WhatsApp Image 2026-01-02 at 13.40.10.jpeg

Jumat, 02 Januari 2026 13:29:00 WIB

0

Meningkatkan Kualitas dan Daya Saing Bangsa Menuju Indonesia Emas 2045 (Prof. Noorhaidi Hasan, Ph.D. Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)

Kita telah memasuki tahun baru 2026, yang insyaallah akan membawa lebih banyak harapan dan kebahagiaan bagi kita semua. Tahun baru bukan sekadar pergantian angka dalam kalender, melainkan sebuah momentum reflektif dan strategis bagi bangsa Indonesia dalam menapaki jalan panjang menuju Indonesia Emas 2045. Di tengah dinamika global yang ditandai oleh disrupsi teknologi, ketidakpastian geopolitik, dan kompetisi antarbangsa yang semakin ketat, tahun 2026 menjadi titik penting untuk meneguhkan kembali arah pembangunan nasional yang berorientasi pada kualitas manusia, daya saing, dan keberlanjutan.

Indonesia Emas 2045 meniscayakan lebih dari sekadar pertumbuhan ekonomi. Ia menuntut transformasi kualitas sumber daya manusia (SDM) sebagai fondasi utama. Tahun 2026 harus dimaknai sebagai tahun penguatan investasi manusia—melalui pendidikan yang bermutu, inklusif, dan relevan dengan tantangan abad ke-21. Pendidikan tidak lagi cukup berfokus pada penguasaan pengetahuan dasar, tetapi harus mendorong kemampuan berpikir logis dan kritis, kreativitas, keterampilan berkomunikasi, literasi digital, dan karakter kebangsaan. Tanpa SDM unggul yang adaptif dan berintegritas, bonus demografi justru berpotensi menjadi beban demografi.

Di akhir 2025 yang baru berlalu, kita disentakkan oleh fakta bahwa nilai rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) siswa kelas XII SMA dan yang sederajat masih tergolong rendah: Matematika wajib 36,10; Bahasa Indonesia wajib 55,38; dan Bahasa Inggris wajib 24,93. Pencapaian ini bukan semata cerminan buruknya kualitas pelajar Indonesia, tetapi lebih barangkali karena kekurangtepatan metode pengajaran dan sistem pembelajaran yang dipakai selama ini, ketersediaan guru berkualitas dan sarana memadai, serta latar sosial-ekonomi dan lingkungan belajar. Satu hal yang jelas, PR besar menanti di hadapan kita untuk menjadikannya sebagai bahan evaluasi bagi perbaikan kualitas pendidikan kita. Rendahnya nilai rata-rata TKA ini berbanding lurus dengan Human Capital Index Indonesia yang baru mencapai angka 0,54. Artinya, seorang anak Indonesia yang lahir hari ini, ketika dewasa hanya akan mencapai sekitar 54% dari potensi produktivitas maksimalnya jika ia memperoleh pendidikan dan kesehatan yang ideal.

Selain kualitas SDM, daya saing bangsa di tahun 2026 sangat ditentukan oleh kemampuan Indonesia dalam mengelola transformasi digital dan ekonomi berbasis pengetahuan. Revolusi industri 4.0 dan kecerdasan buatan telah mengubah peta persaingan global. Oleh karena itu, tahun 2026 perlu menjadi fase percepatan inovasi, riset, dan penguasaan teknologi strategis. Negara harus hadir sebagai enabler—menciptakan ekosistem yang kondusif bagi kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, industri, dan masyarakat sipil. Daya saing bangsa tidak dibangun oleh satu aktor, melainkan oleh sinergi kolektif.

Lebih jauh, makna tahun baru 2026 juga terletak pada penguatan etos kebangsaan dan integritas moral. Kemajuan material tanpa fondasi etika akan rapuh. Indonesia Emas 2045 menuntut generasi yang tidak hanya cerdas dan kompeten, tetapi juga menjunjung tinggi nilai kejujuran, keadilan, toleransi, dan tanggung jawab sosial. Dalam konteks ini, pendidikan karakter, kohesi sosial dan kerukunan antarseluruh elemen bangsa, serta penguatan budaya gotong royong harus berjalan seiring dengan agenda modernisasi dan pembangunan ekonomi. Ketiganya dirangkum dengan baik oleh Menteri Agama kita, Prof Nasaruddin Umar, dalam konsep kurikulum cinta yang dipadukan dengan eco-theology. Konsep ini menekankan bahwa pendidikan tidak boleh berhenti pada transfer pengetahuan dan keterampilan, tetapi harus berakar pada pembentukan karakter berbasis cinta, empati, dan kemanusiaan universal, melampaui sekat-sekat agama, kesukuan dan identitas primordial lainnya.

Di tingkat kebijakan, tahun 2026 menjadi momen krusial untuk memastikan bahwa pembangunan nasional berjalan secara inklusif dan berkelanjutan. Ketimpangan sosial, kesenjangan wilayah, dan kerentanan lingkungan harus diatasi melalui kebijakan berbasis data dan keadilan sosial. Daya saing bangsa akan rapuh jika hanya bertumpu pada segelintir wilayah atau kelompok. Indonesia Emas 2045 hanya mungkin tercapai jika kemajuan dirasakan secara luas oleh seluruh rakyat.

Dengan demikian, tahun baru 2026 bukanlah garis awal yang kosong, melainkan kelanjutan dari komitmen sejarah bangsa Indonesia untuk menjadi bangsa yang berdaulat, maju, dan bermartabat. Tahun ini harus dimaknai sebagai ajakan untuk bekerja lebih serius, berpikir lebih jauh, dan bertindak lebih kolaboratif. Jika 2026 mampu menjadi tahun penguatan kualitas manusia, inovasi, dan integritas, maka Indonesia Emas 2045 bukan sekadar visi utopis, melainkan cita-cita yang secara perlahan namun pasti menjadi kenyataan.

(Tulisan ini sudah terbit di media cetak KR tgl 2 Januari 2026)