sendiri, membawa nama kampus, dan belajar bahwa setiap pertandingan selalu menyisakan sesuatu yang lebih panjang daripada sekadar angka di papan hasil.(humassk)