Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Noorhaidi Hasan, dipercaya menjadi khatib pada pelaksanaan Shalat Idulfitri 1 Syawal 1447 H, Sabtu (21/3/2026), di Masjid Istiqlal. Mengangkat tema “Kemenangan Idulfitri Menyemai Kebaikan, Meraih Keberkahan”, ia menyampaikan khutbah di hadapan para pejabat negara, duta besar negara sahabat, serta ribuan jemaah yang memadati masjid terbesar di Asia Tenggara tersebut.
Dalam khutbahnya, Rektor menekankan, bahwa Ramadan merupakan proses pendidikan spiritual yang menempatkan Al Quran sebagai rujukan utama dalam membedakan yang hak dan yang batil. Dari proses itu, umat didorong tidak hanya menyempurnakan ibadah, tetapi juga menumbuhkan sikap hidup yang adil, berbelas kasih, dan berpihak pada kemaslahatan bersama.
Mengutip Surah Al Baqarah ayat 185, ia menegaskan bahwa Ramadan adalah fase pemurnian diri yang menuntut kesungguhan batin. Puasa, dalam hal ini, tidak berhenti pada aspek ritual, melainkan berfungsi sebagai mekanisme pembersihan diri, mengikis emosi negatif, memutus kebiasaan buruk, dan menahan kecenderungan perilaku yang menyimpang dari nilai-nilai kebaikan.
Ramadan juga, kata Prof. Noorhaidi, merupakan ruang latihan etis Dldisiplin, kejujuran, tanggung jawab, dan kesederhanaan.
Seluruh proses itu berpijak pada keimanan dan kesadaran untuk mengendalikan diri. “Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi membangun kesadaran batin akan kehadiran Allah dalam setiap laku kehidupan. Dari kesadaran itulah lahir ketaatan untuk menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya,” ujarnya.
Dalam kerangka itu, ia menegaskan bahwa tujuan akhir puasa adalah takwa, yakni kesadaran spiritual yang hidup dan bekerja dalam diri manusia. “Ketika kehadiran Allah benar-benar dirasakan dalam setiap tarikan napas, integritas dan akuntabilitas akan tumbuh. Itulah fondasi utama untuk membangun kehidupan pribadi, masyarakat, dan negara yang rukun, bermartabat, dan sejahtera,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Rektor juga menyampaikan, bahwa idulfitri mengingatkan amanah manusia di bumi bukan hanya menjaga hubungan dengan manusia, tapi juga menjaga keseimbangan alam yang menjadi tempat kehidupan kita bersama. Bumi merupakan titipan Allah yang harus dijaga dengan penuh tanggung jawab. "Ketika hutan rusak, ketika sungai tercemar, dan ketika bumi kehilangan keseimbangannya sesungguhnya yang terluka bukan hanya alam, tetapi juga kemanusiaan kita," tegasnya.
Idul fitri juga, menurut Rektor, mengajarkan kemenangan sejati adalah yang melahirkan perdamaian keberlanjutn bagi seluruh umat manusia. Oleh karena itu, ia mengajak menjadikan nilai-nilai Ramadan sebagai landasan untuk membangun dunia dalam persaudaraan dan perdamaian. Dalam konteks inilah, menurutnya, Indonesia memiliki peran penting menjadi pelopor dalam upaya membangun perdamaian global. Sebagai bangsa yang lahir dari keragaman yang terbingkai dalam semangat persatuan, indonesia memiliki pengalam berharga dalam merawat harmoni dalam. Perbedaan. Nilai-nilai ini harapannya dapat menjadi inspirasi bagi dunia yg sedang mencari jalan menuju perdamaian.
Idul fitri juga, menurut Rektor, mengajarkan kemenangan sejati adalah yang melahirkan perdamaian keberlanjutn bagi seluruh umat manusia. Oleh karena itu, ia mengajak menjadikan nilai-nilai Ramadan sebagai landasan untuk membangun dunia dalam persaudaraan dan perdamaian. Dalam konteks inilah, menurutnya, Indonesia memiliki peran penting menjadi pelopor dalam upaya membangun perdamaian global. Sebagai bangsa yang lahir dari keragaman yang terbingkai dalam semangat persatuan, indonesia memiliki pengalam berharga dalam merawat harmoni dalam. Perbedaan. Nilai-nilai ini harapannya dapat menjadi inspirasi bagi dunia yg sedang mencari jalan menuju perdamaian.
Khutbah yang disampaikan Rektor membuka mata kita tentang esensi Idulfitri, bahwa ketika direfleksikan, momentum kemenangan ini sarat makna kebaikan,l. Semoga kita semua dapat menyemai nilai-nilai positif dalam kehidupan sehari-hari pasca hari kemenangan ini.(humassk)