Di tengah meningkatnya tekanan hidup di era modern, dari tuntutan akademik hingga dinamika sosial yang kian kompleks, kesehatan mental menjadi isu yang tak lagi bisa dipandang sebelah mata. Namun, di ruang-ruang spiritual kampus, ada pendekatan yang tak hanya menawarkan ketenangan sesaat, melainkan juga keteguhan batin yang berakar pada iman.
Itulah yang
mengemuka dalam Minutes of Barakah yang menjadi bagian dari rangkaian Ramadan
bil Jami’ah Masjid UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Kamis (19/3/2026), yang
dipaparkan oleh Dosen Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam Fakultas
Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga, Anggi Jatmiko, melalui tema
“Bimbingan Konseling Islam: Menyembuhkan Jiwa dengan Nilai Iman”.
Anggi
menegaskan bahwa ketenangan jiwa bukanlah konsep abstrak, melainkan sesuatu
yang nyata dan dapat diraih. Ia merujuk pada firman Allah yang menyatakan bahwa
dengan mengingat-Nya, hati menjadi tenteram. Ayat tersebut, menurutnya,
menunjukkan bahwa sumber ketenangan sejati terletak pada keimanan yang utuh.
“Iman tidak
hanya berhenti pada keyakinan. Ia mencakup tiga hal sekaligus, yakni dibenarkan
oleh hati, diucapkan oleh lisan, dan diwujudkan dalam perbuatan,” ujarnya.
Ia menjelaskan,
ketika hati meyakini bahwa Allah Maha Mengetahui dan Maha Adil atas setiap
takdir, maka akan lahir rasa tenang dalam diri. Keyakinan itu mengikis
kegelisahan, karena manusia tidak lagi merasa berjalan sendiri dalam menghadapi
hidup.
Sementara itu,
lisan yang terbiasa berzikir, berdoa, dan mengucapkan hal-hal baik turut
berperan dalam menjaga stabilitas emosi. Praktik spiritual tersebut, lanjutnya,
menjadi ruang jeda yang menenangkan di tengah hiruk pikuk kehidupan.
Tidak berhenti di situ, dimensi amal juga menjadi bagian penting dalam
membangun kesehatan jiwa. Perbuatan baik, menurut Anggi, akan menuntun
seseorang pada kehidupan yang lebih bermakna, sekaligus memperkuat hubungan
dengan sesama.
Dalam konteks Ramadan, ia melihat momentum puasa sebagai ruang refleksi
yang utuh. Puasa tidak sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjadi
latihan mengelola emosi, memperbanyak muhasabah, dan mendekatkan diri kepada
Allah.
“Puasa adalah ruang untuk berkeluh kesah kepada Allah tanpa rasa takut
dihakimi. Di situlah esensi konseling Islam hadir,” katanya.
Melalui praktik ibadah seperti shalat, dzikir, dan puasa, seseorang
memiliki ruang aman untuk mengekspresikan kegelisahan batin sekaligus menemukan
ketenangan. Pendekatan ini menempatkan spiritualitas sebagai fondasi dalam
proses penyembuhan jiwa.
Kegiatan ini menjadi salah satu wujud komitmen UIN Sunan Kalijaga dalam
menghadirkan ruang-ruang reflektif yang tidak hanya memperkuat aspek keilmuan,
tetapi juga dimensi spiritual dan kemanusiaan.
Di tengah dunia yang bergerak cepat dan seringkali melelahkan, pesan yang
dibawa dalam forum ini menjadi pengingat bahwa ketenangan sejati tidak selalu
harus dicari jauh. Ia bisa tumbuh dari dalam melalui iman yang dihidupkan,
lisan yang dijaga, dan amal yang diteguhkan. (humassk)