WhatsApp Image 2026-10-07 at 16.39.31(2)(1).jpeg

Rabu, 07 Oktober 2026 20:00:00 WIB

0

Mahasiswa PGMI FITK UIN Sunan Kalijaga Perluas Perspektif Pendidikan Dasar lewat Forum Akademik di Malaysia

Persoalan pendidikan dasar sangat luas. Kesulitan membaca pada siswa kelas awal, perilaku sosial anak, disiplin belajar, relasi keluarga, hingga perkembangan sosial-emosional menjadi isu yang perlu dibaca calon guru melalui pengalaman akademik dan perspektif yang lebih luas.


Hal itu menjadi bagian dari pengalaman mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI), Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK), UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, ketika mengikuti International Student Academic Experience (ISAE) 2026 di Universiti Pendidikan Sultan Idris (UPSI), Malaysia.

Dalam kunjungan akademik ke Centre of Pedagogical Research and Innovation (CPRI), Fakulti Pembangunan Manusia, UPSI, Selasa (6/10/2026), mahasiswa PGMI mempresentasikan sejumlah kajian tentang persoalan yang mereka temui dalam konteks pendidikan dasar. Kegiatan tersebut mempertemukan mahasiswa dan akademisi dari dua negara dalam ruang diskusi mengenai pendidikan, sekaligus memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk menguji gagasan mereka di luar lingkungan akademik kampus.


Pembimbing kegiatan, Andhika Yahya Putra, M.Or, mengatakan ISAE dirancang bukan sekadar sebagai pengalaman belajar di luar negeri. Menurut dia, perjumpaan dengan lingkungan akademik internasional memberi mahasiswa kesempatan untuk mengomunikasikan gagasan ilmiah, menerima perspektif berbeda, dan membangun kepercayaan diri.

"Mahasiswa perlu memahami bahwa menjadi calon guru madrasah ibtidaiyah tidak cukup hanya memiliki kemampuan mengajar. Mereka juga perlu mampu membaca persoalan pendidikan dari perspektif yang lebih luas, tanpa kehilangan akar keislaman, keindonesiaan, dan kepekaan terhadap budaya," ujar Andhika.

Dalam International Paper Presentation, enam kelompok mahasiswa PGMI mempresentasikan kajian yang berangkat dari persoalan perkembangan dan pembelajaran anak sekolah dasar.


Lutfia Soraya Arrosida dan Salwa Azzatul Isma membahas keterlibatan orang tua dalam mengatasi kesulitan membaca awal pada siswa kelas satu. Kajian lain oleh Rahma Avisa Apsarini dan In'ammuzam Wafda Hanum menyoroti perilaku pemalu dan ketergantungan keluarga dalam interaksi sosial siswa kelas empat.

Sementara itu, Dewi Atma Junira dan Siti Uswatun Khasanah mengkaji hubungan perilaku emosional dan disiplin belajar dengan capaian matematika siswa sekolah dasar. Viona Zulfa Salsabila dan Ala Mudin Haqi membahas pengaruh disiplin siswa serta lingkungan keluarga terhadap pemahaman mengenai hak dan tanggung jawab.


Dua kelompok lainnya mengangkat aspek perkembangan karakter dan pengasuhan. Asa Salima dan Aminadrian Mustafa mempresentasikan kajian mengenai pembentukan karakter religius melalui pengamatan tahapan perilaku moral siswa. Adapun Aulia Albirra dan Nur Ainiyah Khoirunnisa membahas dampak kondisi pengasuhan terhadap perkembangan sosial-emosional dan perilaku anak.

Ragam kajian tersebut memperlihatkan bahwa isu yang dibawa mahasiswa tidak berjarak dari realitas pendidikan dasar. Persoalan literasi awal, relasi keluarga, disiplin, karakter, serta perkembangan sosial-emosional merupakan bagian dari tantangan yang dihadapi guru ketika berhadapan dengan keragaman kebutuhan peserta didik.


Pengalaman lintas negara tersebut juga berlangsung melalui pertukaran budaya. Mahasiswa PGMI menampilkan Tari Caping Ayu dan Tari Sigulempong dalam agenda Cross-Cultural Performance.

Tari Caping Ayu ditampilkan Ganis Triska, Alfu Amalia, Windi Astriana, Itsnaini Halimatussa'diyah, Milkha Nadhifatuzzahroh, dan Shaka Tsabita Faza. Adapun Tari Sigulempong dibawakan Diniarti, Apra Yuni Amania, Loka Dewi Kalila, Ifo Faujiyah, dan Luthfi Nur Arifah.


Efi Tri Astuti, M.Pd, yang juga merupakan dosen pembimbing, mengungkapkan pertunjukan tersebut menjadi bagian dari pengalaman mahasiswa berinteraksi dengan mahasiswa dan komunitas akademik Malaysia. Budaya dalam konteks ini tidak ditempatkan sekadar sebagai pelengkap kegiatan, tetapi menjadi medium untuk mengenalkan identitas Indonesia sekaligus membangun komunikasi dalam lingkungan pendidikan lintas negara.

Efi mengatakan pengalaman akademik dan kebudayaan tersebut menjadi bagian yang saling melengkapi. Mahasiswa tidak hanya belajar mengenai bagaimana pendidikan dikembangkan di negara lain, tetapi juga belajar menempatkan dirinya sebagai bagian dari masyarakat Indonesia ketika berinteraksi dengan komunitas internasional.

Kunjungan ke UPSI juga membuka kemungkinan bagi perjumpaan akademik yang lebih berkelanjutan. CPRI UPSI menyampaikan harapan agar pengalaman tersebut memberi manfaat bagi mahasiswa dan sivitas akademika kedua institusi serta dapat berkembang menjadi ruang kerja sama akademik pada masa mendatang.

Bagi PGMI FITK UIN Sunan Kalijaga, pengalaman ISAE 2026 menunjukkan bahwa internasionalisasi pendidikan dapat dimulai dari hal yang dekat dengan proses pembentukan calon guru, yakni kemampuan membaca persoalan di sekolah, mengembangkan kajian, mengomunikasikan gagasan, dan belajar dari lingkungan pendidikan yang berbeda.

ISAE menunjukan bahwa mahasiswa PGMI tidak sekadar datang untuk melihat praktik pendidikan di negara lain. Mereka membawa persoalan pendidikan dasar yang mereka kaji, mengujinya melalui percakapan akademik lintas negara, sekaligus belajar memahami bahwa menjadi guru sekolah dasar juga berarti menyiapkan diri untuk menghadapi dunia yang semakin terhubung.(humassk)