WhatsApp Image 2026-01-02 at 16.29.47.jpeg

Jumat, 02 Januari 2026 16:16:00 WIB

0

Perangi Kekerasan Seksual di Lembaga Pendidikan, Tim Peneliti P2GHA Kembangkan Model Berbasis Sexual Intelligence Lintas Negara

Guru Besar Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menjadi salah satu penerima hibah MoRA The Awakened and Indonesia Research (AIR) Funds Tahun 2025 untuk pendanaan riset dan penelitian.

Menanggapi urgensi penanganan kekerasan seksual yang kian kompleks di institusi pendidikan berbasis agama, sebuah tim peneliti lintas negara menginisiasi riset kolaboratif bertajuk “Model Inovatif Pencegahan Kekerasan Seksual di Lembaga Pendidikan Berbasis Sexual Intelligence di Indonesia dan Tunisia: Kajian Integratif Nalar Bayani, Burhani, Irfani”.

Penelitian strategis ini dipimpin oleh pakar gender dan studi Islam, Prof. Alimatul Qibtiyah, M.Si., M.A., Ph.D., bersama tim peneliti yang terdiri dari Dr. Zusiana Elly Triantini, M.Si; Dr. Witriani, M.Hum; Dr. Siti Nur Hidayah, M.A., M.Sc; dan Arya Fendha Ibnu Shina, M.Si. Tim Peneliti berasal dari Pusat Studi Pengarustamaan Gender dan Hak Anak (P2GHA) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, sebuah pusat studi yang sudah berdiri di pertengahan tahun 90an.

Melampaui Pendekatan Normatif

Riset ini dilatarbelakangi oleh fenomena meningkatnya kasus kekerasan seksual di lembaga pendidikan yang selama ini cenderung ditangani secara reaktif. Prof. Alimatul Qibtiyah menekankan bahwa pendekatan hukum semata tidaklah cukup tanpa adanya transformasi kesadaran individu.

"Kekerasan seksual adalah persoalan kemanusiaan yang sangat kompleks. Selama ini, pendekatan kita cenderung reaktif dan hanya menyentuh aspek normatif saja. Melalui riset ini, kami ingin menawarkan solusi melalui 'Sexual Intelligence' yang diintegrasikan dengan nalar Bayani, Burhani, dan Irfani. Tujuannya adalah membangun kesadaran seksualitas yang sehat dan bermartabat, di mana nilai-nilai agama menjadi basis pencegahan yang kokoh, bukan sekadar simbol," ujar Prof. Alimatul.

Studi Komparatif Indonesia dan Tunisia

Pemilihan lokasi penelitian di Indonesia dan Tunisia menjadi poin krusial dalam proyek ini. Tunisia dipilih sebagai mitra komparasi karena posisinya sebagai salah satu negara di dunia Arab yang telah memiliki skema pendidikan seksualitas yang mapan secara formal. Melalui perbandingan sosiokultural ini, diharapkan muncul model pencegahan yang aplikatif namun tetap selaras dengan identitas budaya lokal.

Output Strategis dan Kemitraan

Proyek penting ini tidak hanya berhenti pada tataran teoritis. Output yang ditargetkan mencakup penyusunan Modul Trilingua (bahasa Indonesia, Inggris, dan Arab), penyediaan panduan praktis, serta pemberian rekomendasi kebijakan untuk penguatan karakter di lembaga pendidikan Islam.

Guna memastikan dampak sosial yang lebih luas, penelitian ini menjalin kemitraan strategis dengan dua organisasi perempuan terbesar di Indonesia, yakni LPPA Pimpinan Pusat 'Aisyiyah dan Pimpinan Wilayah Muslimat NU DIY.

"Sinergi dengan 'Aisyiyah dan Muslimat NU adalah langkah kunci agar hasil riset ini tidak hanya berakhir di perpustakaan, tetapi benar-benar terimplementasi di akar rumput. Kami ingin memastikan setiap lembaga pendidikan menjadi ruang aman (safe space) yang memanusiakan manusia," pungkasnya. (humassk)