Proses pendirian Fakultas Kedokteran di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta memasuki tahap penting setelah dilaksanakannya evaluasi lapangan usul pembukaan Program Studi Pendidikan Dokter Program Sarjana dan Program Profesi Dokter oleh tim evaluator dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Evaluasi tersebut tidak hanya menilai kelengkapan dokumen, tetapi juga memastikan kesiapan nyata, mulai dari kurikulum, sumber daya manusia, hingga sarana dan prasarana pendukung pembelajaran. Sejumlah catatan perbaikan yang bersifat minor diberikan evaluator, sebagaimana lazim dalam proses pendirian fakultas baru. Perbaikan itu segera ditindaklanjuti dan diunggah melalui sistem SIAGA dalam waktu dua hari setelah evaluasi lapangan.
Bagi tim pendirian, tahap ini menjadi momen yang menghadirkan kelegaan sekaligus kesadaran bahwa perjalanan belum sepenuhnya selesai. Proses panjang yang berlangsung berbulan-bulan melibatkan banyak unsur di lingkungan universitas dan mitra jejaring, di bawah koordinasi Wakil Rektor Bidang Akademik dan Pengembangan Lembaga, Prof. Dr. Istiningsih, bersama tim taskforce yang bekerja intensif menyiapkan seluruh aspek yang dibutuhkan.
Dijumpai seusai penutupan evaluasi, Rektor UIN Sunan Kalijaga Prof. Noorhaidi Hasan mengungkapkan rasa syukur atas hasil yang diperoleh dalam tahap evaluasi lapangan tersebut.
“Hasil evaluasi menunjukkan bahwa tiga standar utama pendirian fakultas kedokteran telah terpenuhi. Kami siap menempuh proses berikutnya dan kami berharap izin pendirian dapat segera terbit sehingga operasional bisa dimulai pada tahun ajaran baru. Ini adalah hasil kerja keras tim yang luar biasa, yang selama ini bekerja bahu-membahu tanpa lelah untuk mewujudkan cita-cita bersama,” ujarnya.
Nada yang sama disampaikan oleh calon dosen Fakultas Kedokteran UIN Sunan Kalijaga, dr. Murtafiqoh Hasanah, yang menyebut hasil evaluasi sebagai capaian yang patut disyukuri, tetapi sekaligus menjadi tanggung jawab baru.
“Alhamdulillah, hari ini kami dinyatakan memenuhi tiga aspek utama, yaitu kurikulum, sumber daya manusia, dan sarana prasarana. Ini hasil kerja bersama seluruh stakeholder di UIN Sunan Kalijaga dengan dukungan pimpinan yang sangat kuat. Namun capaian ini bukan hanya untuk dibanggakan, melainkan menjadi amanah untuk segera menindaklanjuti semua rekomendasi agar fakultas kedokteran dapat segera operasional,” ujarnya.
Dalam proses tersebut, UIN Sunan Kalijaga tidak berjalan sendiri. Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro dipercaya sebagai mitra pendamping sejak awal perencanaan. Pendampingan dilakukan melalui penyusunan kurikulum, penyiapan dokumen, kunjungan tim, hingga program magang bagi calon dosen.
Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, dr. Muflihatul Muniroh, yang hadir dalam evaluasi lapangan menilai kesiapan tim UIN Sunan Kalijaga menunjukkan keseriusan yang kuat.
“Kami mendapat penugasan mendampingi sejak Maret 2025. Proses berjalan baik, dengan komunikasi yang intens antara kedua institusi. Kami melihat tim pendirian sangat solid, dan dukungan pimpinan di UIN juga sangat nyata. Semua unsur terlibat langsung. Ini menjadi modal penting agar fakultas kedokteran yang dirintis dapat berkembang dan memberi manfaat luas bagi masyarakat,” katanya.
Di balik proses administratif, pekerjaan teknis juga berlangsung dengan tingkat ketelitian tinggi, terutama dalam penyiapan fasilitas pembelajaran.
Salah satu anggota tim taskforce yang bertanggung jawab pada kesiapan sarana dan prasarana, dr. Ilma, mengatakan bahwa setiap detail harus dipastikan sesuai standar pendidikan kedokteran.
“Semua dikerjakan bersama dengan dukungan berbagai pihak, termasuk pembina dari Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro. Kami bersyukur tahap ini bisa dilalui, tetapi ini juga menjadi amanah agar keberhasilan ini benar-benar membawa manfaat, terutama dalam mendidik calon dokter yang kompeten dan berintegritas,” ujarnya.
Kesiapan fasilitas menjadi salah satu aspek yang mendapat perhatian dalam evaluasi lapangan.
Imam Fungani, calon laboran anatomi basah, menyatakan laboratorium telah dipersiapkan sesuai kebutuhan pembelajaran tahap awal.
“Untuk anatomi basah, sarana dan prasarana sudah siap dan memenuhi standar. Kami siap memfasilitasi mahasiswa dalam proses pembelajaran. Di fakultas kedokteran, kebutuhan fasilitas memang sangat kompleks, tetapi dengan tim yang solid dan kerja sama yang kuat, persiapan bisa dilakukan dengan baik,” katanya.
Hal serupa disampaikan Virna Tristania Koencoro, calon laboran farmakologi.
Menurutnya, laboratorium tidak hanya disiapkan untuk praktikum, tetapi juga untuk kegiatan penelitian.
“Peralatan farmakologi sudah tersedia, termasuk hewan uji dan ruang penelitian. Ruangan juga memadai. Harapannya, ketika fakultas ini mulai menerima mahasiswa, kami dapat memberikan layanan pendidikan dan penelitian yang baik,” ujarnya.
Evaluasi lapangan memang telah dilalui, tetapi bagi UIN Sunan Kalijaga, tahap ini justru menjadi awal dari tanggung jawab berikutnya.
Di balik proses administratif yang panjang, pendirian Fakultas Kedokteran dipandang sebagai bagian dari upaya memperluas kontribusi perguruan tinggi keagamaan dalam bidang kesehatan, sekaligus menjawab kebutuhan tenaga medis di masyarakat.
Kerja panjang itu kini mulai menunjukkan hasil, meski langkah menuju operasional penuh masih harus dilalui dengan kesungguhan dan ketelitian yang sama seperti sejak awal tekad itu muncul.(humassk)