Kejahatan kemanusiaan yang dilakukan Presiden Amerika Serikat (Donald Trump) dan Israel di Timur Tengah dengan mengobarkan perang, telah merusak tatanan demokrasi dan nilai-niai kemanusiaan. Kejahatan terbaru yang dilakukan dua negara ini mengusik kedamaian warga Iran yang sedang menjalankan ibadah puasa Ramadhan dengan menjatuhkan puluhan bom ke wilayah Iran pada sabtu dini hari 28 Februari 2026. Tragedi kemanusiaan kini terulang lagi di Timur Tengah dengan kejahatan perang yang dimulai Israel menyulut bara yang bisa membakar kawasan.
Sejak kehadiran “negara Israel” di tanah Palestina pasca perang dunia II, seiring dengan kekalahan Turki Ottoman melawan “blok sekutu” membuat bara timur tengah seolah tidak pernah padam. Israel sebagai negara kecil selalu membuat keonaran di Timur Tengah karena selalu didukung Amerika Serikat dan negara Barat. Sejahat apapun tindakan yang dilakukan Israel selalu didukung Amerika Serika dan Barat, sehingga membuat Israel tidak pernah berhenti membuat ancaman dan menebar teror.
Sudah berapa banyak sanksi dan resolusi PBB yang dberikan kepada Israel, namun tidak ada artinya karena dianggap angin lalu. Amerika Serikat selalu memveto sanksi yang diberikan PBB ke Israel. Amerika tidak hanya memveto, namun juga mendukung setiap apa yang dilakukan Israel termasuk kejahatan terbaru dengan menyerang Iran secara sepihak. Israel adalah kejahatan yang dipelihara Amerika dan Barat di Timur Tengah untuk membuat kawasan tidak aman dan bagaikan bara yang selalu menebarkan konflik dan permusuhan. Bagi Amerika, Israel dan Barat, demokrasi hanya wacana akademik yang didiskusikan di ruang kampus. Demokrasi boleh ditulis dalam ribuan lembaran tesis, disertasi dan artikel jurnal. Namun dalam praktiknya demokrasi hanya pepesan kosong dan demokrasi tidak berdaya menghadapi hemegoni kekuatan senjata yang bisa digunakan untuk membunuh setiap orang demi kekuasaan, minyak dan tambang.
Melalui hegemoni kekuatan senjata, Amerika Serikat menginjak-injak demokrasi, menangkap presiden negara yang berdaulat, menyerang negara berdaulat dengan berbagai dalih. Sudah begitu banyak drama kejahatan yang dilakukan Amerika di berbagai negara. Dulu Amerika menuduh Saddam Husein (Irak) memiliki senjata kimia pemusnah massal, sehingga menjadi alasan bagi Amerika menyerang Irak dan membunuh Saddam Hussein. Ternyata tuduhan tersebut hanya kebohongan besar dan tidak benar Irak memiliki senjata kimia. Namun Irak sudah terlanjur dirusak, rakyatnya mederita dan ladang minyaknya dikuasi Amerika. Sekarang Amerika dan Israel menuduh Iran memiliki senjata Nuklir, dan menjadi alasan mereka menyerang Iran, menjatuhkan puluhan bom, menghancurkan gedung, dan membunuh warga yang tak berdosa. Tujuan akhirnya nanti, Amerika ingin mengganti rezim Iran dan menguasai ladang minyak Iran yang begitu kaya.
Iran selama ini dianggap ancaman besar bagi Israel, karena negara mullah ini konsisten membela perjuangan warga Palestina yang tertindas dan dijajah. Bagi Amerika tidak boleh ada negara yang menjadi ancaman bagi Israel, sehingga dengan berbagai cara harus dicari dalih pembenar untuk melemahkan negara tersebut. Apalagi Iran memiliki kekayaan ladang minyak yang besar, membuat Amerika akan melakukan berbagai cara untuk melemahkan Iran dengan mengganti rezimnya dan sekaligus bisa menguasai ladang minyaknya. Sejatinya Israel tanpa bantuan Amerika tidak akan berdaya menghadapi Iran. Namun karena Israel selalu didukung Amerika, membuat Israel selalu membuat keonaran dan konflik yang membara di Timur Tengah.
Politik busuk Donald Trump di Timur Tengah belakangan ini bertambah gila lagi dengan keinginan memindahkan (mengusir) warga Palestina dari tanah airnya. Dengan dalih recovery wilayah Gaza yang sudah hancur warga Palestina perlu dipindahkan (diusir). Kebijakan ini tentu sesuai dengan keinginan Israel dan sangat ditentang oleh Iran. Apa pun alasannya, ide memindahkan (mengusir) raakyat Palestina dari tanah airnya sendiri sangat sulit diterima akal sehat. Badai di timur tengah seolah tidak pernah reda sejak Israel hadir di tanah palestina. Entah sudah berapa banyak darah yang tumpah, sudah berapa banyak anak-anak dan kaum wanita Palestina yang terbunuh karena kebiadaban Israel yang didukung penuh Amerika selama ini.
Iran memahami sejarah panjang Palestina yang sebelum 1948 adalah negara damai dan sejahtera dibawah kekuasaan Turki Ottoman. Warga Palestina bisa hidup rukun di tengah pluralitas agama warganya (ada Muslim, Kristen dan Yahudi). Namun sejak 1948, ketika negara Israel didirikan di wilayah Palestina yang didukung penuh oleh Amerika, Inggris dan Perancis, membuat Palestina masuk pada tragedi yang memilukan. Warga Palestina diusir secara paksa dari tanah airnya, rumah dihancurkan, pemuda dipanjarakan, hingga wanita Palestina diperkosa. Benar-benar kejahatan kemanusiaan luar biasa yang dilakukan Amerika dan Israel sudah sampai pada titik nadir. Ketika Iran membela hak-hak warga Palestina yang tertindas, justru menjadi alasan bagi Amerika dan Israel menyerang Iran sebagai negara berdaulat. Kini demokrasi benar-benar dijadikan pepesan kosong. Umat manusia akan memasuki peradaban baru dengan prahara politik dan tragedi kemanusian yang memilukan karena hegemoni kekuatan senjata yag bisa membunuh manusia tak berdosa. (*)(Tulisan ini sudah terbit di Media Cetak KR tgl 3 Maret 2026)