cd3a7df9-45ac-4c6d-a760-b49905a01af3.jpg

Selasa, 17 Maret 2026 14:34:00 WIB

0

Minutes of Barakah, Dosen Psikologi UIN Sunan Kalijaga Kupas Kesehatan Mental dalam Perspektif Islam

Seiring meningkatnya kasus kesehatan mental, mulai dari stres, kecemasan, hingga burnout di kalangan generasi muda, mental health menjadi isu yang semakin mendapat perhatian luas.

Untuk itu, Dosen Psikologi Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora, Muslim Hidayat, M.A., dalam Minutes of Barakah yang menjadi bagian dari rangkaian Ramadan bil Jami’ah di Masjid UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Selasa (17/3/2026) memaparkan tentang “Kesehatan Mental dalam Perspektif Islam”.

Mengawali paparannya, Muslim mengutip ayat Al-Qur’an yang menjelaskan bahwa manusia diciptakan dalam dua dimensi utama, yakni ruhaniyah dan jasmaniyah. Dimensi ruhaniyah merujuk pada aspek jiwa yang bersifat gaib dan telah ada sebelum manusia dilahirkan, sementara jasmaniyah adalah aspek fisik yang tampak setelah manusia hadir di dunia.

“Kedua dimensi ini menyatu dalam diri manusia. Di situlah kemudian manusia menjalankan fungsinya sebagai hamba yang beribadah kepada Allah sekaligus sebagai khalifah fil ardh, yakni wakil Tuhan di bumi yang bertugas menjaga keseimbangan sosial,” ujarnya.

Dalam konteks tersebut, kesehatan mental dalam perspektif Islam, lanjutnya, tidak hanya diukur dari kondisi psikologis yang stabil, tetapi juga dari kemampuan seseorang dalam mengembangkan jiwanya menjadi jiwa yang tenteram dan taat.

Muslim menjelaskan bahwa dalam tradisi keilmuan Islam, terdapat tahapan perkembangan jiwa manusia yang menggambarkan dinamika batin seseorang. Tahapan awal adalah nafs zakiyyah, yakni kondisi jiwa yang masih suci sebagaimana dimiliki manusia yang baru lahir.

Tahapan berikutnya adalah nafs musawwilah, yakni jiwa yang mulai mengenal godaan. Pada fase ini, menurutnya, seseorang sudah memiliki kesadaran untuk menolak keburukan, meski dalam kondisi tertentu masih dapat tergelincir.

“Selanjutnya adalah nafs amarah, yaitu kondisi ketika jiwa cenderung dikendalikan oleh hawa nafsu sehingga mendorong seseorang pada perilaku yang menyimpang. Pada tahap ini, ketenangan batin menjadi sulit dicapai,” lanjutnya.

Adapun nafs lawwamah menggambarkan jiwa yang kerap melakukan kesalahan, tetapi diiringi dengan kesadaran untuk bertobat. Proses refleksi dan penyesalan menjadi ciri penting dalam fase ini.

Puncaknya adalah nafs mutmainnah, yakni jiwa yang telah mencapai ketenangan. Pada level ini, seseorang tidak hanya mampu mengendalikan diri dari kemaksiatan, tetapi juga aktif menebar kebaikan, baik kepada sesama manusia maupun lingkungan sekitarnya.

“Jiwa yang tenang itu bukan hanya berdampak pada diri sendiri, tetapi juga menghadirkan ketenteraman bagi lingkungan. Inilah yang dalam perspektif psikologi dapat disebut sebagai jiwa yang sehat,” tegasnya.

Ia menambahkan, individu dengan jiwa yang matang dan tenteram akan mampu menjalankan perannya sebagai khalifah secara optimal, yakni menjaga harmoni sosial dan menghadirkan kebermanfaatan di tengah masyarakat.

Melalui kegiatan Ramadan ini, UIN Sunan Kalijaga berupaya menghadirkan ruang-ruang reflektif yang mengintegrasikan pendekatan ilmiah dan spiritual.

Di tengah kehidupan modern yang serba cepat dan penuh tekanan, pendekatan integratif semacam ini menunjukkan bahwa kesehatan mental tidak semata soal mengelola stres, tetapi juga tentang menemukan makna hidup yang lebih dalam melalui hubungan yang selaras antara manusia, alam, dan Tuhannya. (humassk)