Di ruang rapat lantai dua Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam (FUPI), pembacaan atas kisah Bani Israil dan sapi betina dalam Surah Al-Baqarah membuka cakrawala baru studi Al-Qur’an. Bukan sekadar mengulas narasi klasik, melainkan menjadikannya pintu masuk untuk menelusuri jejak teks suci dalam lanskap sejarah dan intelektual dunia kuno.
Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam (FUPI) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta kembali menguatkan komitmen internasionalisasinya melalui forum Specialist Discussion bertajuk “The Israelites and The Cow”, Selasa (24/2/2026). Kegiatan ini menghadirkan akademisi Jerman, Holger Zellentin, dari Eberhard Karls University of Tübingen.
Di tengah iklim global yang kerap mempertentangkan tafsir dan identitas, diskusi ini justru memperlihatkan bagaimana teks suci dapat menjadi ruang perjumpaan intelektual. Di hadapan dosen dan mahasiswa, Zellentin mengajak untuk membaca narasi Bani Israil melalui pendekatan Late Antiquity (Akhir Zaman Kuno), dengan metode historis-kritis dan intertekstual. Pendekatan ini menempatkan Al-Qur’an dalam dialog dengan tradisi Yahudi dan Kristen yang berkembang pada periode yang sama.
Pendekatan semacam ini dinilai relevan bagi mahasiswa FUPI. Bahwasanya Studi Al-Qur’an tidak cukup dipahami secara tekstual semata, tetapi perlu disertai kemampuan menelusuri konteks sejarah, jejaring tradisi, serta dinamika intelektual yang melingkupinya. Dengan penguasaan metodologi yang kuat dan perspektif yang luas, pembacaan Al-Qur’an diharapkan mampu berkontribusi dalam merespons berbagai problem kekinian secara argumentatif, kritis, dan solutif.
Kisah tentang sapi betina, yang selama ini dikenal sebagai bagian dari Surah Al-Baqarah, dibedah bukan hanya sebagai narasi teologis, tetapi sebagai teks yang berinteraksi dengan tradisi keagamaan lain di kawasan Timur Dekat pada abad-abad awal Masehi. Di titik ini, studi Al-Qur’an bergerak dari pembacaan normatif menuju percakapan akademik global yang lebih luas.
Dalam kesempatan yang sama Dekan FUPI, Prof. Robby Habiba Abror, dalam menegaskan bahwa internasionalisasi adalah komitmennya yang dijalankan secara konsisten. “Ini komitmen yang kami jalankan secara konsisten,” ujarnya. Kehadiran Zellentin, menurutnya, merupakan bagian dari upaya memperluas jejaring kolaborasi dan pertukaran gagasan lintas negara.
Melalui kegiatan ini, FUPI kembali menegaskan visinya sebagai pusat kajian pemikiran Islam yang kritis, terbuka, dan berorientasi global. Di tengah dunia yang semakin terhubung sekaligus terfragmentasi, forum seperti ini menjadi ruang penting untuk menunjukkan bahwa tradisi keilmuan Islam mampu berdialog, bukan berjarak.
Di saat wacana keagamaan kerap mengeras di ruang digital, diskusi tentang “The Israelites and The Cow” justru menghadirkan pesan sebaliknya, bahwa teks suci dapat menjadi jembatan, selama ia dibaca dengan kedalaman sejarah dan keberanian untuk berdialog.(humassk)