WhatsApp Image 2026-11-06 at 17.29.59(2)(1).jpeg

Jumat, 06 November 2026 17:58:00 WIB

0

HUB IMAGE, Inovasi Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Membuka Akses Belajar Sejarah bagi Difabel

Belajar sejarah membutuhkan media yang mampu menjangkau beragam kebutuhan peserta didik. Berangkat dari perhatian terhadap rendahnya minat belajar sejarah dan kebutuhan akan media yang ramah bagi penyandang disabilitas, mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta mengembangkan HUB IMAGE, media pembelajaran berbasis permainan UNO yang dipadukan dengan teknologi digital.

Inovasi tersebut dipresentasikan dalam cabang Literasi Inovasi Teknologi pada OASE III PTKIN 2026 di Teatrikal Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Jumat (6/11/2026). Melalui HUB IMAGE, tim berupaya menghadirkan pembelajaran sejarah yang menarik sekaligus menyediakan pilihan akses sesuai kebutuhan pengguna.


Tim pengembang terdiri atas Muhammad Anhar, Fariha Zuyyina Zahrof, Adiba Zannuba Khafifah, Adham Bachtiar, dan Rahma Annisa, yang kelimanya merupakan Prodi Sejarah Kebudayaan Islam Fakultas Adab dan Ilmu Budaya. Mereka memadukan kartu permainan yang dilengkapi Braille dengan situs web berisi materi, audio, serta video pembelajaran.

Salah satu anggota tim, Anhar mengungkapkan, pengembangan media ini berangkat dari dua persoalan yang saling berkaitan, yakni bagaimana membangun ketertarikan peserta didik terhadap sejarah dan bagaimana memastikan mereka memiliki kesempatan untuk mengakses materi pembelajaran. Karena itu, unsur permainan disandingkan dengan fitur aksesibilitas sejak proses perancangan.

“Pada kartu, kami menambahkan Braille untuk mendukung pengguna tunanetra. Sementara itu, situs web dikembangkan untuk menyediakan materi dalam beberapa bentuk, termasuk audio bagi pengguna tunanetra dan video untuk mendukung pembelajaran pengguna tunarungu. Bagi peserta didik dengan disabilitas intelektual, video materi dapat diputar berulang sesuai kebutuhan belajar,” jelasnya.

Pilihan tersebut menjadi bagian dari upaya tim menyesuaikan penyajian materi dengan keragaman pengguna. Pengembangan ke format digital juga diarahkan agar materi lebih mudah diakses dan memiliki ruang untuk terus diperbarui.

Anggota tim lainnya, Rahma Annisa menambahkan, proses pengerjaan HUB IMAGE melalui lima tahapan, yakni analisis kebutuhan, perancangan prototipe, pembangunan prototipe, evaluasi, dan pengujian. Tim juga melakukan survei ke sekolah untuk memperoleh gambaran kebutuhan pembelajaran di lapangan.

Dalam menyiapkan konten, lanjutnya, tim menelusuri dan menyusun materi sejarah secara mandiri.

Kami memproduksi sekitar 40 video dan 52 audio sebagai bagian dari sumber belajar. Kecerdasan buatan dimanfaatkan untuk membantu sebagian proses pengembangan, sementara produksi video dikerjakan oleh tim secara mandiri,” ungkapnya.

Di balik pengembangan produk tersebut, pendampingan berlangsung sejak penyusunan karya ilmiah hingga persiapan presentasi. Pembimbing tim, Ahmad Anwar, M.A., menjelaskan bahwa mahasiswa menjalani proses revisi secara intensif, termasuk menindaklanjuti masukan mentor dan mempersiapkan kebutuhan kompetisi. Setelah penyusunan paper, perhatian beralih pada poster dan berbagai persiapan lainnya.

Anwar menuturkan, HUB IMAGE memiliki peluang untuk dikembangkan lebih lanjut. Ia menilai perpaduan literasi sejarah, permainan, teknologi digital, dan aksesibilitas menjadi kekuatan produk tersebut.

“Produk ini bisa dikembangkan lagi karena sangat marketabel,” ujarnya.

Seusai OASE III PTKIN 2026, tim akan melanjutkan pengembangan HUB IMAGE dengan menyempurnakan fitur dan memperluas akses digital agar dapat dimanfaatkan lebih banyak pengguna. Langkah ini menempatkan kompetisi sebagai bagian dari proses pengembangan inovasi yang melampaui pencapaian medali, dengan tujuan menghadirkan pembelajaran sejarah yang semakin inklusif dan mudah diakses.

Kehadiran HUB IMAGE memperlihatkan arah inovasi mahasiswa UIN Sunan Kalijaga yang bertolak dari kebutuhan pembelajaran. Melalui perpaduan permainan dan teknologi, tim membawa perhatian pada hal mendasar dalam pendidikan, yakni materi yang menarik perlu disertai akses yang memungkinkan peserta didik ikut belajar.(humassk)