Sebelum seorang peneliti mengajukan pertanyaan yang tampak sederhana, ada banyak pekerjaan yang mesti dilalui, membaca karya-karya terdahulu, mengikuti perdebatan akademik, mengenali persoalan yang belum terjawab, dan seperangkat kerja ilmiah lainnya. Setelah pertanyaan ditemukan, pekerjaan berikutnya pun menanti, mencari bukti, membangun argumen, dan menuliskannya dengan jernih. Perjalanan intelektual semacam itu dibahas Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof. Noorhaidi Hasan, dalam buku The Art of Scientific Inquiry: Menguasai Cara Berpikir, Meneliti, dan Menulis Ilmiah.
Buku tersebut diluncurkan dan dibedah dalam diskusi yang digelar Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga bersama Suka Press di Convention Hall lantai 1, Selasa (29/9/2026). Hadir sebagai pembedah Direktur Pascasarjana Prof. Muh. Nur Ichwan, dosen Departemen Sosiologi Fisipol UGM Fina Itriyati, Ph.D., serta dosen Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Najib Kailani, Ph.D. Ratusan mahasiswa juga hadir dari dalam dan luar UIN Sunan Kalijaga.
Prof. Noorhaidi merasa prihatin terhadap penggunaan AI sebagai jalan pintas dalam menulis karya ilmiah. Ia merasa iba ketika seseorang dapat menghasilkan artikel, tetapi tidak memahami persoalan yang diteliti maupun argumen yang tertulis atas namanya. Menurutnya, yang hilang dalam cara kerja seperti itu justru proses belajar menjadi scholar.
“Memutuskan S2 dan S3 itu pilihan hidup untuk menjadi scholar, menjelaskan realitas secara sistematis, logis, dan empiris. Penjelasan diabstraksikan bisa jadi teori, model, konsep, dan lain-lain yang berkontribusi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. Basis inilah yang menjadi produksi ilmu pengetahuan. Orang berpikir maka ilmu pengetahuan itu ada,” ungkapnya.
Prof. Noorhaidi mencontohkan bahwa sebuah artikel ilmiah lahir dari proses yang Panjang, yakni merumuskan persoalan, menyusun penelitian, dan membangun argumen yang dapat dipertanggungjawabkan. Proses itu menuntut ketekunan. “Kalau ingin menjadi scholar, ikutilah jalan sunyi yang berliku itu. Dengan begitu, Anda perlahan tumbuh menjadi peneliti dan produsen ilmu pengetahuan yang mandiri,” ujarnya.
Akademisi yang masuk Top 2% World Ranking Scientist ini menegaskan bahwa menulis karya ilmiah menuntut proses yang cermat dan komprehensif. Setiap paragraf perlu diperiksa koherensinya, setiap argumen ditimbang kekuatan datanya, dan setiap bagian didiskusikan dengan pembimbing. Melalui proses itu, peneliti menyusun penjelasan yang utuh atas persoalan yang dikajinya.
Meski demikian, kesimpulan ilmiah selalu bersifat tentatif, artinya berlaku sejauh didukung oleh data, teori, dan penalaran yang digunakan, serta terbuka untuk diuji oleh penelitian berikutnya. “Misal sebulan berikutnya ada yang membantah, tidak masalah. Anda sudah mengisi satu titik yang sempat kosong,” ujarnya.
Untuk itu, Figur yang juga anggota Komisi Kebudayaan Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia ini juga mengajak mahasiswa kembali pada pekerjaan dasar seorang peneliti, yakni membaca dengan saksama. “Membaca berarti menangkap pertanyaan yang diajukan penulis, memahami teori yang digunakan, serta melihat bagaimana fakta mendukung kesimpulannya,” jelasnya.
Prof. Noorhaidi menegaskan bahwa salah satu tugas peneliti ialah menghasilkan kebaruan atau novelty: menemukan sisi dari suatu persoalan yang belum dikaji atau dijelaskan oleh sarjana lain. Untuk mengetahui letak sumbangan tersebut, peneliti harus mengikuti perkembangan perdebatan akademik dalam bidangnya. Internet dan teknologi digital kini memudahkan akses terhadap penelitian dari berbagai negara, tetapi peneliti tetap perlu membaca dan menilai karya-karya itu secara kritis.
Gagasan dalam The Art of Scientific Inquiry tumbuh dari perjalanan panjangnya belajar, meneliti, mengajar, dan membimbing mahasiswa. Perjalanan akademiknya bermula di UIN Sunan Kalijaga, tempat ia menempuh studi sarjana. Ia kemudian melanjutkan pendidikan ke Belanda, meraih gelar M.A. dari Leiden University dan M.Phil. dari International Institute for the Study of Islam in the Modern World, sebelum menyelesaikan doktoralnya di Utrecht University. Pengalaman belajar di berbagai lingkungan akademik itu mempertemukannya dengan tradisi membaca secara kritis, mempertanyakan temuan, dan menguji argumen dalam diskusi. Cara kerja tersebut terus ia bawa ketika meneliti, mengajar, dan membimbing mahasiswa, pengalaman yang kemudian ia olah menjadi buku ini
“Cobalah mengerti secara komprehensif apa yang saya tulis. Ini bisa membantu siapa pun yang ingin menjadi scholar dengan baik. Ini adalah ekstraksi dari perjalanan panjang mengajar, membimbing, dan lain sebagainya, kuliah, berinteraksi dengan sarjana di seluruh dunia,” pesannya.
Dalam bedah buku, Prof. Muh Nur Ichwan menempatkan pemikiran Prof. Noorhaidi dalam perjalanan studi Islam. Ia mengenang masa ketika keduanya belajar di Leiden University dan mendalami pendekatan yang memungkinkan Islam dikaji melalui pertanyaan akademik serta penelitian empiris.
Fina Itriyati, Ph.D., melihat buku tersebut mengingatkan pembaca pada peran manusia dalam penelitian. Daya kritis, kepekaan melihat persoalan, dan kemampuan memeriksa asumsi sendiri tumbuh melalui proses yang panjang. Bagi Fina, cara berpikir yang dibentuk melalui riset pada akhirnya ikut memengaruhi bagaimana seseorang memahami kehidupan sehari-hari dan mengambil keputusan.
Sementara itu, Najib Kailani menilai The Art of Scientific Inquiry memiliki kekuatan karena mengajak pembaca memikirkan kembali pekerjaan yang sering dianggap selesai sebelum penelitian dimulai, yakni bagaimana rasa ingin tahu tumbuh menjadi pertanyaan yang layak diajukan. Pertanyaan ilmiah, menurut dia, tidak lahir hanya dari keinginan mencari jawaban. Peneliti perlu membaca karya para sarjana lain untuk mengetahui apa yang sudah dijelaskan dan di mana penelitiannya dapat memberi sumbangan. Dalam proses itu, tinjauan pustaka juga menumbuhkan kerendahan hati intelektual.
Najib turut menyoroti pembahasan Prof. Noorhaidi tentang abduksi dalam logika riset. Ketika berhadapan dengan fakta atau gejala, peneliti tidak sekadar mencocokkannya dengan teori yang sudah ada. Ia berusaha merumuskan kemungkinan penjelasan yang paling masuk akal, lalu mengujinya lebih lanjut. Pembahasan ini, menurut Najib, memperlihatkan bahwa penelitian menuntut kemampuan bernalar, bukan hanya ketepatan menjalankan prosedur.
Hal lain yang dianggap penting oleh Najib ialah refleksivitas. Buku ini mengajak peneliti menyadari bahwa posisinya di lapangan, cara ia berhubungan dengan informan, dan kepercayaan yang berhasil dibangun dapat memengaruhi data serta penafsirannya. Meski mengangkat persoalan yang kompleks, buku ini ditulis dengan bahasa yang dapat diikuti mahasiswa dari jenjang sarjana hingga doktoral.
Pada akhirnya, buku ini mengajak pembaca menempuh kerja ilmiah dengan sungguh-sungguh: membaca untuk memahami perdebatan, mengajukan pertanyaan yang bermakna, lalu membangun penjelasan yang terbuka untuk diuji. Dari proses itulah seorang peneliti belajar berpikir mandiri dan memberi sumbangan pada pengetahuan.(humassk)