menag 1'.jpeg

Kamis, 04 Juni 2026 16:56:00 WIB

0

Di UIN Sunan Kalijaga, Prof. Nasaruddin Umar Menemukan Yogyakarta sebagai Muara Perjumpaan Peradaban

Di tengah padatnya agenda sebagai Menteri Agama, Prof. Nasaruddin Umar menyimpan satu kerinduan yang tidak pernah benar-benar hilang, yakni Yogyakarta.

Kerinduan itu mengalir hangat saat ia berdiri di hadapan peserta Forum Ekonomi Regional Jawa 2026 yang digelar di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Kamis (4/6/2026). Forum ekonomi yang mempertemukan akademisi, pelaku usaha, dan berbagai pemangku kepentingan itu sejenak berubah menjadi ruang nostalgia ketika Prof. Nasaruddin Umar mengenang hubungannya dengan Kota Gudeg ini.

“Di Yogyakarta ini saya punya kerinduan tersendiri,” ujarnya membuka cerita.

Bukan tanpa alasan. Jauh sebelum menjabat sebagai Menteri Agama, ia pernah menjadi bagian dari aktivitas akademik di Yogyakarta. Ia pernah terlibat dalam Pusat Kajian Wanita dan merasakan langsung denyut kehidupan intelektual yang tumbuh di lingkungan kampus, khususnya UIN Sunan Kalijaga.

“Ekosistem intelektual di UIN Yogyakarta ini saya rasakan betul. Kehangatan intelektualnya, kekeluargaannya sangat luar biasa,” katanya.

Baginya, Yogyakarta bukan sekadar kota pendidikan. Ada sesuatu yang sulit ditemukan di tempat lain, suasana akademik yang hangat tanpa kehilangan kedalaman intelektualnya.

Karena itulah, di hadapan peserta forum, ia melontarkan sebuah pengakuan yang disambut senyum dan tepuk tangan hadirin.

“Keinginan untuk pensiun di Yogyakarta itu hangat sekali. Melihat Yogyakarta, saya merasakan kekeluargaan yang sangat kuat,” ujarnya.

Namun bagi Prof. Nasaruddin Umar, keistimewaan Yogyakarta tidak hanya terletak pada suasana sosialnya. Ia melihat kota ini memiliki posisi unik dalam percakapan peradaban dunia.

Untuk menjelaskan pandangannya, ia mengajak peserta menengok kisah Nabi Musa dalam Surah Al-Kahfi ayat 60 tentang pencarian ilmu hingga bertemu dua lautan. Ia menyinggung pendapat Ar-Razi, dua lautan itu tidak semata bermakna geografis, tetapi simbol perjumpaan dua tradisi pengetahuan besar.

Di satu sisi, terdapat tradisi Timur yang melahirkan agama-agama besar dunia dan menekankan dimensi intelektualitas spiritualitas. Di sisi lain, terdapat tradisi Barat yang berkembang melalui rasionalitas dan kekuatan berpikir kritis.

“Tidak ada nabi yang lahir di Barat, tetapi banyak pemikir besar lahir di sana. Plato, Socrates, Democritus. Sementara itu, agama-agama besar lahir di Timur. Jadi, ada perbedaan corak epistemologi di antara keduanya,” jelasnya.

Di mata Prof. Nasaruddin Umar, gambaran tentang dua lautan itu menemukan bentuk nyatanya di Yogyakarta.

Ia melihat kota ini sebagai ruang bertemunya berbagai tradisi keilmuan dunia. Banyak akademisi yang dibentuk oleh universitas-universitas Barat, tetapi pada saat yang sama juga tumbuh kuat tradisi keilmuan Islam yang berakar dari Timur Tengah.

Secara khusus, ia menyinggung UIN Sunan Kalijaga sebagai salah satu representasi perjumpaan tersebut.

“Saya melihat UIN Sunan Kalijaga seperti itu. Banyak dosennya yang berasal dari tradisi pendidikan Barat, tetapi juga banyak yang berasal dari Mesir. Ini menjadi pertemuan yang sangat menarik,” katanya.

Selain menjadi titik temu Timur dan Barat, lanjutnya, kota ini juga memiliki fondasi budaya lokal yang kuat.

Budaya Jawa dengan segala nilai kearifan, kesantunan, dan filosofi hidupnya menjadi elemen ketiga yang memperkaya dialog peradaban tersebut.

“Yogyakarta ini seperti sebuah segitiga. Ada Timur, ada Barat, lalu ada kearifan lokal yang menjadi titik pertemuannya,” ujarnya.

Dari sinilah lahir keyakinannya bahwa Yogyakarta memiliki potensi untuk menawarkan sesuatu yang baru bagi dunia.

Bukan sekadar menjadi tempat bertemunya berbagai pemikiran, tetapi melahirkan sintesis baru yang menggabungkan spiritualitas Timur, rasionalitas Barat, dan kebijaksanaan budaya Nusantara.

“Maka kita perlu menawarkan satu peradaban baru. Bukan peradaban Timur, bukan pula Barat. Sesuatu yang lahir dari perjumpaan keduanya,” katanya.

Dalam pandangan Prof. Nasaruddin, gagasan itu sejalan dengan pesan universal Islam bahwa Al-Qur’an tidak hadir hanya untuk satu bangsa atau satu kelompok budaya tertentu.

Percakapan tentang Yogyakarta, ilmu pengetahuan, dan peradaban menjadi pengantar menuju tema yang lebih substantif. Dalam sesi berikutnya, Menteri Agama mengulas pengembangan ekosistem halal yang tidak hanya menyentuh kebutuhan fisik manusia, tetapi juga dimensi spiritual yang menjadi fondasi lahirnya keberkahan. (humassk)