WhatsApp Image 2026-03-17 at 14.13.16.jpeg

Selasa, 17 Maret 2026 08:11:00 WIB

0

Lewat Kajian Ramadan, UIN Sunan Kalijaga Dorong Penguatan Etika di Tengah Arus Modernitas

Di tengah derasnya arus modernitas dan kebebasan berekspresi di ruang digital, persoalan etika kembali menjadi perbincangan penting. Kemajuan teknologi menghadirkan banyak kemudahan, tetapi pada saat yang sama juga memunculkan tantangan baru, yakni bagaimana menjaga akhlak ketika perbedaan pendapat semakin terbuka dan tak jarang memicu pertentangan. Dalam konteks inilah, nilai-nilai moral yang diajarkan agama dinilai tetap relevan sebagai fondasi kehidupan, termasuk bagi generasi muda di lingkungan kampus.

Pesan tersebut disampaikan Kaprodi Perbankan Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Dr. Jeihan Ali Azhar, S.Si., M.E.I. dalam kajian Minutes of Barakah bertajuk “Etika Islam: Fondasi Moral dalam Kehidupan Sehari-hari”, Senin (16/3/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian program Ramadan bin Jami’ah yang diselenggarakan olehMasjid UIN Sunan Kalijaga.

Membuka paparannya, Dr. Jeihan menyampaikan bahwa Islam sebagai agama tidak lekang oleh perubahan zaman. Nilai-nilai yang diajarkan Al-Qur’an tetap relevan dalam setiap ruang dan waktu, termasuk di era modern yang sarat dengan dinamika sosial dan perkembangan teknologi.

Al-Qur’an memberikan teladan melalui sosok Nabi Muhammad yang dipuji karena akhlaknya yang mulia, padahal masih banyak mukjizat dan kelebihan Nabi Muhammad lainnya yang juga tidak dimiliki oleh Nabi Allah lainnya. “Ini menunjukkan bahwa yang paling utama untuk diteladani umat adalah akhlaknya, moralitasnya,” ujarnya.

Ia menilai, kemajuan zaman yang dicapai manusia saat ini harus berjalan seiring dengan penguatan etika. Tanpa fondasi moral, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi justru berpotensi menimbulkan konflik dan perpecahan, terutama di tengah masyarakat yang semakin terbuka.

Ia juga menyoroti fenomena yang kerap muncul di ruang publik, terutama di media sosial, ketika perbedaan pandangan tidak lagi disikapi dengan kedewasaan. Kritik sering kali berubah menjadi serangan personal, bahkan disertai kata-kata kasar yang jauh dari nilai akhlak.

“Perbedaan adalah keniscayaan. Namun, yang sering kita lihat, baik di media sosial maupun di ruang publik, etika justru ditinggalkan. Orang mudah menghakimi, mudah berkata kasar, dan tidak lagi menjaga adab dalam berkomunikasi,” katanya.

Karena itu, ia mengingatkan bahwa umat Islam harus menjadikan akhlak sebagai benteng moral dalam menghadapi berbagai persoalan zaman. Nilai-nilai etika tidak hanya penting dalam kehidupan pribadi, tetapi juga dalam kehidupan berbangsa dan bermasyarakat.

Ia juga menyinggung bahwa Indonesia dibangun di atas dasar nilai-nilai moral yang tertuang dalam Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Karena itu, setiap persoalan yang dihadapi bangsa seharusnya tidak mengabaikan prinsip adab dan kemanusiaan.

“Apapun masalah yang kita hadapi, baik di keluarga, di masyarakat, maupun di media sosial, tidak boleh meninggalkan akhlak. Kita harus menjaga cara berkomunikasi dengan siapa pun. Islam mengajarkan itu dengan sangat jelas,” ujarnya.

Melalui kajian Ramadan tersebut, Dr. Jeihan mengajak civitas akademika dan jamaah untuk menjadikan etika sebagai dasar dalam setiap aktivitas sehari-hari. 

Melalui rangkaian kegiatan Ramadan ini, UIN Sunan Kalijaga berupaya menjadikan bulan suci sebagai ruang refleksi spiritual sekaligus intelektual bagi mahasiswa dan seluruh masyarakat kampus, sehingga nilai-nilai keislaman dapat dihayati dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.