Hari ini UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta memperingati milad ke-75. Tujuh puluh lima tahun merupakan perjalanan panjang yang tidak hanya menandai pertambahan usia, tetapi juga menunjukkan kemampuan sebuah perguruan tinggi untuk bertahan, berkembang, dan merespons perubahan zaman. Karena itu, milad tidak seharusnya berhenti sebagai perayaan seremonial. Milad adalah momentum untuk mensyukuri perjalanan, membaca capaian, sekaligus menegaskan arah masa depan. Tema “Dari Keunggulan Akademik Menuju Dampak Global” memberikan pesan yang jelas bahwa keunggulan akademik tidak boleh menjadi tujuan akhir. Keunggulan harus diterjemahkan menjadi kontribusi nyata yang dirasakan masyarakat dan memiliki relevansi lebih luas.
Berbagai kegiatan diselenggarakan untuk memeriahkan milad ke-75 tersebut. Salah satunya adalah Jalan Sehat yang dilepas oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Arifatul Choiri Fauzi, bersama Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Noorhaidi Hasan. Kegiatan ini memang sederhana, tetapi memiliki makna penting bagi kehidupan sebuah perguruan tinggi. Jalan sehat mempertemukan berbagai unsur civitas akademika dalam suasana yang lebih egaliter dan cair. Dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, dan berbagai unsur lain dapat hadir dalam satu ruang kebersamaan. Di tengah rutinitas akademik yang sering kali dipenuhi target, laporan, penelitian, pembelajaran, dan berbagai tugas kelembagaan, momentum semacam ini mengingatkan bahwa perguruan tinggi pada dasarnya dibangun oleh manusia dan kebersamaan mereka.
Milad ke-75 juga hadir bersama berbagai capaian yang patut disyukuri. Prestasi UIN Sunan Kalijaga terus berkembang, baik pada tingkat nasional maupun internasional. Capaian tersebut tidak lahir dari kerja individual, tetapi merupakan buah dari kerja kolektif yang melibatkan banyak pihak. Setiap prestasi merupakan hasil dari proses panjang yang membutuhkan komitmen, kolaborasi, konsistensi, dan keberanian untuk melakukan pembaruan. Karena itu, capaian yang telah diraih bukan alasan untuk berhenti, melainkan modal untuk melangkah lebih jauh.
Di antara berbagai capaian tersebut, berdirinya Fakultas Kedokteran merupakan salah satu tonggak penting dalam sejarah perkembangan UIN Sunan Kalijaga. Kehadirannya menunjukkan bahwa universitas Islam tidak harus terkungkung pada batas-batas keilmuan yang selama ini melekat pada dirinya. Sebaliknya, tradisi keislaman dapat menjadi fondasi untuk memasuki berbagai disiplin ilmu modern. Fakultas Kedokteran menjadi bukti bahwa gagasan tentang integrasi dan interkoneksi keilmuan dapat diterjemahkan ke dalam bangunan kelembagaan yang konkret.
Salah satu program studi telah memperoleh izin operasional dan mulai berjalan, sementara program studi lainnya akan mengikuti. Capaian ini merupakan hadiah milad yang patut disyukuri oleh seluruh civitas akademika. Namun, rasa syukur tidak boleh membuat kita berhenti pada keberhasilan mendirikan fakultas. Justru setelah fakultas berdiri, pertanyaan yang lebih penting harus segera dijawab: Fakultas Kedokteran seperti apa yang hendak dibangun oleh UIN Sunan Kalijaga?
Pertanyaan tersebut penting karena UIN Sunan Kalijaga tidak sedang sekadar menambah satu fakultas baru. Kehadiran Fakultas Kedokteran membawa peluang untuk memperluas makna integrasi keilmuan yang selama ini menjadi salah satu karakter UIN. Karena itu, Fakultas Kedokteran UIN Sunan Kalijaga tidak boleh hanya menjadi fakultas kedokteran yang kebetulan berada di lingkungan perguruan tinggi Islam. Fakultas ini harus memiliki identitas akademik yang lahir dari dialog serius antara Islam, sains modern, dan kemanusiaan.
Keunikan tersebut harus dirancang sejak awal, terutama melalui kurikulum, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan budaya akademiknya. Kurikulum tidak cukup hanya memenuhi standar pendidikan kedokteran sebagaimana ditetapkan secara nasional. Standar tersebut tentu menjadi fondasi yang wajib dipenuhi. Namun, di atas fondasi itu harus dibangun karakter khas UIN Sunan Kalijaga. Di sinilah khazanah intelektual Islam dapat memperoleh ruang yang lebih substantif.
Salah satu wilayah yang menarik untuk dikembangkan adalah dialog antara Tibbun Nabawi dan kedokteran modern. Gagasan ini tentu tidak boleh dipahami secara sederhana sebagai upaya memasukkan sejumlah praktik pengobatan yang dikaitkan dengan tradisi Nabi ke dalam kurikulum kedokteran modern. Keduanya memiliki latar sejarah, epistemologi, metodologi, dan perkembangan yang berbeda. Karena itu, yang dibutuhkan bukan sekadar pencampuran, tetapi dialog akademik yang kritis dan berbasis penelitian.
Tibbun Nabawi dapat menjadi salah satu khazanah yang dikaji secara serius, sementara kedokteran modern memberikan kerangka ilmiah dan metodologis untuk menguji, mengembangkan, serta memahami berbagai praktik kesehatan secara objektif. Dengan pendekatan seperti ini, integrasi Islam dan kedokteran tidak jatuh pada romantisme masa lalu, tetapi juga tidak kehilangan akar intelektual Islam. Di sinilah UIN Sunan Kalijaga memiliki kesempatan untuk menawarkan sesuatu yang khas, pendidikan kedokteran yang modern dalam metodologi, kuat dalam sains, tetapi tetap memiliki kedalaman nilai dan perspektif keislaman.
Pada akhirnya, keunikan sebuah fakultas tidak hanya ditentukan oleh nama, gedung, fasilitas, atau jumlah program studi. Keunikan terutama ditentukan oleh manusia yang dilahirkannya dan nilai yang dibawanya ke tengah masyarakat. Karena itu, dokter lulusan UIN Sunan Kalijaga harus memiliki nilai plus. Nilai plus tersebut bukan berarti lebih tinggi daripada lulusan perguruan tinggi lain, melainkan memiliki karakter yang membedakannya.
Dokter UIN Sunan Kalijaga harus kompeten secara profesional, tetapi pada saat yang sama memiliki integritas, empati, kepedulian sosial, kemampuan komunikasi, kedalaman spiritual, dan kepekaan terhadap persoalan kemanusiaan. Ia tidak melihat pasien semata-mata sebagai objek diagnosis dan terapi, tetapi sebagai manusia yang memiliki keluarga, nilai, keyakinan, harapan, dan persoalan kehidupan. Ilmu kedokteran harus bertemu dengan kemanusiaan. Di situlah nilai sebuah pendidikan kedokteran diuji.
Harapan tersebut sesungguhnya memiliki akar dalam pengalaman UIN Sunan Kalijaga. Pada masa lalu, kehadiran mahasiswa ketika melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) sering kali dirasakan begitu kuat oleh masyarakat. Mereka tidak sekadar hadir untuk memenuhi kewajiban akademik, tetapi berinteraksi, membantu, dan membangun hubungan dengan masyarakat. Bahkan, ketika masa KKN berakhir dan mahasiswa harus kembali ke kampus, tidak jarang masyarakat merasa berat melepaskan mereka. Kerinduan masyarakat terhadap mahasiswa KKN merupakan gambaran sederhana tentang bagaimana sebuah perguruan tinggi dapat menghadirkan manfaat yang nyata.
Tradisi tersebut harus diteruskan dalam bentuk yang lebih luas melalui Fakultas Kedokteran. Suatu saat nanti, ketika dokter-dokter alumni UIN Sunan Kalijaga bertugas di rumah sakit, puskesmas, klinik, daerah perkotaan maupun pelosok negeri, masyarakat semestinya tidak hanya mengenal mereka karena kecakapan medisnya. Masyarakat harus merasakan kehadiran mereka sebagai dokter yang peduli, berintegritas, manusiawi, dan mampu memberikan pelayanan dengan pendekatan yang utuh. Dengan demikian, dokter UIN Sunan Kalijaga tidak hanya hadir ketika masyarakat membutuhkan layanan kesehatan, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan masyarakat itu sendiri.
Di sinilah makna tema milad ke-75 menjadi semakin relevan. Dari keunggulan akademik menuju dampak global tidak boleh dipahami hanya sebagai slogan. Keunggulan akademik harus melahirkan manusia yang memberikan dampak. Fakultas Kedokteran dapat menjadi salah satu ruang strategis untuk mewujudkan gagasan tersebut. Dari ruang kuliah dan laboratorium lahir ilmu; dari ilmu lahir kompetensi; dari kompetensi lahir pelayanan; dan dari pelayanan lahir kemanfaatan bagi masyarakat.
Karena itu, kehadiran Fakultas Kedokteran harus dipandang sebagai awal, bukan akhir. Tantangan sesungguhnya justru dimulai setelah fakultas berdiri. UIN Sunan Kalijaga harus berani menetapkan identitas akademiknya, membangun kurikulum yang khas, memperkuat riset yang mempertemukan Islam dan sains, serta menanamkan nilai kemanusiaan dalam pendidikan kedokteran. Semua itu membutuhkan kerja kolektif dan visi jangka panjang.
Tujuh puluh lima tahun perjalanan UIN Sunan Kalijaga memberikan modal sejarah yang kuat untuk melangkah ke masa depan. Fakultas Kedokteran merupakan bagian penting dari babak baru tersebut. Fakultas ini tidak cukup hanya menghasilkan dokter yang mampu mengobati penyakit. Ia harus melahirkan dokter yang mampu menghadirkan ilmu, nilai, empati, dan pengabdian secara bersamaan.
Pada akhirnya, keberhasilan Fakultas Kedokteran UIN Sunan Kalijaga tidak hanya diukur dari jumlah dokter yang diluluskan, akreditasi yang diperoleh, atau prestasi akademik yang dicapai. Ukuran yang lebih mendasar adalah seberapa jauh kehadiran para alumninya memberikan manfaat dan seberapa kuat masyarakat merasakan nilai kemanusiaan dalam pelayanan mereka. Jika kelak masyarakat menantikan kehadiran dokter-dokter alumni UIN Sunan Kalijaga sebagaimana dahulu masyarakat merindukan mahasiswa KKN-nya, maka pada saat itulah keunggulan akademik benar-benar telah berubah menjadi dampak.
Milad ke-75 dengan demikian bukan sekadar perayaan usia. Ia adalah momentum untuk menegaskan bahwa perjalanan panjang UIN Sunan Kalijaga belum selesai. Di hadapan kita terbentang babak baru, dan Fakultas Kedokteran dapat menjadi salah satu penanda pentingnya. Dari Yogyakarta, lahir dokter-dokter yang menguasai sains, berakar pada nilai, dan berpihak pada kemanusiaan. Dari kampus Islam yang memiliki sejarah panjang, lahir generasi profesional yang mampu membawa ilmu dan pengabdian melampaui batas ruang. Itulah makna sesungguhnya dari bergerak dari keunggulan akademik menuju dampak global.
_Wa Allahu A'lm bi as-Sawab_