WhatsApp Image 2026-10-12 at 16.19.14.jpeg

Senin, 12 Oktober 2026 16:17:00 WIB

0

Membaca Tafsir, Memahami Perubahan Sosial: Prodi IAT FUPI UIN Sunan Kalijaga Kaji Warisan Kiai Saleh Darat

Kajian Al-Qur’an memiliki peran penting dalam membangun kepekaan terhadap persoalan masyarakat. Melalui pembacaan atas warisan intelektual Kiai Saleh Darat, mahasiswa diajak memahami hubungan antara penafsiran, kebudayaan, dan perubahan sosial, sekaligus menggali relevansinya bagi kehidupan masa kini.

Semangat tersebut mengemuka dalam Seminar Nasional dan Kuliah Umum Pekan Raya Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT) 2026 yang digelar Prodi IAT Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga di Ruang Teatrikal Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam (FUPI), Senin (12/10/2026). Pekan Raya IAT berlangsung selama empat hari, hingga 15 Oktober 2026.


Mengangkat tema “Reading Qur’anic-Exegesis from Java: Kyai Saleh Darat, Fayd al-Rahman, and the Intellectual World of the 19th Century”, seminar menghadirkan akademisi Nur Ahmad, Ph.D. dan budayawan sekaligus pendiri Langgar.co, Irfan Afifi. Forum ini mempertemukan kajian tafsir dengan pembacaan atas sejarah intelektual dan kebudayaan Jawa.

Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama FUPI, Dr. Ahmad Salehuddin, menekankan pentingnya memperluas wawasan mahasiswa IAT. Kemampuan menghafal Al-Qur’an, menurut dia, perlu disertai kecakapan memahami perkembangan masyarakat dan menghadirkan kontribusi yang bermakna.

“Penghafal Al-Qur’an seharusnya justru memiliki daya transformasi yang kuat. Bukan hanya berfokus pada hafalannya saja,” ujarnya.

Ia juga mendorong mahasiswa menjadikan pengetahuan Al-Qur’an sebagai bekal untuk menginspirasi perubahan. Salah satu jalannya ialah menggali tradisi dan warisan intelektual di Jawa, kemudian membacanya secara reflektif untuk menjawab kebutuhan masyarakat.

Pesan tersebut menempatkan kajian tafsir sebagai ruang untuk menghubungkan pengetahuan dengan kehidupan. Mahasiswa diharapkan mampu melihat warisan pemikiran sebagai sumber gagasan yang dapat terus dikaji dan dikembangkan.

Seminar nasional ini sekaligus membuka rangkaian Pekan Raya IAT 2026, yang ditandai dengan pemukulan gong oleh Ahmad Salehuddin, didampingi Ketua Program Studi IAT Subkhani Kusuma Dewi dan Sekretaris Program Studi IAT Aida Hidayah.

Sementara itu, sebagai narasumber, Nur Ahmad, Ph.D., membahas karya Kiai Saleh Darat melalui kerangka hermeneutika Akbarian, yakni pendekatan penafsiran yang berkaitan dengan pemikiran Ibn ‘Arabi. Ia menguraikan hubungan antara tradisi tasawuf, penafsiran Al-Qur’an, dan dunia intelektual Jawa.

Ia juga menjelaskan berbagai pokok dalam penelitiannya, yaitu hermeneutics of being, the science of letters, dan visual hermeneutics. Ketiganya menjadi kerangka untuk membaca hubungan antara keberadaan, aksara, dan dimensi visual dalam tradisi penafsiran yang ia kaji.

Dalam pembacaan tersebut, aksara memiliki kedudukan yang melampaui fungsinya sebagai tanda tulis. Nur Ahmad mengaitkannya dengan cara teks-teks tasawuf di Jawa memahami pengetahuan Al-Qur’an dan realitas keberadaan melalui pemikiran Ibn ‘Arabi.

Sementara itu, Irfan Afifi mengajak peserta memahami kebudayaan Jawa melalui proses pembentukan dan pewarisan pengetahuan. Menurut dia, pandangan hidup serta tata tradisi yang diwarisi masyarakat Jawa berkaitan erat dengan peran para wali dalam mengolah kehidupan keagamaan dan kebudayaan.

Irfan menempatkan karya Kiai Saleh Darat sebagai salah satu pintu masuk untuk membaca hubungan tersebut. Melalui pembahasan mengenai corak tafsir sufi dan isyari, ia mengajak peserta mencermati bagaimana pemahaman keagamaan berhubungan dengan lingkungan budaya tempat suatu karya lahir.

Pertemuan kedua perspektif itu membuka ruang bagi mahasiswa untuk membaca tafsir dengan memperhatikan konteks sejarah, pemikiran, dan kebudayaannya. Pemahaman terhadap konteks tersebut menjadi bekal untuk mendiskusikan relevansi warisan intelektual bagi persoalan masyarakat modern.

Bagi Prodi IAT FUPI UIN Sunan Kalijaga, forum ini menjadi ruang pengembangan kajian Al-Qur’an yang mempertemukan ilmu keislaman dengan sejarah dan kebudayaan. Melalui Pekan Raya IAT, mahasiswa diajak membangun keluasan wawasan sekaligus kepekaan sosial, agar pengetahuan yang dipelajari dapat memberi arah bagi kontribusi mereka di tengah masyarakat.(humassk)