Di
tengah padatnya agenda sebagai Menteri Agama, Prof. Nasaruddin Umar menyimpan
satu kerinduan yang tidak pernah benar-benar hilang, yakni Yogyakarta.
Kerinduan
itu mengalir hangat saat ia berdiri di hadapan peserta Forum Ekonomi Regional
Jawa 2026 yang digelar di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Kamis (4/6/2026).
Forum ekonomi yang mempertemukan akademisi, pelaku usaha, dan berbagai pemangku
kepentingan itu sejenak berubah menjadi ruang nostalgia ketika Prof. Nasaruddin
Umar mengenang hubungannya dengan Kota Gudeg ini.
“Di Yogyakarta ini saya punya kerinduan tersendiri,” ujarnya membuka
cerita.
Bukan tanpa alasan. Jauh sebelum menjabat sebagai Menteri Agama, ia pernah
menjadi bagian dari aktivitas akademik di Yogyakarta. Ia pernah terlibat dalam
Pusat Kajian Wanita dan merasakan langsung denyut kehidupan intelektual yang
tumbuh di lingkungan kampus, khususnya UIN Sunan Kalijaga.
“Ekosistem intelektual di UIN Yogyakarta ini saya rasakan betul. Kehangatan
intelektualnya, kekeluargaannya sangat luar biasa,” katanya.
Baginya, Yogyakarta bukan sekadar kota pendidikan. Ada sesuatu yang sulit
ditemukan di tempat lain, suasana akademik yang hangat tanpa kehilangan kedalaman
intelektualnya.
Karena itulah, di hadapan peserta forum, ia melontarkan sebuah pengakuan
yang disambut senyum dan tepuk tangan hadirin.
“Keinginan
untuk pensiun di Yogyakarta itu hangat sekali. Melihat Yogyakarta, saya
merasakan kekeluargaan yang sangat kuat,” ujarnya.
Namun
bagi Prof. Nasaruddin Umar, keistimewaan Yogyakarta tidak hanya terletak pada
suasana sosialnya. Ia melihat kota ini memiliki posisi unik dalam
percakapan peradaban dunia.
Untuk menjelaskan pandangannya, ia mengajak peserta menengok kisah Nabi
Musa dalam Surah Al-Kahfi ayat 60 tentang pencarian ilmu hingga bertemu dua
lautan. Ia menyinggung pendapat Ar-Razi, dua lautan itu tidak semata bermakna
geografis, tetapi simbol perjumpaan dua tradisi pengetahuan besar.
Di satu sisi, terdapat tradisi Timur yang melahirkan agama-agama besar
dunia dan menekankan dimensi intelektualitas spiritualitas. Di sisi lain,
terdapat tradisi Barat yang berkembang melalui rasionalitas dan kekuatan
berpikir kritis.
“Tidak ada nabi yang lahir di Barat, tetapi banyak pemikir besar lahir di
sana. Plato, Socrates, Democritus. Sementara itu, agama-agama besar lahir di
Timur. Jadi, ada perbedaan corak epistemologi di antara keduanya,” jelasnya.
Di mata Prof. Nasaruddin Umar, gambaran tentang dua lautan itu menemukan
bentuk nyatanya di Yogyakarta.
Ia melihat kota ini sebagai ruang bertemunya berbagai tradisi keilmuan
dunia. Banyak akademisi yang dibentuk oleh universitas-universitas Barat,
tetapi pada saat yang sama juga tumbuh kuat tradisi keilmuan Islam yang berakar
dari Timur Tengah.
Secara khusus, ia menyinggung UIN Sunan Kalijaga sebagai salah satu
representasi perjumpaan tersebut.
“Saya melihat UIN Sunan Kalijaga seperti itu. Banyak dosennya yang berasal
dari tradisi pendidikan Barat, tetapi juga banyak yang berasal dari Mesir. Ini
menjadi pertemuan yang sangat menarik,” katanya.
Selain menjadi titik temu Timur dan Barat, lanjutnya, kota ini juga
memiliki fondasi budaya lokal yang kuat.
Budaya Jawa dengan segala nilai kearifan, kesantunan, dan filosofi hidupnya
menjadi elemen ketiga yang memperkaya dialog peradaban tersebut.
“Yogyakarta ini seperti sebuah segitiga. Ada Timur, ada Barat, lalu ada
kearifan lokal yang menjadi titik pertemuannya,” ujarnya.
Dari sinilah lahir keyakinannya bahwa Yogyakarta memiliki potensi untuk
menawarkan sesuatu yang baru bagi dunia.
Bukan sekadar menjadi tempat bertemunya berbagai pemikiran, tetapi
melahirkan sintesis baru yang menggabungkan spiritualitas Timur, rasionalitas
Barat, dan kebijaksanaan budaya Nusantara.
“Maka
kita perlu menawarkan satu peradaban baru. Bukan peradaban Timur, bukan pula
Barat. Sesuatu yang lahir dari perjumpaan keduanya,” katanya.
Dalam
pandangan Prof. Nasaruddin, gagasan itu sejalan dengan pesan universal Islam bahwa
Al-Qur’an tidak hadir hanya untuk satu bangsa atau satu kelompok budaya
tertentu.
Percakapan
tentang Yogyakarta, ilmu pengetahuan, dan peradaban menjadi pengantar menuju
tema yang lebih substantif. Dalam sesi berikutnya, Menteri Agama mengulas
pengembangan ekosistem halal yang tidak hanya menyentuh kebutuhan fisik
manusia, tetapi juga dimensi spiritual yang menjadi fondasi lahirnya
keberkahan. (humassk)