UIN SUKA

Senin, 22 Juni 2026 08:25:00 WIB

0

DALAM TADARUS DIFABEL, Saya bertemu SATU KESIMPULAN : Dr. Asep Jahidin Koordinator PLD UIN sunan Kalijaga Yogyakarta

Tadarus Difabel Minggu ke-89

Setelah 88 minggu menulis Tadarus Difabel, saya lebih dekat pada satu kesimpulan sederhana, tetapi mungkin paling penting, bahwa:

Inklusi adalah  CARA MEMANDANG MANUSIA…

Sangat mungkin sebelumnya sudah ada pandangan yang sama seperti ini… Saya memperoleh kesimpulan ini dari pengalaman panjang dalam menulis, melayani dan menyelami isu difabel, bahwa sejatinya memang dirasakan demikian... inklusi adalah cara melihat manusia.

Selama ini, kita sering berbicara tentang regulasi, kebijakan, aksesibilitas, layanan, pendampingan, teknologi bantu, akomodasi yang layak, dan berbagai instrumen lainnya… Semua itu penting… Bahkan Sangat penting.

Namun setelah berbilang tahun perjalanan mendampingi mahasiswa difabel, saya menyadari bahwa aturan yang baik tidak selalu menghasilkan perilaku yang baik.

Gedung yang aksesibel tidak otomatis menciptakan lingkungan sosial yang ramah.

Kebijakan yang inklusif juga tidak selalu melahirkan penghormatan terhadap martabat manusia.

Mengapa?

Karena di balik semua itu, ada cara pandang yang bekerja diam-diam pada diri setiap orang.

Jika seseorang memandang difabel sebagai beban, sebagai masalah, maka ia akan sibuk mempermasalahkan kekurangannya.

Jika seseorang memandang difabel sebagai objek, maka ia akan berbicara tentang mereka, tanpa bersedia mendengarkan mereka.

Tetapi jika seseorang memandang difabel sebagai manusia yang setara dalam martabat, maka seluruh perilakunya akan berubah mengikuti keyakinan tersebut.

Ia tidak lagi bertanya:

"Apa yang tidak bisa dilakukan orang ini?"

Ia akan mulai bertanya:

"Apa yang bisa saya lakukan agar potensinya dapat berkembang?"

Inklusi lahir dari kesadaran.

Inklusi tumbuh subur dari penghormatan terhadap martabat manusia.

Mungkin itulah sebabnya mengapa perjuangan inklusi sering terasa panjang.

Karena yang sedang kita ubah bukan hanya bangunan.

Bukan hanya kurikulum.

Bukan hanya sistem.

Kita sedang berjuang mengubah cara manusia berpikir dan menilai manusia lainnya.

Perubahan paradigma seperti itu adalah pekerjaan yang jauh lebih sulit dibandingkan membangun gedung atau membuat aturan. Dan itulah pekerjaan yang paling berat dalam perjuangan inklusi.

Tetapi ketika cara pandang berubah, segalanya ikut berubah.

Aturan menjadi terasa hidup.

Sistem menjadi sangat bermakna.

Kebijakan menjadi lebih manusiawi.

Dan masyarakat menjadi lebih adil.

Setelah 88 minggu menulis Tadarus Difabel, saya belajar bahwa inti dari seluruh perjuangan ini sungguh sederhana... Kita sedang memperjuangkan cara pandang yang mengakui bahwa setiap manusia memiliki martabat yang sama.

Karena hakikatnya, inklusi bukanlah hanya tentang difabel… Inklusi adalah tentang kemanusiaan... Jika saya harus merusmuskan semua refleksi di atas dalam sebuah rumus, itu dapat dibaca dalam model persamaan sosial

 I = (E × M² × A) / S

Inklusi sejati = Lahir dari Empati, bertumbuh karena Martabat, diperkuat oleh Aksi, dan terhalang oleh Stigma

Pendek kata, Inklusi bukan pertama-tama tentang fasilitas, bukan pula tentang kebijakan, atau sistem. Inklusi adalah cara manusia MEMANDANG MANUSI

Salam Sesama Manusia

Yogyakarta 22 Juni 2026