Tadarus Difabel Minggu ke-83
Pagi itu saya membayangkan sedang duduk berhadapan dengan Rasulullah.
Tidak untuk membicarakan perkara besar tentang geopolitik dunia atau cerita perjalanan survey lokasi KKN Mahasiswa... Saya hanya ingin berkonsultasi dengan Nabi tentang difabel... Lalu saya membayangkan beliau akan tetap duduk dengan tenang dan beliau tidak juga terburu-buru saat memberi jawaban. Beliau adalah seorang yang benar-benar ingin mendengar manusia sampai selesai. Wajahnya terbayang akan teduh dan tatapannya akan membuat kita semua merasa aman untuk bercerita kepadanya...
Lalu saya mulai bertanya pelan, begini: “Ya Rasulullah… mengapa hari ini banyak orang mengaku mencintai kemanusiaan, tetapi masih sulit menerima perbedaan manusia?”
...Saya membayangkan menunggu cukup lama, karena Nabi tidak langsung menjawab, seolah sedang memberi kesempatan untuk terlebih dulu mengambil jawaban dari pengalaman kita sendiri... untuk melihat kenyataan zaman kita dengan lebih jujur.
di tengah diam sang Nabi... Lalu saya lanjutkan bercerita kepada beliau tentang anak difabel yang ditolak sekolah karena dianggap berbeda dan merepotkan. Tentang mahasiswa difabel yang harus berjuang sendiri memahami materi kuliah karena akses belum tersedia. Tentang orang tua yang diam-diam menangis dalam hati karena anaknya terus dipandang sebelah mata... saya membayangkan Nabi akan terus menyimak cerita saya dengan seksama
...Dalam penantian akan jawaban, saya kemudian melanjutkan bercerita tentang masyarakat yang terkadang memuji difabel sebagai inspirasi, tetapi sering lupa untuk menyediakan jalan yang memudahkan hidup mereka. Tentang gedung-gedung megah yang sulit dimasuki pengguna kursi roda. Tentang masjid yang indah tetapi belum ramah terutama bagi difabel netra dan tuli. Tentang dunia yang sering meminta difabel untuk kuat, hanya supaya masyarakat tidak perlu berubah.
....dan saya masih tetap membayangkan Nabi tetap menyimak kisah semuanya dengan tenang.
Lalu di tengah cerita panjang itu, saya akan membayangkan seperti mendengar satu pertanyaan lembut datang dari arah beliau:
“Apakah manusia hari ini lebih suka mengagumi perjuangan difabel… daripada menghapus penderitaan mereka?”
Saya akan terdiam...
Karena mungkin memang benar begitu. Kita lebih mudah tersentuh oleh cerita perjuangan daripada benar-benar memperjuangkan keadilan. Kita terharu melihat pengguna kursi roda naik tangga, tetapi tidak marah ketika bangunan dibuat tanpa ramp. Kita kagum melihat difabel netra lulus kuliah, tetapi tidak bertanya mengapa akses masih sulit. Kita memuji semangat difabel tuli, tetapi tidak pernah belajar bahasa isyarat agar bisa benar-benar mendengar kehidupan mereka
Lalu saya kembali bertanya imajiner:
“Ya Rasulullah… apakah kami sudah cukup baik?”
Dan saya membayangkan beliau kembali diam cukup lama…
Karena mungkin kebaikan memang bukan hanya tentang niat lembut di hati. Kebaikan juga tentang apakah kehadiran kita membuat orang lain lebih dimudahkan hidupnya atau justru tetap tersisih. Tentang apakah kita benar-benar membuka ruang, atau lebih sibuk merasa terinspirasi.
Pagi itu saya hanya membayangkan dan merasa seperti sedang berkonsultasi dengan nabi, tetapi Nabi tentu saja tidak sedang berada di hadapan saya...
Kita sedang berdialog dengan cahaya nabi yang ada dalam nurani kita sendiri. Nurani kita yang mungkin masih tersisa ada sedikit Cahaya Muhammad menyala di dalamnya... Cahaya yang mengajarkan bahwa manusia harus dilihat dan diperlakukan dengan martabat.
Sebelum bayang-bayang itu perlahan pergi, saya merasa mendengar satu kalimat terakhir:
“Jangan hanya sibuk menjadi orang baik. Jadilah manusia yang membuat orang lain merasa dimanusiakan.”
Dan saya tiba-tiba merasa kalimat itu sangat berat.
Meski sebenarnya tidak banyak yang diinginkan sodara kita yang Difabel …Mereka hanya ingin sekolah tanpa dipersulit.
Ingin bekerja tanpa dipandang remeh.
Ingin beribadah tanpa merasa asing.
Ingin dicintai tanpa dianggap beban.
Mereka hanya ingin hidup sebagai manusia… di dunia yang benar-benar mau melihat mereka sebagai manusia....
Pagi itu…Shalluu Alan Nabi Yogyakarta, 11 Mei 2026 in