WhatsApp Image 2026-02-12 at 16.13.34.jpeg

Rabu, 11 Februari 2026 16:14:00 WIB

0

Konsistensi Berbuah Prestasi, Wisudawan IAT UIN Sunan Kalijaga Lulus 3 Tahun dengan Deretan Penghargaan Nasional-Internasional

Di antara deretan wisudawan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, nama Reziq Mahfuz, Ma.Iballa disebut dengan satu catatan Istimewa, wisudawan terbaik tercepat yang menyelesaikan studi di Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, dalam waktu 3 tahun 3 bulan 16 hari, dengan IPK 3,93.

Angka-angka itu terdengar ringkas. Namun di baliknya, ada perjalanan yang tidak selalu mudah, tidak pula serba gemilang. Ada disiplin yang dijaga diam-diam, ada lelah yang ditata, ada doa yang tak pernah putus.

Sejak awal kuliah, Reziq telah memasang target. Bukan sekadar ingin lulus cepat, melainkan ingin menuntaskan amanah belajar dengan perencanaan yang matang. Waktu baginya bukan sesuatu yang dibiarkan berlalu, tetapi dikelola.

“Saya membagi waktu antara kuliah di pagi hari, kegiatan pesantren di malam hari, dan organisasi di sela-sela waktu yang tersisa. Tidak selalu mudah, tetapi saya percaya setiap amanah harus dijalani dengan sungguh-sungguh. Alhamdulillah, di tengah ritme itu saya diberi kesempatan memenangkan beberapa lomba tingkat nasional dan menjadi pemakalah di forum internasional,” ungkapnya.

Ritme disiplin itu berbuah konkret. Pada 2025 ia tampil sebagai pemakalah dalam 6th International Student Conference (ISC) Yogyakarta, sekaligus meraih Juara 1 Call for Paper Nasional Pekan Raya IAT 2025. Ia juga dinobatkan sebagai Mahasiswa Kalijaga Berprestasi 2025 di tingkat universitas dan Mahasiswa FUPI Berprestasi 2025 di tingkat fakultas. Setahun sebelumnya, ia menyabet Juara 1 LKTI Nasional Dies Natalis FUPI 2024 serta penghargaan The Most Interesting Idea dalam LKTIQ Nasional Universitas Negeri Semarang 2024. Rangkaian capaian tersebut menegaskan bahwa prestasi bukanlah kejutan, melainkan akumulasi dari konsistensi yang terus ia rawat.

Namun Reziq tidak memandang capaian itu sebagai puncak. Ia justru mengingat prosesnya, termasuk saat kalah dalam berbagai kompetisi yang diikutinya Dari situ ia belajar bahwa keberhasilan tidak selalu berarti menang, tetapi tetap berjalan meski hasil belum sesuai harapan.

“Dari situ saya belajar tentang konsistensi dan komitmen terhadap diri sendiri. Kebiasaan kecil yang saya pegang adalah disiplin pada jadwal yang telah saya buat. Saya belajar bahwa sebesar apa pun mimpi kita, usaha yang kita kerahkan harus lebih besar,” tuturnya. Ia percaya, dream big, act bigger, bukan sekadar slogan, melainkan prinsip hidup.

Di tengah kesibukan akademik dan organisasi, ia tetap mengabdi sebagai pengajar dan koordinator pendidikan di pesantren. Ilmu yang dipelajari tidak berhenti di ruang kuliah, ia harus hidup dalam praktik dan pengabdian.

Di balik capaian akademiknya, Reziq tidak menutup ruang apresiasi bagi almamater yang membesarkannya. Ia menyebut lingkungan akademik kampus sebagai salah satu faktor penting yang membentuk ketekunan dan keberaniannya menembus ruang-ruang ilmiah nasional hingga internasional.

Ia mengaku merasakan langsung bagaimana atmosfer belajar yang kondusif, layanan akademik yang responsif, serta fasilitas yang memadai menjadi fondasi tumbuhnya daya saing mahasiswa. Di Prodi Ilmu Al Qur’am dam tafsir Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga, ia ditempa bukan hanya untuk memahami teks, tetapi juga mengembangkan daya analisis dan keberanian berpikir kritis dalam bidang Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir.

Menurutnya, kultur akademik di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta mendorong mahasiswa melampaui batas ruang kelas. Kualitas dosen yang tidak sekadar mengajar, tetapi membimbing dan membuka cakrawala berpikir mahasiswa. Para pengajar dengan latar belakang akademik kuat dan jejaring internasional aktif mendorong mahasiswa untuk berani berargumentasi, menulis, serta mempresentasikan gagasan di forum ilmiah.

Bagi Reziq, kampus ini bukan sekadar tempat menuntaskan studi, tetapi ruang pembinaan intelektual yang menyiapkan mahasiswa untuk berkiprah di level yang lebih luas. “Saya merasa didorong untuk tidak hanya selesai kuliah, tetapi juga berani tampil dan berkontribusi di brbagai forum nasional maupun internasional,” ujarnya.

Perjalanan Reziq Mahfuz mengajarkan satu hal yang sederhana namun bermakna. prestasi bukan hasil ledakan sesaat, melainkan akumulasi dari kebiasaan kecil yang dijaga setiap saat.(humassk)