Tadarus Difabel Minggu 79
Akhir pekan kemarin, Sabtu dan Minggu, Gedung Rektorat UIN Sunan Kalijaga tersenyum dalam cahaya, menerima pertemuan yang tidak biasa. Sebanyak 40 mahasiswa difabel netra, yang sebagian besar adalah mahasiswa UIN Sunan Kalijaga, serta dihadiri juga oleh mahasiswa difabel netra dari berbagai kampus lainnya termasuk dari UGM, UNS, UNU, UNY, ISI, UIN Walisongo Semarang, UT, hingga IIM Surakarta berkumpul untuk menjawab tantangan zaman dalam dunia kerja.
Rangkaian kegiatan ini, seluruhnya dilaksanakan oleh Mitra Netra dan jaringannya. Pusat Layanan Difabel (PLD) LPPM UIN Sunan Kalijaga ikut berkontribusi memberikan dukungan ruang aksesibilitas, pendampingan teknis, serta keterlibatan sejumlah relawan inklusi. Semua ini menjadi bukti bahwa ekosistem inklusi bukan sesuatu yang mustahil, ia hanya membutuhkan komitmen.
Sebagai relawan sekaligus Koordinator PLD UIN Sunan Kalijaga, saya telah mewajibkan semua mahasiswa difabel netra UIN Sunan Kalijaga untuk mengikuti acara ini. Dan hari itu saya menyaksikan mereka bertemu tidak sekadar untuk bersilaturahmi biasa. Mereka datang untuk mengikuti _Orientasi Dunia Kerja dan Karier untuk Mahasiswa Difabel Netra_ dengan semboyan “Lebih Siap, Lebih Baik”.
Ya, ini semacam pelatihan “mencari kerja”, atau lebih tepatnya, mencari arah dalam dunia kerja di Indonesia yang belum sepenuhnya inklusif. Begitu kira-kira kondisinya
Saat di luar sana orang-orang ramai meributkan sulitnya mencari kerja ini dan itu, di sini, di UIN Sunan Kalijaga, para mahasiswa difabel netra itu justru sibuk menyiapkan diri dan terus meningkatkan kualitas.
Selama dua hari, mereka mengikuti pelatihan yang membekali keterampilan dasar hingga strategis, termasuk menyusun CV, membuat action plan, memahami peluang kerja termasuk menjadi PNS, hingga berlatih mengerjakan soal dan “teka-teki” dunia pekerjaan.
Namun yang lebih penting dari itu semua adalah mereka dilatih untuk memiliki keberanian untuk memasuki ruang yang selama ini terasa jauh. Syukur-syukur, saya berharap mereka justru nantinya malah bisa menciptakan lapangan kerja, minimal untuk diri sendiri.
Saya bertanya kepada Risma, salah seorang peserta. Ia mengaku sangat senang dengan pelatihan ini yang membuatnya: “…Semangat berjuang meski kadang sulit, luar biasa Pak dengan adanya pelatihan ini dapat pengalaman buat mencari kerja ke depannya”. demikian kata Risma
Sama seperti Risma, peserta lain juga menyambut acara ini dengan nada positif. Amin yang datang dari jauh mengaku: “Saya seneng karena mendapat wawasan dan pengetahuan real terkait lika liku dunia kerja”, demikian ungkap Amin
Masih penasaran, saya kemudian bertanya juga kepada salah seorang peserta perempuan lain, Sifa, yang sedang duduk. Terkait tanggapannya mengenai acara ini, Sifa menjawab:
“Luar biasa mantap semoga ada dampaknya ke depan”.
Sifa mengaku di acara ini diajari attitude mencari kerja, hak-hak disabilitas, serta mendapatkan suntikan pengalaman dari alumni yang sudah sukses, termasuk pemaparan terkait peluang di lembaga yang merekrut difabel netra dari pihak perusahaan yang juga diundang dalam kegiatan tersebut.
Ungkapan mereka tersebut mungkin belum kuat secara pengalaman. Namun justru di situlah kejujurannya. Tidak dibungkus oleh teori, tidak dipoles, Suara itu lahir langsung dari perasaan selama mengikuti pelatihan ini
Kegiatan ini juga menghadirkan perspektif dunia industri yang membuka ruang dialog tentang peluang kerja bagi difabel netra. Di titik ini, kita dapat melihat bahwa persoalan bukan semata tertumpu pada kemampuan difabel, tetapi juga pada kesiapan sistem untuk menerima keberagaman manusia dalam dunia kerja
Mengapa pengalaman seperti ini masih terasa istimewa?
Mengapa akses terhadap dunia kerja masih menjadi perjuangan yang tidak sederhana, termasuk bagi difabel?
Di sinilah kita perlu jujur melihat bahwa hambatan terbesar sering kali bukan pada individu, tetapi pada struktur sosial yang belum inklusif. Dunia kerja masih dibangun dengan asumsi yang seragam, bahkan dengan stigma negative bagi alumni tertentu, tanpa cukup ruang bagi perbedaan. Ini adalah persoalan keadilan sosial. Tentang bagaimana sistem harus diubah agar setiap individu memiliki kesempatan yang setara.
Pelatihan ini, dengan segala kesederhanaannya, adalah bagian dari bentuk intervensi sosial. tidak hanya melatih keterampilan, tetapi juga membangun kesadaran, baik bagi difabel maupun bagi sistem dunia kerja itu sendiri.
Dan mungkin, dari ruang megah Gedung Rektorat UIN Sunan Kalijaga selama dua hari itu, kita bisa belajar satu hal penting. Bahwa mereka, difabel netra yang berjalan dalam gelap itu tidak pernah benar-benar kehilangan cahaya. Mereka hanya sedang belajar menemukannya dengan cara yang berbeda... Pandangan mata Mereka mungkin gelap tidak bisa melihat tapi mereka telah menjadi yang paling siap menatap masa depan
Mereka adalah para pembawa cahaya Nabi di tengah gelap dan minimnya lapangan kerja di tanah air mereka sendiri … Indonesia
Pekerjaan Layak dalam Percik Perenungan
Yogyakarta, 13 April 2026