Upaya Amerika Serikat untuk menaklukkan Iran dan mendikte arah politik Timur Tengah akan semakin jauh dari kenyataan. Operasi epic fury, tekanan maksimum dan proyek kebebasan untuk memuluskan langkah Washington membuka paksa Selat Hormuz dengan superioritas militer yang dimiliki, sia-sia saja. Teheran telah mengunci rapat kawasan dan meninggalkan lawannya dalam ilusi kemenangan.
Iran mengukuhkan hegemoninya di Selat Hormuz dengan mengencangkan sabuk pengawasan militer yang membentang dari Kuh-e Mobarak di Kota Pelabuhan Jask, Iran hingga selatan Fujairah, UEA. Melalui Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC Navy) atau Pasdaran, Teheran mewajibkan setiap kapal tanker atau kapal komersial memperoleh izin melintas atau akan disita dan diserang rudal jelajah antikapal dan drone kamikaze jika mengabaikan peringatan. Iran benar-benar ingin mengakhiri dominasi Amerika di jalur terpenting di Teluk Persia dan hanya memberi izin kepada mitra koalisinya, Tiongkok dan Rusia.
Sikap Iran dianggap sebagai tindakan perang dan ancaman bagi energi dunia. Pemblokiran selat itu mengganggu pasokan minyak dan kepentingan nasional Amerika. Selain itu, isu BBM menjadi komoditas politik yang sensitif karena dapat menggerus pemilih kelas pekerja dan menjadi beban bagi Partai Republik jelang pemilu sela 2026—tahun pemilihan paruh waktu (midterm elections). Warganya menyalahkan petahana (incumbent) karena tak mampu mengendalikan inflasi energi. Donald Trump terdesak dalam dilema antara narasi stabilitas ekonomi America First yang terancam dan menjaga wibawa di hadapan Iran maupun sekutu globalnya.
Diplomasi mengalami jalan buntu, Washington menolak proposal Iran. Saluran komunikasi antara Iran dan Amerika yang dimediasi Pakistan di Islamabad tersumbat, kedua pihak tak dapat memenuhi konsesi. Amerika menuntut agar pengayaan uranium Iran di atas 60% dihentikan total dan menggaransi stabilitas maritim di Selat Hormuz. Adapun Iran mengajukan restitusi ekonomi dan hak pengembangan nuklirnya sebelum membahas deeskalasi militer di Selat Hormuz.
Menariknya, eskalasi konflik AS dengan Iran telah menciptakan fenomena taktik unik, pengepungan lawan pengepungan balasan (siege vs counter-siege). Ayatullah Mojtaba Khamenei siap meladeni sikap Trump yang bangga menyebut pasukannya seperti bajak laut, dapat merampas atau menyerang kapal-kapal lain di Laut Oman sesukanya. Teheran merespon dengan menyebar ranjau laut, mengerahkan kawanan kapal cepat IRGC serta menempatkan baterai rudal pesisir.
Penutupan Selat Hormuz oleh Iran dan blokade Laut Oman oleh AS memicu kondisi double chokepoint yang dapat memperparah krisis ekonomi dunia. Blokade ini menyebabkan puluhan kapal tanker terjebak di Teluk Persia tanpa jalan keluar, pasokan energi dunia kehilangan sekitar 20% volumenya, padahal seperlima perdagangan minyak global dan pasokan LNG utama melaluinya. Harga minyak berpotensi meroket hingga melampaui 100 USD per barel. Dampaknya terasa bagi Asia. Infrastruktur digital dunia juga terancam jika Iran memutus kabel serat optik bawah laut yang menghubungkan Eropa dan Asia.
Untuk mengatasi blokade AS, Iran mengalirkan minyak dan logistik militer mereka dengan menerapkan armada hantu—kapal tanker Iran mematikan sistem pelacakan otomatisnya agar tidak terdeteksi oleh radar dan satelit Operasi Sentinel AS. Iran dapat mentransfer minyak antarkapal (ship-to-ship transfer) di wilayah perairan teritorial negara pihak ketiga yang bersahabat.
Selain mengendalikan Selat Hormuz, Iran juga dapat menutup Bab el-Mandeb melalui proksinya, Houthi Ansarullah, Yaman—untuk mengontrol jalur arteri menuju Terusan Suez dan pasar Eropa. Jika koalisi AS-Israel tetap bersikap keras kepala, Iran akan menciptakan disrupsi logistik global melalui blokade titik cekik ganda (chokepoint dualism) yang mampu melumpuhkan rantai pasok minyak dunia dan perdagangan internasional.
Iran tetap dalam posisinya untuk membela diri, pergantian rezim hanya mimpi Trump belaka. Selama Amerika tetap memaksakan kebijakan unilateral dan petualangan intimidatifnya, dunia akan selalu dalam bayang-bayang krisis energi yang makin kritis. (tulisan ini sudah terbit di Media Cetak KR pada Jum'at 5 Juni 2026)