Upaya penguatan peran perempuan dalam ruang akademik dan sosial kembali ditegaskan oleh Dharma Wanita Persatuan (DWP) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta melalui sebuah forum reflektif yang memadukan momentum Syawalan, peringatan Hari Kartini, dan seminar bertajuk “Penguatan Peran Perempuan dalam Pengembangan Diri dan Masyarakat Refleksi Makna Spiritual Idul Fitri 2026”, Jumat (17/4/2026).
Alih-alih sekadar seremoni, kegiatan ini menempatkan perempuan sebagai subjek yang aktif membangun kapasitas diri sekaligus berkontribusi pada ekosistem kampus dan masyarakat. Pesan itu mengemuka sejak awal acara, ketika pertunjukan angklung oleh anggota DWP membuka ruang tafsir yang lebih dalam tentang makna kebersamaan.
Rektor UIN Sunan Kalijaga Prof. Noorhaidi Hasan menilai, pertunjukan tersebut bukan sekadar hiburan, melainkan representasi nilai kolektif yang relevan dengan dinamika organisasi dan kehidupan sosial. “Angklung mengajarkan bahwa perbedaan nada, ketika dirajut dalam satu orkestrasi, justru melahirkan harmoni yang indah. Ini cermin dari kehidupan kita di mana beragam kepentingan dan latar belakang bisa disatukan untuk tujuan bersama,” ujarnya.
Prof. Noorhaidi juga mengaitkan makna tersebut dengan semangat perjuangan R.A. Kartini ketika budaya patriarkal masih mendominasi. Menurutnya, Kartini tidak hanya memperjuangkan kesetaraan, tetapi juga membuka ruang bagi perempuan untuk hadir sebagai agen perubahan yang berdaya, kreatif, dan berkontribusi nyata.
“Spirit Kartini hari ini tidak cukup diperingati, tetapi perlu dihidupkan dalam praktik. Perempuan harus berada pada posisi yang setara, memiliki inisiatif, dan berperan dalam pembangunan keluarga, masyarakat, hingga bangsa,” katanya.
Dalam konteks kampus, Rektor menegaskan bahwa DWP bukan sekadar organisasi pendamping, melainkan salah satu pilar strategis yang melengkapi layanan institusi. Peran tersebut terlihat dari berbagai inisiatif yang menyentuh kebutuhan riil civitas akademika, seperti pengelolaan layanan pendidikan anak usia dini hingga.
“DWP menghadirkan layanan yang tidak selalu bisa dijangkau oleh struktur formal universitas. Di sinilah letak strategisnya, menjadi mitra dalam membangun keluarga, mendidik anak, dan pada akhirnya menopang kinerja civitas akademika,” ujarnya.
Pandangan serupa disampaikan Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK), Prof. Dr. Sigit Purnama. Ia menekankan bahwa DWP memiliki fungsi yang tidak bisa dipandang sebelah mata, terutama dalam pemberdayaan perempuan dan penguatan kesejahteraan keluarga.
“Peran DWP tidak hanya internal organisasi, tetapi juga berdampak pada kualitas lingkungan kerja dan keluarga. Ketika keluarga kuat, kinerja juga akan lebih optimal,” katanya.
Sementara itu, Ketua DWP UIN Sunan Kalijaga, Prof. Euis Noorhaidi, melihat kegiatan ini sebagai ruang untuk memperkuat energi kolektif. Ia berharap, forum semacam ini mampu menggerakkan kesadaran bersama untuk terus bertumbuh dan berkontribusi.
“Harapannya, kita semua pulang dengan energi baru untuk mengembangkan diri sekaligus memberi manfaat bagi lingkungan sekitar,” ujarnya.
Salah satu wujud konkret dari upaya tersebut adalah peluncuran buku antologi kisah saya bertajuk Perempuan Mendidik dengan Hati. Buku ini merupakan karya kolektif perempuan lintas profesi yang menyuarakan pengalaman, refleksi, dan praktik nyata dalam dunia pendidikan dan kehidupan sosial.
Kehadiran buku ini memperlihatkan bahwa kontribusi perempuan tidak selalu hadir dalam bentuk besar yang kasat mata, tetapi juga melalui narasi, pengalaman, dan nilai yang ditularkan secara berkelanjutan.
Di tengah perubahan sosial yang kian kompleks, forum seperti ini menjadi penting sebagai ruang konsolidasi gagasan sekaligus penguatan peran perempuan. Bukan hanya untuk memperjuangkan kesetaraan, tetapi juga memastikan bahwa perempuan memiliki posisi strategis dalam membentuk arah masa depan, baik di lingkungan keluarga, kampus, maupun masyarakat luas.(humassk)