1002159819.jpg

Senin, 15 Juni 2026 07:00:00 WIB

0

*DATDATA BICARA CAHAYA: Membaca Mahasiswa Difabel UIN Sunan Kalijaga Tahun 2026 Melalui Infografis: Dr. Asep Jahidin Koordinator Pusat Layanan Difabel UIN Sunan Kalijaga

Tadarus Difabel Minggu ke-88

Ketika banyak orang melihat grafik, saya melihat cahaya.

Karena cukup sering menerima pertanyaan tentang jumlah mahasiswa difabel aktif di UIN Sunan Kalijaga. Minggu ini saya mengolah data primer yang kami miliki, hingga lahir menjadi sebuah infografis sederhana sebagaimana terlihat di atas. 

Berdasarkan data Juni Tahun 2026, saat ini terdapat 111 mahasiswa difabel aktif di UIN Sunan Kalijaga yang tersebar di berbagai fakultas, program studi, dan angkatan. Data ini telah saya bacakan juga di hadapan Pansus DPRD DIY dalam Forum Pengawasan Implementasi Pendidikan Disabilitas yang digelar pada Jumat, 12 Juni 2026. Sekaligus saya memberi masukan untuk rancangan Pergub kepada para wakil rakyat dan para pemangku kebijakan yang hadir di forum itu

Bagi sebagian orang, angka 111 yang saya sajikan dalam infografis tersebut mungkin hanya dibaca sebagai data administratif saja. Tetapi bagi saya, angka itu adalah cerita tentang 111 kisah kehidupan. Di sana ada 111 mimpi. Ada 111 keluarga yang berharap. Ada 111 anak bangsa yang setiap hari membuktikan bahwa keterbatasan disabilitas bukanlah alasan untuk berhenti belajar. Pendek kata, ada 111 cahaya yang sedang menyala di antara cahaya-cahaya lainnya

Data tersebut menunjukkan bahwa mahasiswa difabel hadir di seluruh Fakultas di UIN Sunan Kalijaga dan tersebar di 31 program studi, termasuk di Prodi: Ilmu Kesejahteraan Sosial, Aqidah dan Filsafat Islam, Akuntansi Syariah, Bimbingan dan Konseling Islam, Biologi, Ekonomi Syariah, Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Ilmu Hadis, Ilmu Hukum, Ilmu Komunikasi, Ilmu Perpustakaan, _Interdisciplinary Islamic Studies

Komunikasi dan Penyiaran Islam, Manajemen Dakwah, Manajemen Keuangan Syariah, Manajemen Pendidikan Islam, Matematika, Pendidikan Agama Islam, Pendidikan Bahasa Arab, Pendidikan Fisika, Pendidikan Matematika, Pengembangan Masyarakat Islam, Perbankan Syariah, PGMI, PIAUD, Profesi Guru, Psikologi, Sejarah dan Kebudayaan Islam, Sosiologi, Studi Agama-Agama, dan Teknik Informatika.   

Momen tersebut saya lihat sebagai cahaya inklusi, sebuah  ledakan kesejahteraan sosial yang sungguh besar. Itu bukan ledakan yang menghasilkan suara keras, tetapi sebuah ledakan yang menghasilkan kesempatan luas. Ledakan yang meruntuhkan stigma negatif bagi difabel. Ini adalah ledakan positif yang telah memanusiakan manusia.

Dalam kerangka teori Cahaya Nabi, data pada infografis di atas juga telah mengingatkan kita semua pada sebuah kenyataan penting, bahwa cahaya tidak pernah memilih kepada siapa ia akan bersinar. Cahaya menerangi siapa saja yang berada dalam jangkauannya.

Demikian pula pendidikan.

Pendidikan *tidak boleh memilih-milih dan hanya melayani mereka yang dianggap sempurna secara fisik. Pendidikan umum harus menjadi cahaya yang menyinari semua manusia, termasuk mereka yang memiliki hambatan penglihatan, pendengaran, mobilitas, komunikasi, maupun intelektual serta hambatan lainnya 

Menariknya, data tersebut juga menunjukkan bahwa kelompok terbesar adalah mahasiswa difabel netra, disusul oleh mahasiswa difabel tuli, difabel daksa dan kelompok difabel lainnya. 

Data ini memberikan pesan yang kuat kepada kita semua bahwa kampus inklusif bukan lagi wacana masa depan, tetapi telah menjadi realitas yang sedang berlangsung di tengah masyarakat kita. Pencapaian akademik yang diraih para mahasiswa difabel juga tergolong sangat baik...meskipun bagi saya yang lebih penting adalah pencapaian inklusi sosial pada diri mahasiswa difabel telah bersinar semakin terang

Namun demikian,* keberadaan mereka di kampus itu bukanlah tujuan akhir, karena tujuan sesungguhnya adalah mengangkat martabat.

Pada tulisan sebelumnya, saya telah mengatakan bahwa akses adalah pintu masuk, tetapi martabat adalah tujuan.

Kita bisa menyediakan* ramp, lift, juru bahasa isyarat, buku digital, atau teknologi asistif. Semua itu penting. Tetapi yang lebih penting adalah _*memastikan bahwa setiap mahasiswa difabel merasa dihargai, diterima, dan dipercaya sebagai manusia yang utuh.

Di sinilah saya kembali menyapa realitas ini melalui _*Rumus Persamaan Sosial Cahaya Nabi: I = (E × M² × A) / S. Dalam pemaknaan sosial yang saya kembangkan melalui model tersebut dipahami bahwa I (Inklusi) akan tumbuh ketika ada E (Empati) yang memperkuat M² (Martabat Manusia) yang didorong oleh A (Aksi dan Advokasi). Untuk melawan S (Stigma).

Karena itu, data 111 mahasiswa difabel pada infografis di atas itu sesungguhnya bukan sekadar angka. Data itu adalah bukti bahwa ketika empati dan martabat mulai hadir dalam kebijakan kampus, maka inklusi akan tumbuh secara nyata.

Tetapi juga harus selalu disadari bahwa perjalanan ini belum selesai.

Masih *banyak mahasiswa yang membutuhkan akses* yang lebih baik.

Masih banyak dosen yang membutuhkan peningkatan pemahaman tentang pendidikan inklusif.

Masih banyak fasilitas yang perlu disempurnakan.

Masih ada stigma yang harus dilawan.

Karena itu,* memastikan bahwa setiap mahasiswa difabel memiliki kesempatan yang sama untuk bermimpi, belajar, berprestasi, dan memimpin *adalah tugas bersama.

Saya termasuk yang percaya bahwa *ukuran kehebatan universitas* bukan hanya terletak pada berapa banyak profesor yang dimiliki, atau berapa banyak jurnal SCOPUS yang diterbitkan, tetapi juga *_terletak pada, sejauh mana kampus tersebut mampu memuliakan manusia yang paling rentan di dalamnya.*_ dan kita terus berusaha untuk merawat semua kondisi itu

Jika 111 mahasiswa difabel hari ini dapat belajar dengan bermartabat, maka sesungguhnya *kita sedang menyaksikan cahaya yang bekerja.* Cahaya yang tidak terlihat oleh mata, tetapi terasa oleh hati… Cahaya yang mengubah keterbatasan menjadi kemungkinan.

Di bawah Sinar Bulan Purnama

Yogyakarta 15 Juni 2026