Tadarus Difabel *Minggu 71
Capek balesin WA, kalau nggak dibales dikira sombong...
canda Bu Jamil sambil tertawa lepas ketika saya tanya bagaimana rasanya dinobatkan sebagai _Asia’s Top Researchers in Transforming Education for All_ yang dirilis tahun 2026 ini oleh Asia Institute of Education for All.
Canda Bu Jamil itu membawa kami riuh rendah dalam tawa… Di PLD, saat pikiran terasa begitu padat, kami memang sudah terbiasa mengurainya dengan strategi mencipta ruang tawa seperti itu…
Di tengah dunia yang kerap menyambut penghargaan dengan kemeriahan, Bu Jamil justru meresponnya dengan kelakar ringan itu. Tidak ada kalimat meninggi. Yang terdengar hanya rasa kelelahan membalas pesan WhatsApp dan *kekhawatiran kecil kalau dianggap sombong Begitulah Bu Jamil yang nama lengkapnya penuh do’a bertabur gelar, Jamil Suprihatiningrum, M.Pd.SI., Ph.D., ia adalah salah satu dari 14 anggota TIM ahli kami di PLD.
Di PLD, kami harus pandai-pandai mencari ventilasi saat dunia menjadi sempit* oleh beragam jadwal, laporan, mahasiswa yang perlu pendampingan, kebijakan yang harus dirumuskan atau ide-ide yang menuntut dieksekusi… *kami sudah terbiasa mengurainya dalam tawa* yang membuat ruang PLD itu tetap menyala. Meskipun sesekali tawa itu getir di tengah cobaan yang tetap harus dijalani,… *kadang, saat kami kehabisan apapun,* masih saja ada yang tersisa pada kami, ya, adalah *tertawa itu hahaaa
Penghargaan sebesar Asia tentu sangat membanggakan. Namun demikian di ruang kami, ia tetaplah Bu Jamil yang datang dengan langkah cepat, membuka laptop, lalu mulai membedah persoalan. *Tetap orang yang serius* ketika membahas inklusi, tapi ringan ketika membahas dirinya sendiri dan saya rasa justru di situlah letak kecanggihan Bu Jamil di PLD
Bu Jamil kelihatannya tidak akan membiarkan penghargaan itu menciptakan jarak. Dia Tetap terlibat. Terasa membumi sebagaimana biasaya. Dia kerap menemukan hal baru di PLD, mungkin karena sudah *terbiasa mencari novelty* saat melakukan riset atau mungkin saja karena tugasnya sebagai _Editor in Chief_ pada _Jurnal INKLUSI PLD.
Kami tertawa siang itu justru karena kami tahu, di balik canda riang itu ada kerja panjang, disiplin, konsistensi, dan keberanian berpikir yang mungkin tidak semua orang mampu menjalaninya…
Dan seperti biasa,setelah tawa reda, Bu Jamil kembali pada kalimat-kalimat serius tentang inklusi. "Kita perlu branding Kang di dunia yang fana ini", Ujarnya kepada saya
Bu Jamil ingin mengatakan bahwa branding penting. Saat saya tanya kaitannya dengan pendidikan inklusi kenapa harus branding biar orang semakin aware dengan hak-hak orang lain”Jawab Bu Jamil. “kadang orang gak aware tu bukan karena gak mau, tapi gak tau. Nah tugas kita itu menyebar informasi biar orang pada tau…” lanjutnya lagi … jadi serius lagi ngobrol nya…
Di tengah dunia akademik yang sering sibuk dengan angka, indeks, dan peringkat, persaingan apapun yang terkadang ditaburi juga dengan sedikit aroma ghibah, Bu Jamil telah menunjukkan bahwa untuk menjadi peneliti paling Top kelas Asia tidak harus jauh dari kerja pelayanan, seperti di PLD ini. Justru dari kerja-kerja yang membumi itulah makna riset Bu Jamil terasa nyata. Penghargaan boleh dirayakan. Tapi pengabdian tetap harus dilanjutkan, demikian kira-kira...
Tadarus Difabel Minggu ke-71 ini ikut menjadi saksi perjalanan Bu Jamil bahwa ketika ilmu dirawat dengan hati, ia pasti akan menemukan jalannya sendiri dan cahayanya menerangi banyak orang. itulah bagian dari cahaya Nabi untuk dunia yang semakin inklusif
Yogyakarta* 16 Februari 2026_
# Terimakasih kepada Bu Jamil yang *telah mengijinkan saya mengutip sebagian dari percakapannya untuk saya tulis* dalam artikel tadarus Difabel edisi *71* ini