Ramadhan sering datang dengan cara yang rahasia. Tidak hanya membawa perubahan pada ritme makan dan tidur, Ramadhan juga menggeser pusat kesadaran manusia…
Banyak orang melihat Ramadhan sebagai waktu memperbanyak ibadah. Tetapi bagi kami yang belajar bersama teman-teman difabel di Pusat Layanan Difabel (PLD), Ramadhan sejatinya menjadi ruang yang lebih dalam, ruang untuk melihat kembali bagaimana intervensi cahaya Nabi bekerja dalam kehidupan sosial kita.
Dalam keheningan malam-malam (semoga) lailatul Qodar ... saya merenungi bahwa Ramadhan sebenarnya sedang menunjukkan sesuatu yang sangat penting dalam metode yang selama ini kami renungkan. di mana sebenarnya locus dari cahaya itu bekerja?
Locus adalah titik tempat sebuah perubahan sosial benar-benar dimulai…
Selama ini banyak orang mengira perubahan sosial selalu dimulai dari program besar, kebijakan negara, atau proyek pembangunan… (Banyak perubahan sosial dibayangkan melalui program besar. Masyarakat lagi gandrung bicara MBG, PKH, Program ini atau itu… bisa jadi itu akan bagus) Namun dalam pengalaman kami di PLD, perubahan sering kali justru dimulai dari tempat yang sangat kecil… dari hati manusia yang mulai diterangi oleh kesadaran.
Di situlah saya mulai memahami kembali satu hal Ramadhan adalah waktu ketika locus cahaya kembali dipulangkan ke dalam diri manusia.
Puasa bukan sekadar menahan lapar. puasa adalah latihan menata pusat kendali diri. Ketika seseorang menahan diri dari sesuatu yang sebenarnya halal, kita sedang belajar bahwa manusia tidak hanya digerakkan oleh kebutuhan tubuh, tetapi juga oleh kesadaran batin.
Dalam konteks itulah Metode Intervensi Cahaya Nabi untuk difabel menemukan maknanya...
Metode ini tidak pernah memulai intervensi dari luar manusia. Ia selalu dimulai dari dalam. Cahaya tidak dipaksakan dari luar, tetapi dibangkitkan dari kesadaran yang hidup di dalam diri.
Ramadhan memperkuat locus pertama ini...cahaya individu.
Di bulan Ramadhan seseorang niscaya belajar melihat dirinya dengan lebih jujur. Ia lebih mudah menyadari kemarahannya, kesabarannya, bahkan kelembutan yang mungkin selama ini tertutup oleh rutinitas kehidupan. Kesadaran semacam inilah yang menjadi titik awal semua perubahan sosial yang bermakna… bukan hanya perubahan yang digelontorkan dari Pusat
Namun cahaya individu tidak berhenti di situ.
Di PLD kami sering melihat bagaimana kesadaran pribadi perlahan berubah menjadi kesadaran relasi. Seorang mahasiswa tuli yang berbuka puasa bersama teman-temannya misalnya, tidak hanya merasakan kebersamaan secara sosial. Ia juga merasakan sesuatu yang lebih dalam… bahwa ia tidak sendirian dalam dunia ini.
Saat minggu lalu saya diundang oleh komunitas mahasiswa Tuli dalam acara buka puasa Bersama… Di meja berbuka sederhana itu, sering kali muncul percakapan kecil yang hangat. Ada yang belajar bahasa isyarat. Ada yang menuntun teman netra mengambil makanan. Ada yang tertawa karena salah memahami gerakan tangan.
Peristiwa kecil seperti itu mungkin terlihat biasa. Tetapi sebenarnya di situlah locus kedua dari cahaya sedang bekerja: cahaya sosial.
Cahaya ini muncul ketika manusia mulai saling melihat sebagai sesama makhluk Tuhan yang setara. Tidak ada yang lebih tinggi, tidak ada yang lebih rendah. Yang ada hanyalah manusia yang sedang belajar menjadi lebih manusia… belajar melihat Manusia
Ramadhan memperkuat ruang ini. Puasa membuat manusia lebih mudah merasakan lapar orang lain. Ia membuka pintu empati yang selama ini sering tertutup oleh kenyamanan hidup.
Tetapi perjalanan cahaya tidak berhenti pada relasi personal dan komunitas saja.
Jika kesadaran individu dan kesadaran sosial terus dipelihara, pada suatu titik ia akan menuntun manusia untuk melihat struktur kehidupan yang lebih luas. Ia akan bertanya, "apakah sistem yang kita bangun sudah memantulkan nilai-nilai kemanusiaan itu?"
Di sinilah muncul locus ketiga: cahaya penuntun dalam sistem sosial
Bagi kami di PLD, pertanyaan ini menjadi sangat nyata. Bagaimana kampus melayani mahasiswa difabel? Apakah akses ruang kelas sudah ramah bagi semua? Apakah metode belajar membuka kesempatan yang sama?
Pertanyaan-pertanyaan ini tidak lahir dari kemarahan tetapi lahir dari kesadaran bahwa sistem sosial juga harus memantulkan cahaya kemanusiaan.
Ramadhan sering kali mempercepat kesadaran ini. Ketika manusia merasakan kelembutan spiritual, ia juga menjadi lebih sensitif terhadap ketidakadilan sosial.
Itulah sebabnya dalam Metode Intervensi Cahaya Nabi, locus cahaya tidak hanya berhenti pada pengalaman spiritual pribadi tetapi bergerak dari individu, menuju komunitas, lalu menuju sistem.
Ramadhan sebenarnya memperlihatkan seluruh perjalanan itu... dimulai dari puasa yang sangat personal. Lalu berkembang menjadi kebersamaan sosial melalui berbuka, tarawih, dan sedekah. Dan pada akhirnya ia menuntun manusia untuk membangun kehidupan yang lebih adil.
Ketika saya melihat kembali aktivitas teman-teman difabel di PLD selama Ramadhan, saya sering merasa bahwa semua proses ini sedang terjadi secara alami. Tanpa disadari mereka sedang membangun sebuah cara lain melihat dunia.
Malam-malam Ramadhan selalu terasa sedikit berbeda. Suasananya lebih tenang. Kampus yang biasanya ramai menjadi lebih sunyi. Dalam kesunyian seperti itu kadang saya teringat satu kalimat yang sederhana…
Tuhan tidak pernah membiarkan manusia berjalan dalam gelap sendirian.
Lailatul Qodar , 16 Maret 2026