Dosen Teknik Industri Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Dr. Ir. Trio Yonathan Teja Kusuma, S.T., M.T., IPM., ASEAN Eng, menjalani Yudisium Promosi Doktor pada Kamis (15/1/2026) di Auditorium Universitas Sebelas Maret (UNS), Surakarta.
Ia berhasil menyelesaikan studi doktoral pada Program Doktor Teknik Industri, Fakultas Teknik UNS, dalam waktu 3 tahun 6 bulan. Prestasi akademik tersebut ditutup dengan capaian Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,91 dan predikat cum laude dengan pujian.
Gelar doktor diraih melalui disertasi berjudul “Pengembangan Model Geowisata Gua Jomblang Berkelanjutan Berdasarkan Ergonomi Makro di Gunungkidul, Yogyakarta.” Penelitian yang dilakukannya menegaskan urgensi pengelolaan geowisata gua karst secara berkelanjutan di tengah meningkatnya krisis keselamatan dan kerusakan lingkungan di berbagai destinasi wisata alam Indonesia. “Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah kasus kecelakaan wisatawan , mulai dari jatuh di jurang, tersesat, hingga insiden akibat minimnya standar keselamatan, menunjukkan lemahnya tata kelola, mitigasi risiko, dan kesiapsiagaan di lapangan,” paparnya.
Dr. Yonathan melanjutkan, di saat yang sama, pembangunan pariwisata yang tidak terkendali memicu kerusakan ekologis, seperti penurunan kualitas air, meningkatnya volume sampah, hilangnya vegetasi, serta degradasi bentang alam akibat wisata massal. Lemahnya pengawasan, ketidaksinkronan kebijakan, dan kurangnya kesadaran bahwa kawasan karst memiliki daya dukung terbatas semakin memperburuk kondisi ini.
Sementara itu, Indonesia memiliki kawasan karst seluas 154.000 km², terbesar di Asia Tenggara, dengan lebih dari 2.700 mulut gua yang bernilai ilmiah, ekologis, geologis, dan estetika tinggi. Namun sebagian besar kawasan tersebut masih minim standar konservasi dan belum memiliki sistem keselamatan yang memadai.
Penelitian yang dilakukan oleh Trio Yonathan Teja Kusuma menunjukkan bahwa pendekatan pariwisata konvensional seperti konsep 4A (Attraction, Accessibility, Amenities, Ancillary) tidak lagi memadai untuk menangani kompleksitas dan kerentanan kawasan karst. Kawasan ini membutuhkan model pengelolaan yang lebih terukur, adaptif, dan berorientasi pada konservasi.
Melalui yudisium tersebut, Dr. Yonathan menyampaikan novelty dari penelitian yang dilakukannya. Temuan dalam penelitian ini adalah pengembangan model pengelolaan geowisata yang mengintegrasikan tiga pilar strategis geowisata karst yang meliputi geokonservasi, geoedukasi, dan pemberdayaan sosial-ekonomi masyarakat dengan konsep Memorable Tourism Experience (MTE) sebagai fondasi desain pengalaman wisata.
“MTE menekankan bahwa pengalaman wisata harus aman (safety), menyenangkan (enjoyment), edukatif, dan tidak merusak lingkungan. Pendekatan ini tidak hanya membuat destinasi menarik dan nyaman bagi pengunjung, tetapi juga memastikan manfaat langsung bagi masyarakat lokal sekaligus menjaga integritas ekologis karst,” tegasnya.
Studi kasus Gua Jomblang menunjukkan permasalahan umum yang terjadi di berbagai kawasan karst Indonesia. Observasi lapangan mencatat keberadaan sampah, kerusakan ornamen batuan, perubahan mikroklimat, serta tekanan aktivitas wisata musiman yang tidak terkendali. Temuan ini menegaskan urgensi penerapan pengelolaan konservasi yang konsisten dan disiplin.
Tidak sampai di situ, model yang dikembangkan kemudian diwujudkan melalui metode ergonomi partisipatori, melibatkan pengelola, pemandu, wisatawan, serta masyarakat sekitar. Proses ini menghasilkan strategi yang realistis, aplikatif, dan langsung dapat diterapkan melalui prosedur keselamatan, prosedur monitoring kondisi gua, dan sistem zonasi ruang untuk membatasi aktivitas pada area sensitif.
Menurut figure yang juga merupakan Koordinator Pusat Pemeringkatan dan SDgS LPPM UIN Sunan Kalijaga ini, keberhasilan pengelolaan geowisata karst sangat bergantung pada kemampuan destinasi menciptakan pengalaman yang aman, menyenangkan, dan informatif tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan. “Ekosistem gua karst sangat sensitif. Sekali rusak, pemulihannya hampir tidak mungkin. Karena itu wisata harus dirancang bukan hanya untuk menarik minat, tetapi untuk melindungi,” tegasnya.
Dr. Yonathan berharap penelitian ini menjadi rujukan bagi pemerintah, pengelola destinasi, dan pemangku kepentingan pariwisata dalam merumuskan kebijakan pengelolaan karst yang lebih sistematis, aman, dan berkelanjutan. Integrasi tiga pilar geowisata dengan prinsip MTE membuka peluang besar bagi kawasan karst Indonesia untuk berkembang sebagai destinasi unggulan tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan geologis yang menjadi aset utamanya.
Penelitian tersebut juga telah berhasil dipublikasikan di jurnal internasional bereputasi terindeks Scopus Q1 dan Q2, menjadi penanda kuat atas kualitas dan kebaruan riset yang diakui secara global. Capaian tersebut mengantarkan Dr. Trio Yonathan meraih gelar doktor tanpa melalui ujian terbuka, sebuah pengakuan akademik yang mencerminkan standar internasional.
Sebagai dosen yang telah mengabdi di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, perolehan gelar doktor ini semakin menegaskan kekuatan sumber daya manusia kampus dalam mendorong riset dan inovasi yang bermuara pada dampak luas, termasuk pada tataran global. Kompetensi akademik dan rekam jejak riset yang berdaya saing internasional tersebut memperkuat kontribusi UIN Sunan Kalijaga dalam pengembangan ilmu pengetahuan yang berkelanjutan.(humassk)