Menempuh pendidikan magister dan doktoral bukan sekadar melanjutkan jenjang pendidikan, melainkan memasuki fase baru sebagai scholar yang dituntut mampu berpikir logis, kritis, kreatif, mahir mengomunikasikan gagasan, serta berintegritas. Karena itu, pengetahuan yang diperoleh selama studi tidak semestinya berhenti sebagai kumpulan informasi, tetapi harus tumbuh menjadi cara berpikir yang membentuk gagasan dan melahirkan karya ilmiah.
Pesan tersebut disampaikan Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Prof. Noorhaidi Hasan saat menyampaikan pidato pada Pembukaan Sosialisasi Pembelajaran (Sospem) Mahasiswa Magister dan Doktor UIN Sunan Kalijaga, Selasa (1/9/2026). Kegiatan bertema “Designing the Future, Transcending the Boundaries of Knowledge” tersebut diikuti 638 mahasiswa, terdiri atas 572 mahasiswa magister dan 66 mahasiswa doktor, secara hybrid dari Aula Lantai 3 Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan serta melalui Zoom Meeting.
Hadir pula secara luring dalam kegiatan tersebut Wakil Rektor Bidang Akademik dan Pengembangan Lembaga Prof. Dr. Istiningsih, Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Prof. Sigit Purnama beserta segenap Wakil Dekan, Ketua Center for Teaching and Staff Development (CTSD) UIN Sunan Kalijaga Dr. Muqowim, serta pihak terkait.
Di hadapan mahasiswa baru program magister dan doktor, Rektor menegaskan bahwa keputusan melanjutkan studi merupakan salah satu keputusan penting dalam perjalanan akademik seseorang. Pada tahap ini, mahasiswa tidak lagi sekadar diposisikan sebagai pembelajar, tetapi sebagai calon scholar yang harus membangun kapasitas intelektual dan karakter akademiknya.
Dalam konteks tersebut, lanjut dia, Liberal Arts menjadi kapasitas yang perlu dikuasai mahasiswa. Mahasiswa akan ditempa untuk mampu berpikir secara logis, kritis, dan kreatif. Kemampuan tersebut tidak lahir secara instan, melainkan dibangun melalui proses panjang dengan membaca, menguji fakta, merumuskan klaim, serta menyusun argumentasi yang didukung bukti empiris yang memadai.
“Sementara itu, berpikir kritis berarti memiliki keberanian intelektual untuk mempertanyakan sesuatu yang selama ini dianggap mapan. Ketika teori mampu menjelaskan suatu fenomena, tetapi peneliti menemukan ruang yang belum terjelaskan, di situlah proses berpikir kritis bekerja,” ujar Rektor.
Menurut Rektor, perkembangan ilmu dan inovasi berangkat dari kemampuan melihat persoalan secara logis, kritis, dan kreatif. Karena itu, mahasiswa S2 dan S3 perlu membangun kebiasaan intelektual yang memungkinkan mereka tidak sekadar mengulang pengetahuan yang sudah ada, tetapi mampu menemukan pertanyaan dan kemungkinan baru.
Salah satu penekanan Rektor lainnya adalah pentingnya membaca secara serius. “Teori adalah bagaimana kita menjelaskan data, cara kita berpikir yang tertanam dan berakar dalam pikiran kita, bukan ditempel-tempelkan dalam karya ilmiah,” tegasnya.
Pandangan tersebut menempatkan membaca bukan sebagai aktivitas akademik yang bersifat administratif, melainkan sebagai proses membangun struktur berpikir. Teori tidak cukup dicantumkan dalam kajian pustaka, tetapi harus benar-benar digunakan untuk membaca realitas, menjelaskan data, dan mengembangkan argumentasi.
Hal tersebut terefleksi dalam pengalaman akademiknya saat menempuh studi di Belanda. Ia menceritakan bagaimana kebiasaan membaca secara intensif turut membentuk cara berpikir sebagai scholar. Refleksi tersebut kemudian ia tuangkan dalam buku The Art of Scientific Inquiry, yang juga berangkat dari pengalamannya mengajar di pascasarjana tentang seni berpikir, meneliti, dan menulis karya ilmiah.
Proses tersebut, menurut Rektor, membutuhkan waktu dan ketelatenan. Karena itu, mahasiswa magister dan doktor perlu memiliki kesabaran intelektual untuk terus membaca, berpikir, menulis, dan menguji gagasannya.
Rektor juga mengingatkan mahasiswa agar tidak menjadikan capaian nilai sebagai satu-satunya orientasi studi. Program magister dan doktor justru memberikan ruang yang lebih luas untuk mengembangkan kapasitas berpikir.
“Perjalanan menyusun tesis, terlebih disertasi, tidak selalu berjalan lurus. Anda bisa mengalami fase ketika persoalan penelitian terasa buntu dan seolah-olah memasuki ‘lorong gelap’. Itu tandanya kapasitas pikiran yang Anda miliki sedang dipaksa bekerja secara maksimal. Artinya, Anda sedang mengerjakannya dengan sungguh-sungguh,” ujarnya.
Selain kemampuan berpikir, Rektor menekankan pentingnya kemampuan mengomunikasikan gagasan. Sebuah karya ilmiah tidak cukup hanya memiliki argumentasi yang kuat. Gagasan juga harus dapat disampaikan kepada orang lain secara efektif.
“Menyampaikan karya ilmiah itu perlu seni. Seni mengomunikasikan ide, dan ini harus dipelajari,” katanya.
Dimensi lain yang tidak kalah penting adalah integritas. Kejujuran, amanah, dan tanggung jawab akademik, menurut Prof. Noorhaidi, merupakan fondasi yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan seorang scholar.
Pada akhirnya, Rektor mengajak seluruh mahasiswa untuk memanfaatkan masa studi sebagai ruang pembentukan diri secara utuh. Bukan sekadar memperoleh gelar, tetapi membangun kemampuan berpikir, mengembangkan gagasan, menjaga integritas, dan menghadirkan kontribusi nyata.
“Bukan sekadar mencari nilai. Di sinilah Anda memiliki kesempatan membangun pemikiran kritis dan mampu mengomunikasikannya. Benar-benar belajar mengembangkan diri,” pesannya.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua CTSD UIN Sunan Kalijaga Dr. Muqowim mengatakan, kesempatan menempuh S2 dan S3 tersebut harus diikuti dengan transformasi pengetahuan menjadi energi perubahan.(humassk)