Seiring meningkatnya kasus kesehatan mental, mulai dari stres, kecemasan, hingga burnout di kalangan generasi muda, mental health menjadi isu yang semakin mendapat perhatian luas.
Untuk itu,
Dosen Psikologi Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora, Muslim Hidayat, M.A., dalam
Minutes of Barakah yang menjadi bagian dari rangkaian Ramadan bil
Jami’ah di Masjid UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Selasa (17/3/2026)
memaparkan tentang “Kesehatan Mental dalam Perspektif Islam”.
Mengawali
paparannya, Muslim mengutip ayat Al-Qur’an yang menjelaskan bahwa manusia
diciptakan dalam dua dimensi utama, yakni ruhaniyah dan jasmaniyah. Dimensi
ruhaniyah merujuk pada aspek jiwa yang bersifat gaib dan telah ada sebelum
manusia dilahirkan, sementara jasmaniyah adalah aspek fisik yang tampak setelah
manusia hadir di dunia.
“Kedua dimensi ini menyatu dalam diri manusia. Di situlah kemudian manusia
menjalankan fungsinya sebagai hamba yang beribadah kepada Allah sekaligus
sebagai khalifah fil ardh, yakni wakil Tuhan di bumi yang bertugas menjaga
keseimbangan sosial,” ujarnya.
Dalam konteks tersebut, kesehatan mental dalam perspektif Islam, lanjutnya,
tidak hanya diukur dari kondisi psikologis yang stabil, tetapi juga dari
kemampuan seseorang dalam mengembangkan jiwanya menjadi jiwa yang tenteram dan
taat.
Muslim menjelaskan bahwa dalam tradisi keilmuan Islam, terdapat tahapan
perkembangan jiwa manusia yang menggambarkan dinamika batin seseorang. Tahapan
awal adalah nafs zakiyyah, yakni kondisi jiwa yang masih suci
sebagaimana dimiliki manusia yang baru lahir.
Tahapan berikutnya adalah nafs musawwilah, yakni jiwa yang mulai
mengenal godaan. Pada fase ini, menurutnya, seseorang sudah memiliki kesadaran
untuk menolak keburukan, meski dalam kondisi tertentu masih dapat tergelincir.
“Selanjutnya adalah nafs amarah, yaitu kondisi ketika jiwa cenderung
dikendalikan oleh hawa nafsu sehingga mendorong seseorang pada perilaku yang
menyimpang. Pada tahap ini, ketenangan batin menjadi sulit dicapai,” lanjutnya.
Adapun nafs lawwamah menggambarkan jiwa yang kerap melakukan
kesalahan, tetapi diiringi dengan kesadaran untuk bertobat. Proses refleksi dan
penyesalan menjadi ciri penting dalam fase ini.
Puncaknya adalah nafs mutmainnah, yakni jiwa yang telah mencapai
ketenangan. Pada level ini, seseorang tidak hanya mampu mengendalikan diri dari
kemaksiatan, tetapi juga aktif menebar kebaikan, baik kepada sesama manusia
maupun lingkungan sekitarnya.
“Jiwa yang tenang itu bukan hanya berdampak pada diri sendiri, tetapi juga
menghadirkan ketenteraman bagi lingkungan. Inilah yang dalam perspektif
psikologi dapat disebut sebagai jiwa yang sehat,” tegasnya.
Ia menambahkan, individu dengan jiwa yang matang dan tenteram akan mampu
menjalankan perannya sebagai khalifah secara optimal, yakni menjaga harmoni
sosial dan menghadirkan kebermanfaatan di tengah masyarakat.
Melalui kegiatan Ramadan ini, UIN Sunan Kalijaga berupaya menghadirkan
ruang-ruang reflektif yang mengintegrasikan pendekatan ilmiah dan spiritual.
Di tengah kehidupan modern yang serba cepat dan penuh tekanan, pendekatan
integratif semacam ini menunjukkan bahwa kesehatan mental tidak semata soal
mengelola stres, tetapi juga tentang menemukan makna hidup yang lebih dalam melalui
hubungan yang selaras antara manusia, alam, dan Tuhannya. (humassk)