Kemampuan menciptakan usaha, beradaptasi dengan teknologi, dan membaca perubahan ekonomi menjadi bekal penting bagi generasi muda untuk ikut menggerakkan perekonomian Indonesia. Di tengah ketidakpastian ekonomi global, pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menjadi salah satu jalan untuk memperluas kesempatan kerja sekaligus mendorong Indonesia keluar dari middle income trap menuju Indonesia Emas 2045.
Persoalan
tersebut menjadi pembahasan dalam Seminar Nasional HES Festival 2026 yang
diselenggarakan Program Studi Hukum Ekonomi Syariah, Fakultas Syariah dan Hukum
(FSH), UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Senin (20/10/2026), di Convention Hall
Lantai 1 kampus setempat. Seminar menghadirkan Wakil Bupati Kulon Progo Ambar
Purwoko dan Analis Kebijakan Ahli Muda Kementerian UMKM, Advensius Cristian.
Melalui
forum ini, mahasiswa diajak melihat persoalan ekonomi bukan semata-mata sebagai
tantangan, melainkan juga ruang untuk menghadirkan gagasan dan menciptakan
peluang usaha yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Dalam
pemaparan bertajuk “Berani Ambil Peran”, Ambar Purwoko mengingatkan pentingnya
kesiapan generasi muda menghadapi perubahan global. Ketidakpastian ekonomi,
krisis iklim, perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI),
ketegangan geopolitik, transformasi dunia kerja, dan kesenjangan sosial
merupakan sejumlah persoalan yang menuntut kemampuan adaptasi sekaligus
ketajaman dalam membaca masalah.
Menurutnya,
pengetahuan perlu diimbangi keterampilan dan akhlak yang baik agar generasi
muda mampu mengambil peran di tengah perubahan.
“Seorang
pemuda tidak hanya harus memiliki pengetahuan yang terus diasah, tetapi juga
keterampilan untuk menghadapi dinamika dan memanfaatkan berbagai peluang, serta
memiliki akhlak yang baik,” ujarnya.
Ia
juga mendorong mahasiswa untuk menerjemahkan pengetahuan dan kreativitas
menjadi inisiatif nyata di sektor strategis daerah, seperti pertanian,
pariwisata, UMKM, dan ekonomi digital.
Potensi
daerah, menurutnya, dapat berkembang ketika kebijakan pemerintah, hasil riset
perguruan tinggi, dan keberanian pelaku usaha saling terhubung. Dalam konteks
ini, mahasiswa memiliki ruang untuk berkontribusi melalui gagasan, inovasi, dan
pemecahan masalah yang berangkat dari kebutuhan masyarakat.
Dari
perspektif kebijakan pengembangan usaha, Anaslis Kebijakan Ahli Muda
Kemenetrian UMKM menyampaikan “Peran Pemuda dalam Pengembangan UMKM Indonesia
di Era Ekonomi Global”. Pemaparan tersebut menyoroti peluang generasi muda
untuk mengambil bagian dalam pertumbuhan ekonomi melalui kewirausahaan dan
pengembangan kapasitas usaha.
Dalam
paparannya, disebutkan bahwa 73 persen wirausahawan muda berkeinginan
menciptakan peluang usaha sendiri, sementara kontribusi mereka terhadap ekspor
nonmigas nasional mencapai 16 persen. Angka tersebut menunjukkan potensi
kewirausahaan muda untuk turut menggerakkan ekonomi, meskipun pengembangan
usaha tetap membutuhkan dukungan keterampilan, akses pasar, pembiayaan, dan
pendampingan.
Bagi
mahasiswa, peluang tersebut dapat dimulai dengan mengenali kebutuhan di
lingkungan sekitar, mengembangkan produk atau layanan yang memiliki nilai
tambah, serta memanfaatkan teknologi untuk memperluas jangkauan pasar. Namun,
keberanian memulai usaha perlu disertai kemampuan mengelola bisnis agar usaha
dapat bertahan dan berkembang.
Salah
satu dukungan pemerintah dalam pengembangan ekosistem UMKM ialah platform
digital SAPA UMKM. Platform ini dirancang sebagai sumber data terpadu UMKM
sekaligus pintu akses berbagai layanan bagi pelaku usaha.
Layanan
yang disediakan mencakup pengurusan legalitas usaha, peningkatan kompetensi
melalui pelatihan terstruktur, serta akses pembiayaan, termasuk Kredit Usaha
Rakyat (KUR). Integrasi layanan tersebut ditujukan untuk membantu pelaku usaha
memperoleh informasi dan dukungan yang dibutuhkan dalam mengembangkan bisnis.
Pengembangan
UMKM juga, menurutnya membutuhkan kemampuan membaca perubahan pasar dan
memanfaatkan teknologi secara tepat. Karena itu, transformasi digital tidak
cukup berhenti pada penggunaan platform, tetapi perlu diikuti peningkatan
kapasitas pelaku usaha dalam mengelola dan mengembangkan bisnis.
Penyelenggaraan
Seminar Nasional HES Festival 2026 menjadi ruang untuk mempertemukan
pembelajaran akademik dengan persoalan ekonomi yang dihadapi masyarakat.
Pembahasan mengenai kewirausahaan, UMKM, dan transformasi digital memberi
konteks nyata bagi mahasiswa untuk memahami bagaimana pengetahuan dapat
diterapkan dalam kehidupan ekonomi.
Bagi
mahasiswa Hukum Ekonomi Syariah, dinamika pengembangan usaha juga membuka ruang
untuk mengkaji aspek legalitas, tata kelola, serta praktik ekonomi yang sesuai
dengan prinsip syariah. Dengan demikian, kontribusi akademik dapat hadir bukan
hanya dalam bentuk pemikiran, tetapi juga dalam upaya menjawab kebutuhan pelaku
usaha.
Perjalanan
menuju Indonesia Emas 2045 membutuhkan generasi muda yang mampu membaca
persoalan, mengembangkan keterampilan, dan mengubah peluang menjadi kegiatan
ekonomi produktif. Dukungan kebijakan pemerintah, pemanfaatan teknologi, serta
keterlibatan perguruan tinggi menjadi bagian dari ekosistem yang memungkinkan
potensi tersebut berkembang. (humassk)