WhatsApp Image 2026-02-26 at 22.50.44.jpeg

Jumat, 27 Februari 2026 08:48:00 WIB

0

PARADOKS AGAMA: RELEVANSI IDEALISME DAN PRAKTEK AGAMA DI ERA DIGITAL Ceramah Terawih Masjid UIN Sunan Kalijaga Prof. Dr. Inayah Rohmaniyah MA Guru Besar FUPI

 

الْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ أَنْزَلَ السَّكِيْنَةَ فِيْ قُلُوْبِ الْمُؤْمِنِيْنَ لِيَزْدَادُوْا إِيْمَانًا مَعَ إِيْمَانِهِمْ.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ.

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

 

قَالَ اللهُ تَـعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ "الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ"

(Ar’Ra’d ayat 18)

1.  Paradoks: Idealisme Agama VS Praktek Nyata

"Bapak, Ibu, dan teman-teman generasi muda Jamaah terawih Masjid UIN Sunan Kalijaga yang dirahmati Allah...perkenankan pada malam yang berbahagia ini sy akan menyampaikan ceramah singkat dengan tema PARADOKS AGAMA: RELEVANSI IDEALISME DAN PRAKTEK AGAMA DI ERA DIGITAL.

Mari kita pikirkan dan renungkan sebuah anomali, sebuah keanehan nyata yang bisa kita saksikan sehari-hari.

Kita hidup di era di mana akses terhadap ajaran agama sangat mudah, bahkan paling mudah sepanjang sejarah peradaban manusia. Dulu, orang harus berjalan seribu langkah atau bahkan berhari-hari untuk sekedar belajar satu ayat al-Qur’an atau hadis. Hari ini? Jutaan ceramah, ayat, dan quotes tentang agama bertebaran di TikTok, Instagram, YouTube, dan aplikasi lain. Bahkan al-Quran pun berpindah ruang dan wujud menjadi digital. Belajar agama menjadi sangat mudah, tidak mengenal batas ruang dan waktu.

Tapi di sinilah letak paradoksnya: Di tengah membanjirnya konten agama dalam setiap tarikan nafas kita, mengapa generasi kita hari ini justru dikenal sebagai generasi galau, bahkan Gen Z dinobatkan sebagai generasi yang paling cemas, galau, paling insecure, dan paling rentan mengalami gangguan mental? Mengapa di negara yang mayoritas Muslim, netizen kita seringkali masuk dalam daftar netizen paling tidak sopan di dunia virtual? Netizen jahat yang tidak lagi mengenal etika?

Bapak, Ibu, dan teman-teman generasi muda Jamaah terawih yang berbahagia

Banyak riset menunjukkan bahwa Kondisi darurat kesehatan jiwa di kalangan generasi muda saat ini telah mencapai titik yang sangat mengkhawatirkan. Temuan dari Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) tahun 2022, sepertiga dari remaja kita (usia 10-17 tahun) ternyata bergulat dengan masalah kesehatan mental. Sebagai gambaran nyatanya: jika ada 30 remaja sedang duduk bersama di masjid ini, sekitar 10 orang di antaranya kemungkinan besar sedang menyembunyikan luka batin yang mengganggu kebahagiaan mereka. Mereka mungkin tampak tertawa di luar, namun menyimpan kerapuhan dan kecemasan mendalam jauh di lubuk hatinya.

Laporan Deloitte Gen Z and Millennial Survey (2023) menunjukkan bahwa 46% Gen Z hidup dalam bayang-bayang kecemasan konstan. Salah satu biang keladinya adalah kebiasaan digital kita. Kajian Royal Society for Public Health (2017) membuktikan bahwa paparan berlebih pada platform visual seperti Instagram—khususnya bagi mereka yang menggunakannya lebih dari 3 jam sehari—berbanding lurus dengan tingginya risiko depresi, kecemasan, serta krisis kepercayaan diri terhadap tubuh dan kehidupan mereka sendiri.

Pertanyaannya: Kemana nilai, etika, dan praktik agama yang dengan bangganya sering didengungkan sebagai “rahmatan lil alamin”?? Jika hari2 kita direbut oleh kekuatan daya Tarik medsos, lalu apa yang kita baca? Apa yang dikejar oleh jari jemari dan mata kita ini?

2.  Diagnosis: Agama sebagai "Kosmetik" vs "Kompas"

Ibu, bapak dan teman-teman generasi muda Jamaah terawih Masjid UIN Sunan Kalijaga yang berbahagia

Mengapa paradoks ini terjadi?

Di era serba digital, kita sering kali terjebak menjadikan agama hanya sebagai symbol identitas sosial, komoditas dan bahkan kepentingan konten, bukan sebagai kompas kehidupan atau moral compass. Banyak yang mabuk Validasi dan flexing (atau biasa kita sebut sebagai Riya' Gaya Now): rajin memposting ayat dan pesan-pesan Al-Qur'an atau share foto sedang umrah di Insta Story, tapi di saat yang sama, jarinya begitu ringan mem-bully orang lain di kolom komentar. Kita sangat peduli pada jumlah likes dan followers, tapi abai pada orang-orang yang ada di sekitar kita, abai terhadap mereka yang menjadi korban bullying, korban kekerasan seksual yang semakin menjamur, dan bahkan korban flexing, yang merasa hidupnya tidak beruntung karena membandingkan dengan mereka yang pamer di media, menjadi insecure dan kurang bersyukur.

Di sisi lain femonena pemahaman agama yang didapatkan dengan Instan, dan Amal yang Dangkal semakin menjamur: anak-anak muda, bahkan oran tua, terbiasa dengan video 1 menit (Reels/TikTok), sebagai akibatnya pemahaman agama yang ditangkap menjadi terpotong-potong. Tahu halal-haram dari video pendek, lalu dengan mudah menghakimi, bahkan mengkafirkan atau menyesatkan orang yang berbeda pendapat. "Ironisnya lagi, muncul tradisi latah asal forward (meneruskan) pesan keagamaan. Pesan yang tidak jelas sanad dan siapa penulisnya, yang bahkan tak jarang berisi caci maki dan ujaran kebencian, justru dibagikan dengan bangga seolah itu adalah bentuk kesalehan dan dakwah." Paradoks yang sangat memprihatinkan. Agama menjadi nampak vokal di lisan dan dunia virtual, tapi gersang di hati dan menggelisahkan.

Allah SWT secara tegas menyindir kepribadian yang terbelah (paradoks) ini dalam Surah As-Shaff ayat 2-3:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ . كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ

"Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan."

Ayat ini relevan menyindir kita yang sering terjebak pada personal branding palsu,  share kebaikan di WhatsApp atau medsos, rajin forward materi keagamaan, tapi di dunia nyata kita jauh dari norma kebaikan itu, kita yang bicara agama begitu riuh di ruang normative dan dunia maya,  tapi sunyi dalam praktik nyata. Ini menegaskan bahwa mengatakan apa yang sebenarnya tidak dilakukan/dimiliki adalah sumber utama kecemasan (anxiety). Orang yang berbohong di media sosial akan selalu hidup dalam kecemasan, ketakutan: takut ketahuan aslinya, takut tersaingi, dan lelah karena terus-menerus menggunakan "topeng."

3.   Relevansi Agama bagi Generasi Jaman Now: Ramadhan sebagai JEDA membangun Semangat dan Tradisi Baru

Bapak, Ibu, dan teman-teman generasi muda Jamaah terawih Masjid UIN Sunan Kalijaga yang berbahagia

Masih hangat dalam ingatan kita, memori tentang masa-masa yang sangat mencekam dan menakutkan, yaitu saat Pandemi COVID-19 melanda (berakhir tahun 2020). Hari ini, Allah telah mengangkat wabah mengerikan itu, menggratiskan oksigen yg dulu begitu sulit dicari. Kita duduk di masjid ini, bisa menghirup udara segar dengan bebas tanpa masker dan tanpa rasa takut. Kita telah diberikan 'kesempatan hidup kedua,' pasca covid yang sangat menakutkan. Kita diberikan keselamatan dari virus mematikan, tapi rupanya kita malah terjangkit virus penyakit hati yang membuat jiwa kita lelah dan cemas setiap hari."

Lantas, bagaimana agar agama kembali relevan bagi kehidupan di era serba digital ini?

Agama tidak boleh hanya berhenti pada ritual dan semangat fikih yang kaku, atau hiasan pada contens yang folowersya jutaan, tapi harus hadir sebagai solusi mental-psikologis dan sosial. Bagi adik adik Gen Z yang sering merasa burnout, lelah, FOMO, overthinking memikirkan masa depan, atau siapapun yang sering merasa kesepian di tengah keramaian, mari kita ingatkan diri kita bahwa Agama diturunkan salah satunya sebagai Ultimate Healing (Penyembuhan Sejati).

Ibarat Handphone yg tiap hari hari butuh di-recharge, Mari jadikan bulan Ramadhan ini sebagai Charging Station dan sekaligus jeda atau mode off untuk kemudian kita bisa membangun Semangat & tradisi baru. Mari kita wujudkan dalam empat hal berikut ini:  

1.     Mari jadikan puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus tapi menahan jempol dari berkomentar jahat yang menyakitkan atau menyingung orang lain; Menahan mata, pikiran, dan hati dari membandingkan hidup (panggung belakang kita) dengan flexing (pamer, semata panggung depan) kehidupan orang lain di layar HP. Mari sibukkan diri untuk mentradisikan hal-hal positif.

2.    Mari beranjak Dari Layar (koneksi semu) ke Realita (Koneksi Nyata): mari mengambil jeda/mode off, tinggalkan sejenak dunia virtual. Kehadiran fisik ibu bapak, adik-adik di masjid malam ini, shaf yang rapat saat Tarawih, bersapa hangat dengan teman di sebelah, adalah bentuk Mindfulness (kesadaran penuh) dan koneksi sosial yang akan mematikan rasa kesepian dan menjadi obat bagi kecemasan.

3.    Mari Jadikan Al-Qur'an sebagai Anchor (Jangkar): Di tengah arus informasi yang bergerak sangat cepat dan seringkali menyesatkan (hoax), kita butuh jangkar agar tidak terseret arus. Jangkar itu adalah agama, Al-Qur'an dan tentu ayat2 kauniyah. Bacalah dengan perlahan dan berusaha memahami setiap ayat al-Qur’an dan tanda alam, bukan sekadar untuk konten, tapi untuk direnungkan, dijadikan pegangan/rujukan validasi, dan diamalkan."

4.    Mari bangun kekuatan dari dalam, tidak perlu berisik menuntut atau menunggu orang lain menjadi lebih baik atau menjadi validator eksternal bagi keberadaan kita. Mari mulai dari diri sendiri, dengan mengontrol/mengendalikan pikiran, sikap dan tindakan kita sendiri.

4. Penutup (Call to Action)

"Hadirin sekalian ... Mari kita gumakan momentum Ramadhan untuk pelan-pelan mengakhiri paradoks ini. Jangan sampai HP kita lebih pintar (smartphone) dari pada penggunanya, dan jangan sampai timeline medsos kita terlihat lebih saleh daripada akhlak dan perilaku kita di dunia nyata.

Ramadhan adalah bulan Install Ulang perangkat lunak jiwa kita. Mari kita gunakan bulan ini untuk mentransformasi agama dari sekadar teks dan konten di layar kaca, menjadi  konteks di dunia nyata, dari sekedar tontonan yang mencemaskan, menjadi tuntunan yang membahagiakan.

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ"

Semoga Allah SWT membimbing kita menjadi generasi yang tidak hanya saleh secara digital, tapi juga saleh secara emosional, sosial dan spiritual, dan hidup didekap ketenangan dan kebahagiaan. Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh."