Di antara deretan capaian akademik para wisudawan, kisah Yusuf Firdaus Hasibuan menghadirkan warna yang berbeda. Wisudawan Magister Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT), Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga ini dinobatkan sebagai salah satu wisudawan terbaik tercepat dengan IPK sempurna 4.00, diselesaikan dalam waktu 1 tahun 10 bulan 10 hari, sebuah pencapaian yang semakin bermakna karena diraih di usia 43 tahun.
“Sebagian besar teman kelas saya seusia anak atau keponakan saya, bahkan beberapa dosen juga lebih muda. Itu bukan masalah bagi saya,” kenangnya.
Namun, bagi Yusuf, angka bukanlah inti cerita. Yang ia rayakan justru perjalanan belajar yang membuat dirinya terus tumbuh, bukan menua.
Sebagai guru Al-Qur’an Hadis di sebuah Madrasah Ibtidaiyah di Kepulauan Riau, Yusuf berangkat dari pertanyaan sederhana yang terus mengusiknya. Mengapa pembelajaran Al-Qur’an sering berhenti pada jawaban normatif? Di ruang-ruang belajar, ia melihat anak-anak menerima penjelasan tanpa diajak memahami konteks atau proses berpikir ilmiah.
Pencarian jawaban melalui berbagai sumber digital seperti youtube, internet justru membuka kesadaran baru, bahwa pemahaman Al-Qur’an perlu bertumpu pada kajian para ahli, pendekatan riset, dan pembacaan yang lebih kontekstual. Kegelisahan inilah yang membawanya melanjutkan studi ke Program IAT UIN Sunan Kalijaga.
Di kampus ini, ia menemukan cara pandang baru. Paradigma integratif–interkonektif mengajarkannya bahwa teks Al-Qur’an tidak berdiri sendiri, melainkan berdialog dengan realitas zaman. Baginya, pengalaman akademik itu membuka “mata batin”, melihat makna yang lebih luas daripada sekadar pemahaman tekstual.
Latar belakang Pendidikan Agama Islam membuat perjalanan akademiknya tidak selalu ringan. Beralih ke IAT berarti memasuki wilayah ilmu yang lebih spesifik seperti semiotika, hermeneutika, hingga isu-isu tafsir kontemporer yang sebelumnya terasa jauh dari pengalaman belajarnya.
Namun ia memilih untuk tidak mundur. Yusuf menjalani proses belajar dengan semangat pembelajar mandiri, menerapkan konsep self-regulated learning, mengatur ritme belajar, merekam poin penting perkuliahan, berdiskusi, hingga mendatangi dosen untuk memastikan tugasnya benar-benar sesuai arah akademik.
Ia juga tak segan belajar dari rekan-rekan yang lebih muda. Baginya, ilmu tidak mengenal usia, dan kerendahan hati adalah syarat utama untuk bertumbuh.
Di balik capaian akademik itu, terdapat keseharian yang penuh peran, sebagai pendidik, kepala keluarga, sekaligus mahasiswa. Waktu harus dibagi dengan cermat, prioritas disusun dengan bijak. Ia percaya, keberhasilan akademik tidak pernah berdiri sendiri, ada dukungan keluarga yang menjadi fondasi utama.
Yusuf menempatkan keluarga sebagai pusat kekuatan. Dukungan istri dan anak-anak membuatnya mampu menjaga ritme belajar di tengah berbagai tanggung jawab. Baginya, belajar bukan sekadar aktivitas pribadi, melainkan bentuk keteladanan, menunjukkan bahwa semangat berkembang tidak berhenti pada usia tertentu.
Menariknya, IPK 4.00 bukan target yang ia kejar sejak awal. Ia justru fokus memahami makna pembelajaran, bukan sekadar mengejar nilai. Yusuf meyakini bahwa setiap orang memiliki kecerdasan yang berbeda-beda. Ketika kemampuan kognitif terasa terbatas, kecerdasan emosional, kedisiplinan, serta kemampuan membangun relasi dapat menjadi kekuatan yang sama pentingnya.
Ia percaya karakter personal tidak dibentuk dalam waktu singkat. Ketekunan, tanggung jawab, dan integritaslah yang perlahan membentuk kualitas seorang pembelajar.
Spirit Akademik yang Membumi belajar di IAT membawanya pada refleksi yang lebih luas tentang dunia pendidikan madrasah. Ia berharap ilmu yang didapat dapat didiseminasikan untuk meningkatkan profesionalitas guru Pendidikan Agama Islam, terutama di era AI yang menuntut pendekatan pembelajaran berbasis riset dan literasi yang kuat.
Ia membayangkan pendidikan Al-Qur’an yang lebih dialogis, tidak hanya menyampaikan teks, tetapi juga menghidupkan makna dan relevansinya di tengah dinamika zaman.
Bagi Yusuf, wisuda hanyalah salah satu titik dalam perjalanan panjang menuntut ilmu. Ia menyiapkan diri untuk langkah-langkah berikutnya, termasuk memperkuat kemampuan bahasa sebagai jembatan menuju studi yang lebih tinggi. Ya, Yusuf memimpikan studi doctoral di Luar Negeri.
Yang terpenting, ia ingin menjadi teladan bagi keluarganya dan para muridnya, bahwa belajar tidak memiliki batas usia, dan semangat berkembang adalah pilihan yang harus terus dijaga.
Kisah Yusuf Firdaus Hasibuan mengingatkan bahwa keberhasilan tidak selalu lahir dari jalan yang mudah. Kadang ia tumbuh dari keberanian untuk bertanya, kesediaan untuk belajar kembali, dan kerendahan hati untuk menerima bahwa ilmu selalu lebih luas daripada diri kita.
Sebab pada akhirnya, yang membuat seseorang tetap muda bukanlah usia, melainkan keberanian untuk terus bertumbuh.
“Angka itu ada batasnya, tapi spirit untuk bertumbuh tidak pernah berbatas. Saya percaya semangat belajar bisa membawa seseorang melampaui apa pun. Karena itu saya mulai menyiapkan diri, termasuk kemampuan bahasa, agar kelak bisa melanjutkan studi ke luar negeri. Saya ingin membawa pulang solusi bagi madrasah dan pendidikan, bukan sekadar gelar,” pungkasnya.(humassk)