”Welcome to Japan…” Demikian kalimat sambutan yang kami terima begitu saya mendarat untuk pertamakalinya di Jepang, sebuah negeri yang namanya mungkin telah saya dengar sejak dalam kandungan ibu… ya Jepang, siapa orang Indonesia yang tak pernah mendengar Jepang dalam cerita panjang sejarah Indonesia.
Pagi itu saya mendarat di bandara internasional Narita Tokyo. Saat tiba di ruang imigrasi… di depan saya terpantau sudah ada sekitar seribuan orang sedang mengular dalam antrian yang sangat panjang untuk mendapat giliran pemeriksaan petugas imigrasi. Saya perhatikan mereka semua begitu tabah… saya pun langsung mendapat pelajaran pertama di Jepang, sabar dalam antrian yang Panjang itu. Pelayanan imigrasi mereka cepat dan para petugasnya sangat gesit meski nuansa horornya tidak hilang
Saya diundang datang ke Jepang tertulis sebagai Expert Mentor on Dissability Inklusive Higher Education atas undangan dari Asian Human Development Council (AHDC). Di Jepang kami diajak pergi kemana-mana… Salah satu pengalaman yang cukup membekas bagi saya adalah ketika menemani peserta shortcourse inklusif berkunjung ke Kyoto University.
Kyoto University bukan universitas kaleng-kaleng. Ia merupakan salah satu universitas riset terkemuka di Jepang. Dalam Times Higher Education (THE) World University Rankings 2026, Kyoto University berada pada peringkat ke-61 dunia. Dalam QS World University Rankings 2027, Kyoto berada pada peringkat ke-62 dunia dan menjadi universitas nomor dua di Jepang
Angka-angka tersebut tentu bukan segala-galanya. Tetapi bagi saya, ada alasan lain mengapa kunjungan ke Kyoto University begitu menarik. Karena itu, Meskipun saya datang ke Jepang sebagi Ekpert Mentor dalam membangun universitas inklusif, tetapi rasa ingin belajar saya telah mengalahkan posisi itu, saya malah lebih tertarik ingin menimba ilmu, mempelajari dan melihat bagaimana universitas yang masuk jajaran atas dunia itu bertumbuh dan ingin melihat bagaimana universitas dengan tradisi akademik yang kuat itu membangun kehidupan kampus yang inklusif.
Sebagai bagian dari pengelola Pusat Layanan Difabel (PLD) UIN Sunan Kalijaga yang saat ini menempati urutan kedua Universitas terbaik di Indonesia versi Times Higher Education World University Rankings 2027, saya membawa pertanyaan yang cukup sederhana, bagaimana Kyoto University memberikan ruang kepada mahasiswa difabel untuk belajar dan berkembang?
Kyoto University memiliki Disability Resource Center (DRC) yang memberikan dukungan kepada mahasiswa difabel. Saya bertemu dengan direktur DRC dan para jajarannya, kami diajak berkeliling universitas, kami dibebaskan untuk bertanya-tanya dan diperkenalkan dengan segala yang mereka punya. Ada konsultasi, reasonable accommodation, dukungan akses informasi, pendampingan pembelajaran, dukungan mahasiswa, sampai program yang berkaitan dengan transisi menuju dunia kerja.
Ada pula mahasiswa pendukung (saya mendengar dalam bahasa Jepang mereka dipanggil Sapota) yang membantu kebutuhan tertentu, seperti note-taking, transkripsi, pendampingan mobilitas, dan dukungan lain dalam kegiatan akademik.
Bagi saya, beberapa bentuk layanan tersebut sebenarnya bukan sesuatu yang asing. Di PLD UIN Sunan Kalijaga kami juga telah lama memiliki hal yang sama, kami melakukan pendampingan mahasiswa, mengembangkan relawan, membantu akses pembelajaran, berkomunikasi dengan dosen, dan terus memperbaiki sistem layanan.
Karena itu, yang menarik perhatian saya bukan semata-mata banyaknya layanan yang tersedia di Kyoto University.
Yang lebih menarik adalah cara layanan itu ditempatkan dalam kehidupan universitas. Ketika mahasiswa mengalami hambatan dalam belajar, persoalannya tidak hanya dilihat dari sisi mahasiswa. Ada perhatian pada hambatan yang muncul dari lingkungan belajar dan bagaimana dukungan dapat diberikan.
Cara berpikir ini mengingatkan saya pada pekerjaan sehari-hari saya di PLD.
Ketika mahasiswa Tuli membutuhkan akses komunikasi, kita mencari dukungan bahasa isyarat. Ketika mahasiswa netra membutuhkan bahan kuliah, kita menyiapkan format yang dapat diakses. Ketika mahasiswa membutuhkan penyesuaian pembelajaran, kita berkomunikasi dengan dosen.
Semua itu memang diperlukan. Tetapi pengalaman Kyoto membuat saya kembali bertanya. Apakah jangan-jangan ada sesuatu dalam sistem pembelajaran kita yang juga perlu diperbaiki?
Pertanyaan ini membawa ingatan kita pada Universal Design for Learning. Akomodasi individual tetap penting karena setiap mahasiswa mempunyai kebutuhan yang berbeda. Tetapi kampus juga perlu terus belajar agar pembelajaran, informasi, ruang, dan fasilitas sejak awal dapat diakses oleh lebih banyak orang.
Di sinilah saya melihat pekerjaan rumah PLD ke depan.
Hal lain yang menarik perhatian saya adalah sistem student supporter di Kyoto University. Mahasiswa dapat menjadi pendukung bagi mahasiswa difabel. Namun dukungan tersebut tidak hanya dibangun dari niat baik. Ada pelatihan, penugasan, dan pendampingan. Saya langsung teringat pada Sekolah Relawan PLD.
Kami juga berusaha membangun relawan melalui pengetahuan, keterampilan, dan kode etik. Setelah melihat pengalaman Kyoto, saya semakin merasa bahwa relawan tidak cukup hanya mempunyai semangat membantu. Pendampingan membutuhkan pengetahuan tentang disabilitas, keterampilan tertentu, dan etika.
Tetapi ada manfaat lain yang menurut saya lebih panjang. Mahasiswa yang menjadi relawan sebenarnya sedang belajar hidup bersama keberagaman.
Hari ini ia membantu mahasiswa difabel di kampus. Besok ia mungkin menjadi guru, dosen, pekerja, birokrat, peneliti, atau profesi lainnya. Pengalaman berinteraksi dengan difabel akan ikut membentuk cara ia memandang manusia.
Karena itu, relawan bukan hanya sumber daya bagi PLD. Relawan adalah bagian dari pendidikan inklusi itu sendiri.
Saya juga tertarik dengan program co-working yang dikembangkan DRC Kyoto University. Mahasiswa memiliki ruang untuk belajar dan mengerjakan tugas bersama dalam suasana yang mendukung.
Saya teringat ruang PLD di kampus saya di UIN Sunan Kalijaga. Di ruang itu mahasiswa tidak selalu datang untuk meminta layanan. Ada yang mengerjakan tugas, berdiskusi, menunggu teman, mengobrol, atau sekadar beristirahat.
Saya kira hal itu penting. Sebuah ruang inklusif tidak selalu harus menjadi tempat orang datang karena mempunyai masalah. Ia juga harus menjadi tempat orang datang karena merasa nyaman.
Karena itu, ketika kami membicarakan renovasi ruang PLD pada tahun 2026 ini, saya membayangkan ruang tersebut bukan hanya sebagai kantor pelayanan. Ia harus menjadi ruang Bersama, untuk diskusi, pelatihan, ngaji, menerima tamu, mengerjakan tugas mahasiswa difabel, beristirahat, dan bertemu.
Ruang yang memungkinkan orang hadir tanpa merasa berbeda.
Hal lain yang saya catat dari Kyoto adalah perhatian terhadap kehidupan mahasiswa setelah meninggalkan kampus. Dukungan tidak berhenti pada kegiatan akademik, tetapi juga menyentuh transisi menuju dunia kerja dan kehidupan sosial.
Sebagai orang yang belajar Ilmu Kesejahteraan Sosial, bagian ini terasa penting.
Mahasiswa difabel tidak cukup hanya dibantu agar dapat menyelesaikan kuliah. Mereka perlu memiliki kesempatan untuk mengembangkan kemampuan, memperoleh pekerjaan, membangun relasi, dan menjalankan keberfungsian sosialnya di masyarakat.
Dengan demikian, layanan difabel sebenarnya berkaitan dengan perjalanan hidup seseorang, bukan hanya persoalan perkuliahan.
Saya tidak pulang dari Kyoto dengan keinginan untuk meniru Kyoto University. Kyoto mempunyai konteksnya sendiri. UIN Sunan Kalijaga juga mempunyai sejarah, budaya, pengalaman, dan kekuatannya sendiri.
Yang saya bawa pulang adalah cara melihat. Selama ini PLD mungkin kita pahami sebagai tempat mahasiswa difabel memperoleh layanan. Setelah dari Kyoto, saya ingin melihatnya sedikit berbeda
PLD juga harus menjadi tempat UIN belajar menjadi inklusif.
Mahasiswa difabel bukan hanya penerima layanan. Pengalaman mereka dapat menjadi pengetahuan bagi universitas untuk memperbaiki pembelajaran, fasilitas, kebijakan, pelayanan, dan cara kita berinteraksi.
Saya datang ke Kyoto dan melihat bagaimana sebuah universitas besar melayani mahasiswa difabel.
Meskipun saya diundang ke Jepang sebagai ekspert mentor tetapi saya tetap ingin pulang sebagai pembelajar. Saya pulang dengan pertanyaan tentang kampus saya sendiri. Apakah kita sudah cukup hanya menyediakan layanan bagi mahasiswa difabel, atau sudah mulai belajar mengubah kampus agar semakin inklusif?
Saya rasa, itulah oleh-oleh saya dari Kyoto.
Bukan sebuah model yang harus disalin, tetapi sebuah pengalaman yang membuat kita bercermin. Mungkin, bagi kita di PLD, belajar dari universitas seperti Kyoto bukan tentang bagaimana menjadi seperti Kyoto. Tetapi bagaimana menjadi kampus yang semakin baik dalam cara kita sendiri untuk menginklusifkan kampus…
Setangkai Ole-Ole dari Kyoto 2026