WhatsApp Image 2026-10-19 at 11.23.56.jpeg

Selasa, 20 Oktober 2026 09:16:00 WIB

0

HES Festival 2026 UIN Sunan Kalijaga Bahas Peran Pemuda dalam Mendorong Ekonomi Nasional

Kemampuan menciptakan usaha, beradaptasi dengan teknologi, dan membaca perubahan ekonomi menjadi bekal penting bagi generasi muda untuk ikut menggerakkan perekonomian Indonesia. Di tengah ketidakpastian ekonomi global, pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menjadi salah satu jalan untuk memperluas kesempatan kerja sekaligus mendorong Indonesia keluar dari middle income trap menuju Indonesia Emas 2045.

Persoalan tersebut menjadi pembahasan dalam Seminar Nasional HES Festival 2026 yang diselenggarakan Program Studi Hukum Ekonomi Syariah, Fakultas Syariah dan Hukum (FSH), UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Senin (20/10/2026), di Convention Hall Lantai 1 kampus setempat. Seminar menghadirkan Wakil Bupati Kulon Progo Ambar Purwoko dan Analis Kebijakan Ahli Muda Kementerian UMKM, Advensius Cristian.


Melalui forum ini, mahasiswa diajak melihat persoalan ekonomi bukan semata-mata sebagai tantangan, melainkan juga ruang untuk menghadirkan gagasan dan menciptakan peluang usaha yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Dalam pemaparan bertajuk “Berani Ambil Peran”, Ambar Purwoko mengingatkan pentingnya kesiapan generasi muda menghadapi perubahan global. Ketidakpastian ekonomi, krisis iklim, perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), ketegangan geopolitik, transformasi dunia kerja, dan kesenjangan sosial merupakan sejumlah persoalan yang menuntut kemampuan adaptasi sekaligus ketajaman dalam membaca masalah.

Menurutnya, pengetahuan perlu diimbangi keterampilan dan akhlak yang baik agar generasi muda mampu mengambil peran di tengah perubahan.

“Seorang pemuda tidak hanya harus memiliki pengetahuan yang terus diasah, tetapi juga keterampilan untuk menghadapi dinamika dan memanfaatkan berbagai peluang, serta memiliki akhlak yang baik,” ujarnya.

Ia juga mendorong mahasiswa untuk menerjemahkan pengetahuan dan kreativitas menjadi inisiatif nyata di sektor strategis daerah, seperti pertanian, pariwisata, UMKM, dan ekonomi digital.

Potensi daerah, menurutnya, dapat berkembang ketika kebijakan pemerintah, hasil riset perguruan tinggi, dan keberanian pelaku usaha saling terhubung. Dalam konteks ini, mahasiswa memiliki ruang untuk berkontribusi melalui gagasan, inovasi, dan pemecahan masalah yang berangkat dari kebutuhan masyarakat.

Dari perspektif kebijakan pengembangan usaha, Anaslis Kebijakan Ahli Muda Kemenetrian UMKM menyampaikan “Peran Pemuda dalam Pengembangan UMKM Indonesia di Era Ekonomi Global”. Pemaparan tersebut menyoroti peluang generasi muda untuk mengambil bagian dalam pertumbuhan ekonomi melalui kewirausahaan dan pengembangan kapasitas usaha.

Dalam paparannya, disebutkan bahwa 73 persen wirausahawan muda berkeinginan menciptakan peluang usaha sendiri, sementara kontribusi mereka terhadap ekspor nonmigas nasional mencapai 16 persen. Angka tersebut menunjukkan potensi kewirausahaan muda untuk turut menggerakkan ekonomi, meskipun pengembangan usaha tetap membutuhkan dukungan keterampilan, akses pasar, pembiayaan, dan pendampingan.

Bagi mahasiswa, peluang tersebut dapat dimulai dengan mengenali kebutuhan di lingkungan sekitar, mengembangkan produk atau layanan yang memiliki nilai tambah, serta memanfaatkan teknologi untuk memperluas jangkauan pasar. Namun, keberanian memulai usaha perlu disertai kemampuan mengelola bisnis agar usaha dapat bertahan dan berkembang.

Salah satu dukungan pemerintah dalam pengembangan ekosistem UMKM ialah platform digital SAPA UMKM. Platform ini dirancang sebagai sumber data terpadu UMKM sekaligus pintu akses berbagai layanan bagi pelaku usaha.

Layanan yang disediakan mencakup pengurusan legalitas usaha, peningkatan kompetensi melalui pelatihan terstruktur, serta akses pembiayaan, termasuk Kredit Usaha Rakyat (KUR). Integrasi layanan tersebut ditujukan untuk membantu pelaku usaha memperoleh informasi dan dukungan yang dibutuhkan dalam mengembangkan bisnis.

Pengembangan UMKM juga, menurutnya membutuhkan kemampuan membaca perubahan pasar dan memanfaatkan teknologi secara tepat. Karena itu, transformasi digital tidak cukup berhenti pada penggunaan platform, tetapi perlu diikuti peningkatan kapasitas pelaku usaha dalam mengelola dan mengembangkan bisnis.

Penyelenggaraan Seminar Nasional HES Festival 2026 menjadi ruang untuk mempertemukan pembelajaran akademik dengan persoalan ekonomi yang dihadapi masyarakat. Pembahasan mengenai kewirausahaan, UMKM, dan transformasi digital memberi konteks nyata bagi mahasiswa untuk memahami bagaimana pengetahuan dapat diterapkan dalam kehidupan ekonomi.

Bagi mahasiswa Hukum Ekonomi Syariah, dinamika pengembangan usaha juga membuka ruang untuk mengkaji aspek legalitas, tata kelola, serta praktik ekonomi yang sesuai dengan prinsip syariah. Dengan demikian, kontribusi akademik dapat hadir bukan hanya dalam bentuk pemikiran, tetapi juga dalam upaya menjawab kebutuhan pelaku usaha.

Perjalanan menuju Indonesia Emas 2045 membutuhkan generasi muda yang mampu membaca persoalan, mengembangkan keterampilan, dan mengubah peluang menjadi kegiatan ekonomi produktif. Dukungan kebijakan pemerintah, pemanfaatan teknologi, serta keterlibatan perguruan tinggi menjadi bagian dari ekosistem yang memungkinkan potensi tersebut berkembang. (humassk)