download (1).jpg

Selasa, 23 Juni 2026 14:25:00 WIB

0

Ekoteologi dan Masa Depan Kampus Islam di Tengah Krisis Iklim Global (Oleh: Faozi Barkah)

Di tengah hiruk-pikuk pemeringkatan perguruan tinggi dunia, perhatian kita sering kali terjebak pada angka. Siapa yang berada di posisi teratas, siapa yang naik peringkat, dan siapa yang tertinggal. Padahal, di balik angka-angka tersebut terdapat pertanyaan yang jauh lebih penting: gagasan apa yang sedang ditawarkan sebuah universitas kepada dunia?

Karena itu, capaian UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang masuk dalam kelompok 601–800 dunia pada Times Higher Education (THE) Sustainability Impact Ratings 2026 tidak seharusnya dibaca semata sebagai keberhasilan administratif memenuhi indikator pemeringkatan internasional. Yang lebih menarik justru adalah pesan yang tersimpan di balik capaian tersebut.

Pesan itu sederhana, tetapi sangat penting: kampus Islam mampu menjadi bagian dari solusi global tanpa harus meninggalkan identitas keagamaannya.

Di tengah krisis iklim, kerusakan lingkungan, berkurangnya keanekaragaman hayati, serta meningkatnya frekuensi bencana ekologis, dunia sedang mencari paradigma baru tentang keberlanjutan. Selama ini, banyak solusi dibangun melalui pendekatan teknologi, regulasi, dan tata kelola. Semua itu penting, tetapi belum selalu cukup.

Sebab, pada dasarnya, krisis lingkungan bukan hanya persoalan teknis. Ia juga merupakan krisis cara pandang.

Manusia sebenarnya telah memiliki banyak teknologi untuk mengurangi kerusakan alam. Yang sering kali kurang adalah kesadaran moral untuk menggunakannya secara bertanggung jawab. Di sinilah pertanyaan tentang etika menjadi sangat relevan. Mengapa manusia harus menjaga bumi? Apa dasar moral yang membuat seseorang rela membatasi eksploitasi demi keberlanjutan generasi mendatang?

Dalam konteks inilah agama menemukan kembali relevansinya.

Beberapa waktu lalu, Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Nasaruddin Umar, menyampaikan sebuah pesan penting di hadapan sivitas akademika UIN Sunan Kalijaga. Menurutnya, ekoteologi mengajarkan manusia untuk memandang alam bukan sekadar objek yang berada di luar dirinya, melainkan manifestasi kebesaran Tuhan yang harus dihormati, dijaga, dan dimuliakan. Alam tidak hanya memiliki nilai ekonomis, tetapi juga nilai spiritual. Cara manusia memandang alam akan menentukan cara ia memperlakukannya.

Pesan tersebut sesungguhnya menghadirkan perspektif yang sangat relevan bagi masa depan pembangunan berkelanjutan.

Selama ini, lingkungan sering dipahami dalam kerangka utilitarian: hutan sebagai sumber kayu, sungai sebagai sumber air, tanah sebagai sumber produksi, dan laut sebagai sumber ekonomi. Akibatnya, relasi manusia dengan alam cenderung bersifat eksploitatif.

Ekoteologi menawarkan sudut pandang yang berbeda. Dalam perspektif ini, alam merupakan bagian dari tanda-tanda kebesaran Tuhan. Karena itu, merawat lingkungan bukan hanya tindakan ekologis, tetapi juga tindakan spiritual. Menjaga sungai berarti menjaga amanah. Menanam pohon berarti merawat kehidupan. Mengurangi sampah berarti menjalankan tanggung jawab moral kepada sesama manusia dan generasi yang akan datang.

Perspektif inilah yang menjadikan keberlanjutan tidak berhenti pada kebijakan, tetapi tumbuh menjadi kesadaran.

Dan di sinilah arti penting langkah yang ditempuh UIN Sunan Kalijaga.

Ketika kampus ini mengembangkan berbagai inisiatif berbasis ekoteologi, sesungguhnya yang sedang dibangun bukan sekadar program lingkungan hidup. Yang sedang diperjuangkan adalah paradigma bahwa keberlanjutan dapat berakar pada keyakinan keagamaan. Bahwa ilmu pengetahuan, etika, dan spiritualitas tidak harus berjalan sendiri-sendiri, melainkan dapat saling memperkuat.

Pesan Menteri Agama bahwa “membaca harus disertai kesadaran akan Tuhan” mengandung makna penting bagi dunia akademik. Sains dan teknologi tetap menjadi instrumen utama kemajuan, tetapi keduanya memerlukan kompas moral agar tidak kehilangan arah. Kemajuan yang tidak disertai kesadaran etik berpotensi melahirkan eksploitasi baru terhadap manusia maupun alam.

Karena itu, capaian UIN Sunan Kalijaga dalam Sustainability Impact Ratings menjadi menarik, bukan hanya karena pengakuan internasional yang diraih. Yang lebih penting, capaian tersebut menunjukkan bahwa dunia mulai membuka ruang bagi pendekatan keberlanjutan yang berakar pada nilai-nilai keagamaan.

Kampus Islam tidak lagi dipandang sekadar sebagai pusat studi agama. Ia mulai tampil sebagai laboratorium gagasan yang menawarkan perspektif alternatif dalam menjawab tantangan global.

Tentu masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Posisi 601–800 dunia bukanlah garis akhir. Ia justru menjadi titik awal perjalanan yang lebih panjang.

Namun ada pesan yang patut dicatat.

Di tengah dunia yang sedang mencari model pembangunan yang lebih berkelanjutan, kampus Islam memiliki modal yang sangat berharga: warisan nilai yang menempatkan manusia, alam, dan Tuhan dalam hubungan yang harmonis.

Jika dunia modern berbicara tentang sustainability, tradisi Islam sejak lama telah berbicara tentang amanah, keadilan, keseimbangan (mizan), dan kemaslahatan. Nilai-nilai tersebut pada hakikatnya sejalan dengan cita-cita pembangunan berkelanjutan yang kini menjadi agenda global.

Karena itu, tantangan terbesar perguruan tinggi Islam bukan lagi membuktikan bahwa agama relevan dengan dunia modern. Tantangan sesungguhnya adalah menerjemahkan nilai-nilai tersebut menjadi inovasi, kebijakan, penelitian, kurikulum, dan gerakan sosial yang memberikan dampak nyata.

Jika itu berhasil dilakukan maka kampus Islam tidak hanya akan menjadi peserta dalam percakapan global tentang masa depan bumi.

Ia dapat menjadi salah satu pihak yang membantu menentukan arah percakapan itu sendiri.

Dan mungkin, di situlah makna paling penting dari capaian yang diraih UIN Sunan Kalijaga hari ini: bukan sekadar masuk dalam daftar universitas berkelanjutan dunia, tetapi menunjukkan bahwa nilai-nilai keislaman masih memiliki sesuatu yang sangat berharga untuk ditawarkan kepada masa depan peradaban manusia.

Di saat dunia mencari cara menyelamatkan bumi, kampus Islam menawarkan sebuah pengingat yang mendasar: menjaga alam bukan hanya kewajiban ekologis, melainkan juga bagian dari penghambaan kepada Tuhan.