WhatsApp Image 2026-09-14 at 16.08.43.jpeg

Senin, 14 September 2026 10:07:00 WIB

0

Di Balik Medali Perak Peradilan Semu UIN Sunan Kalijaga, Kerja Panjang Melampaui Ruang Sidang

Medali perak yang dibawa pulang Delegasi Peradilan Semu UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dari PORSI JAWARA II 2026 menyimpan cerita yang jauh lebih panjang daripada persidangan yang terlihat di arena. Di baliknya, terdapat ribuan halaman dokumen perkara yang disusun secara terperinci, latihan intensif sejak pagi hingga malam, serta kerja kolektif mahasiswa di dalam dan di balik ruang sidang.

Bagi tim UIN Sunan Kalijaga, capaian di Pekalongan tersebut terasa istimewa. PORSI JAWARA II merupakan pengalaman pertama mereka mengikuti kompetisi antarmahasiswa Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) ruang linglup Jawa - Madura.

“Medali perak ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi kami karena merupakan kali pertama kami mengikuti PORSI. Bagi teman-teman, ini juga menjadi pengalaman pertama turun dalam Moot Court Competition. Momen ini sangat berharga dan tidak akan kami lupakan,” ungkap salah satu anggota delegasi, Fachril Maulana.

Peradilan semu kerap dipahami sebagai lomba memeragakan jalannya persidangan. Namun, menurut Fachril dan timnya, pekerjaan justru dimulai jauh sebelum para peserta memasuki ruang sidang. Mereka harus membangun sebuah perkara secara utuh, mulai dari laporan kepada kepolisian, penyidikan, penuntutan, proses persidangan, putusan hakim, hingga eksekusi oleh jaksa penuntut umum.

Seluruh tahapan tersebut dituangkan dalam dokumen hukum yang harus disusun dengan cermat. Selama satu bulan penuh, para mahasiswa mengerjakan pemberkasan dari panggi hingga malam hari hampir setiap hari..

“Barangkali belum banyak yang mengetahui bahwa peradilan semu bukan sekadar memeragakan persidangan. Kami benar-benar menyiapkan seluruh berkas sejak perkara dilaporkan kepada kepolisian sampai putusan hakim dan pelaksanaan eksekusi,” jelas Fachril.

Ketika dinyatakan lolos ke babak final, pekerjaan mereka belum selesai. Tim harus segera mengalihkan perhatian dari penyusunan dokumen menuju latihan persidangan. Dengan waktu yang terbatas, mereka kembali berlatih dari pagi hingga malam untuk mendalami peran, memahami konstruksi perkara, menguatkan argumentasi hukum, serta membangun koordinasi selama persidangan.

Proses tersebut menuntut tenaga, waktu, pikiran, dan kedisiplinan seluruh anggota. Setiap peran di ruang sidang harus berjalan dalam satu alur. Kesalahan kecil dalam membaca dokumen, menyampaikan argumentasi, ataupun merespons jalannya persidangan dapat memengaruhi penampilan tim secara keseluruhan.

Namun, perjuangan itu tidak hanya ditopang oleh para mahasiswa yang tampil di hadapan majelis hakim. Di balik layar, terdapat tim riset dan observer yang membantu menelaah materi, mengamati jalannya latihan, serta memberikan evaluasi. Peran tersebut dijalankan antara lain oleh Hagil, Kholil, dan Zakir.

Delegasi juga memperoleh pendampingan dari para dosen, termasuk praktisi dari Kepolisian Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta dan Kejaksaan Tinggi. Perspektif para praktisi membantu mahasiswa memahami bahwa setiap berkas dan tahapan persidangan yang mereka susun harus mencerminkan prosedur penegakan hukum secara utuh.

Dukungan UIN Sunan Kalijaga turut menguatkan perjalanan tim menuju arena PORSI JAWARA II. Fachril menyebut komunikasi dengan jajaran kemahasiswaan berlangsung secara intensif selama proses persiapan. Dukungan berupa pendanaan, pendampingan, motivasi, dan penguatan moral tersebut membantu 18 mahasiswa Program Studi Ilmu Hukum, Fakultas Syariah dan Hukum, menjalani rangkaian persiapan hingga tampil di arena kompetisi.

Delapan belas mahasiswa itu berbagi peran untuk menghidupkan setiap tahapan perkara, baik sebagai pemeran dalam persidangan maupun sebagai bagian dari tim pendukung. Mereka adalah Fachril Maulana, Dicky Saputra, Chafidh Maulana, Ibnu Hajar Buchori, Muhammad Iqbal, Muhammad Azam Alifian, Taufik Nur Rahman, Azrey Dzaky Fauza, Farrel Marcello Utomo, Muhammad Iqbal Habiburrohman, Muhammad Rizqi Febrian, Damar Azimi Sulthonik, Fitri Sahara, Riva Attiqan Devie, Arshinta Dwi Calista, Nadia Probo Wikaningtyas, Mufidah Nuha Ammar, dan Refeyfa Aziza.

Lebih dari capaian di podium, proses tersebut menjadi ruang belajar bagi mahasiswa untuk menghubungkan pengetahuan hukum dengan ketelitian, integritas, pembagian peran, dan kemampuan bekerja dalam tekanan. Medali perak yang mereka persembahkan pun menjadi penanda dari kerja kolektif yang tumbuh melalui disiplin dan saling percaya.

“Pelajaran yang kami peroleh adalah kami harus semakin kompak dan disiplin. Saya selalu menekankan kepada teman-teman bahwa ini bukan akhir. Masih banyak jalan yang dapat kami tempuh. Pada PORSI berikutnya, kami ingin kembali dengan persiapan dan hasil yang lebih baik,” pungkasnya.(humassk)