UIN SUKA

Kamis, 10 September 2026 09:00:00 WIB

0

Menapaki Jalan Persatuan Umat melalui Kalender Hijriah Global : Prof. Dr. Susiknan azhari Guru Besar fak. Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Persatuan umat Islam merupakan cita-cita yang terus diupayakan melalui berbagai jalan. Salah satunya adalah membangun sistem kalender Hijriah yang mampu menyatukan umat dalam menentukan waktu-waktu keagamaan. Kalender bukan sekadar alat untuk mengetahui tanggal, tetapi juga menjadi sarana penting dalam menyatukan pelaksanaan Ramadan, Idulfitri, Iduladha, dan berbagai momentum keislaman lainnya.

Infografis ini menggambarkan perjalanan gagasan Kalender Hijriah Global dengan menampilkan 14 negara di Eropa dan Amerika yang dikaitkan dengan penggunaan atau penerimaan Kalender Hijriah Global Turki, yaitu Bosnia dan Herzegovina, Kroasia, Prancis, Jerman, Irlandia, Kosovo, Luksemburg, Makedonia Utara, Montenegro, Serbia, Slovenia, Turki, Amerika Serikat, dan Kanada. Deretan bendera tersebut menjadi simbol bahwa gagasan tentang kalender Islam global melampaui batas geografis dan kebangsaan.

Turki memiliki tempat penting dalam perkembangan gagasan kalender global. Konferensi Penyatuan Kalender Internasional di Istanbul pada 1437/2016 menjadi salah satu tonggak penting yang melahirkan Kriteria Turki 1437/2016. Kriteria tersebut menjadi bagian dari ikhtiar astronomis untuk membangun kalender Hijriah yang dapat digunakan secara bersama di seluruh dunia dengan mempertimbangkan visibilitas hilal dan ketentuan awal bulan secara global.

Dalam konteks Indonesia, bendera Merah Putih pada infografis merepresentasikan Muhammadiyah yang telah menerima dan menerapkan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). Kehadiran Indonesia dalam rangkaian visual tersebut menunjukkan bahwa pembicaraan tentang kalender global juga mendapat perhatian dan pengembangan dari organisasi Islam di Indonesia. Namun, hal ini tidak berarti bahwa pemerintah Indonesia secara resmi telah menetapkan KHGT sebagai kalender nasional.

Pesan “Bersama Menuju Persatuan Umat dengan Kalender Hijriah Global” menjadi inti dari visual tersebut. Persatuan yang dimaksud bukan berarti menghilangkan perbedaan pandangan, melainkan membangun ruang dialog dan kesepahaman berdasarkan pertimbangan keilmuan, astronomi, dan kemaslahatan umat.

Pada akhirnya, menapaki jalan menuju kalender Hijriah global adalah sebuah proses. Diperlukan keterbukaan, dialog, penelitian, dan kesediaan untuk terus menyempurnakan gagasan. Dari berbagai negara yang berbeda, umat Islam dapat menemukan titik temu dalam satu kebutuhan yang sama: menghadirkan sistem waktu yang lebih terpadu, dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, dan mampu memperkuat ukhuwah dalam menjalankan ibadah dan merayakan hari-hari besar Islam secara bersama di penjuru dunia. Inilah semangat yang hendak disampaikan: perbedaan wilayah tidak semestinya menjadi penghalang untuk menapaki jalan menuju persatuan umat.

Wa Allahu A'lam bi as-Sawab