Di tengah hiruk-pikuk pemeringkatan perguruan tinggi dunia, perhatian kita sering kali terjebak pada angka. Siapa yang berada di posisi teratas, siapa yang naik peringkat, dan siapa yang tertinggal. Padahal, di balik angka-angka tersebut terdapat pertanyaan yang jauh lebih penting: gagasan apa yang sedang ditawarkan sebuah universitas kepada dunia?
Karena itu, capaian UIN Sunan
Kalijaga Yogyakarta yang masuk dalam kelompok 601–800 dunia pada Times
Higher Education (THE) Sustainability Impact Ratings 2026 tidak seharusnya
dibaca semata sebagai keberhasilan administratif memenuhi indikator
pemeringkatan internasional. Yang lebih menarik justru adalah pesan yang
tersimpan di balik capaian tersebut.
Pesan itu sederhana, tetapi sangat
penting: kampus Islam mampu menjadi bagian dari solusi global tanpa harus
meninggalkan identitas keagamaannya.
Di tengah krisis iklim, kerusakan
lingkungan, berkurangnya keanekaragaman hayati, serta meningkatnya frekuensi
bencana ekologis, dunia sedang mencari paradigma baru tentang keberlanjutan.
Selama ini, banyak solusi dibangun melalui pendekatan teknologi, regulasi, dan
tata kelola. Semua itu penting, tetapi belum selalu cukup.
Sebab, pada dasarnya, krisis
lingkungan bukan hanya persoalan teknis. Ia juga merupakan krisis cara pandang.
Manusia sebenarnya telah memiliki
banyak teknologi untuk mengurangi kerusakan alam. Yang sering kali kurang
adalah kesadaran moral untuk menggunakannya secara bertanggung jawab. Di
sinilah pertanyaan tentang etika menjadi sangat relevan. Mengapa manusia harus
menjaga bumi? Apa dasar moral yang membuat seseorang rela membatasi eksploitasi
demi keberlanjutan generasi mendatang?
Dalam konteks inilah agama menemukan
kembali relevansinya.
Beberapa waktu lalu, Menteri Agama
Republik Indonesia, Prof. Nasaruddin Umar, menyampaikan sebuah pesan penting di
hadapan sivitas akademika UIN Sunan Kalijaga. Menurutnya, ekoteologi
mengajarkan manusia untuk memandang alam bukan sekadar objek yang berada di
luar dirinya, melainkan manifestasi kebesaran Tuhan yang harus dihormati,
dijaga, dan dimuliakan. Alam tidak hanya memiliki nilai ekonomis, tetapi juga
nilai spiritual. Cara manusia memandang alam akan menentukan cara ia
memperlakukannya.
Pesan tersebut sesungguhnya
menghadirkan perspektif yang sangat relevan bagi masa depan pembangunan
berkelanjutan.
Selama ini, lingkungan sering
dipahami dalam kerangka utilitarian: hutan sebagai sumber kayu, sungai sebagai
sumber air, tanah sebagai sumber produksi, dan laut sebagai sumber ekonomi.
Akibatnya, relasi manusia dengan alam cenderung bersifat eksploitatif.
Ekoteologi menawarkan sudut pandang
yang berbeda. Dalam perspektif ini, alam merupakan bagian dari tanda-tanda
kebesaran Tuhan. Karena itu, merawat lingkungan bukan hanya tindakan ekologis,
tetapi juga tindakan spiritual. Menjaga sungai berarti menjaga amanah. Menanam
pohon berarti merawat kehidupan. Mengurangi sampah berarti menjalankan tanggung
jawab moral kepada sesama manusia dan generasi yang akan datang.
Perspektif inilah yang menjadikan
keberlanjutan tidak berhenti pada kebijakan, tetapi tumbuh menjadi kesadaran.
Dan di sinilah arti penting langkah
yang ditempuh UIN Sunan Kalijaga.
Ketika kampus ini mengembangkan
berbagai inisiatif berbasis ekoteologi, sesungguhnya yang sedang dibangun bukan
sekadar program lingkungan hidup. Yang sedang diperjuangkan adalah paradigma
bahwa keberlanjutan dapat berakar pada keyakinan keagamaan. Bahwa ilmu
pengetahuan, etika, dan spiritualitas tidak harus berjalan sendiri-sendiri,
melainkan dapat saling memperkuat.
Pesan Menteri Agama bahwa “membaca
harus disertai kesadaran akan Tuhan” mengandung makna penting bagi dunia
akademik. Sains dan teknologi tetap menjadi instrumen utama kemajuan, tetapi
keduanya memerlukan kompas moral agar tidak kehilangan arah. Kemajuan yang
tidak disertai kesadaran etik berpotensi melahirkan eksploitasi baru terhadap
manusia maupun alam.
Karena itu, capaian UIN Sunan
Kalijaga dalam Sustainability Impact
Ratings menjadi menarik, bukan hanya karena pengakuan internasional yang
diraih. Yang lebih penting, capaian tersebut menunjukkan bahwa dunia mulai
membuka ruang bagi pendekatan keberlanjutan yang berakar pada nilai-nilai
keagamaan.
Kampus Islam tidak lagi dipandang
sekadar sebagai pusat studi agama. Ia mulai tampil sebagai laboratorium gagasan
yang menawarkan perspektif alternatif dalam menjawab tantangan global.
Tentu masih banyak pekerjaan yang
harus dilakukan. Posisi 601–800 dunia bukanlah garis akhir. Ia justru menjadi
titik awal perjalanan yang lebih panjang.
Namun ada pesan yang patut dicatat.
Di tengah dunia yang sedang mencari
model pembangunan yang lebih berkelanjutan, kampus Islam memiliki modal yang
sangat berharga: warisan nilai yang menempatkan manusia, alam, dan Tuhan dalam
hubungan yang harmonis.
Jika dunia modern berbicara tentang sustainability, tradisi Islam sejak lama
telah berbicara tentang amanah, keadilan, keseimbangan (mizan), dan
kemaslahatan. Nilai-nilai tersebut pada hakikatnya sejalan dengan cita-cita
pembangunan berkelanjutan yang kini menjadi agenda global.
Karena itu, tantangan terbesar
perguruan tinggi Islam bukan lagi membuktikan bahwa agama relevan dengan dunia
modern. Tantangan sesungguhnya adalah menerjemahkan nilai-nilai tersebut
menjadi inovasi, kebijakan, penelitian, kurikulum, dan gerakan sosial yang
memberikan dampak nyata.
Jika itu berhasil dilakukan maka
kampus Islam tidak hanya akan menjadi peserta dalam percakapan global tentang
masa depan bumi.
Ia dapat menjadi salah satu pihak
yang membantu menentukan arah percakapan itu sendiri.
Dan mungkin, di situlah makna paling
penting dari capaian yang diraih UIN Sunan Kalijaga hari ini: bukan sekadar
masuk dalam daftar universitas berkelanjutan dunia, tetapi menunjukkan bahwa
nilai-nilai keislaman masih memiliki sesuatu yang sangat berharga untuk
ditawarkan kepada masa depan peradaban manusia.
Di saat dunia mencari cara
menyelamatkan bumi, kampus Islam menawarkan sebuah pengingat yang mendasar:
menjaga alam bukan hanya kewajiban ekologis, melainkan juga bagian dari
penghambaan kepada Tuhan.