WhatsApp Image 2026-04-02 at 15.46.56.jpeg

Kamis, 02 April 2026 15:58:00 WIB

0

Workshop Penguatan Kapasitas Inovasi, UIN Sunan Kalijaga Dorong Riset Berdaya Guna bagi Masyarakat dan Industri

UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta terus mendorong penguatan ekosistem riset yang tidak hanya berhenti pada publikasi, melainkan dihilirisasi dan ditransformasikan menjadi solusi berdaya guna bagi masyarakat dan industri. Melalui Workshop Penguatan Kapasitas Inovasi yang digelar Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM), Kamis (2/4/2026), kampus ini menegaskan arah pengembangan riset yang lebih kolaboratif, berkelanjutan, dan berdampak.

Kegiatan yang berlangsung di Ruang Rapat Gedung Pusat Administrasi Umum (PAU) Lt 1 tersebut, dihadiri segenap ketua program studi dan mahasiswa, dengan menghadirkan Dekan Fakultas MIPA UGM Prof. Dr. Eng. Kuwat Triyana, M.Si. serta Direktur Direktorat Riset, Hilirisasi, dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Padjadjaran Prof. dr. Nur Atik, M.Kes., Ph.D. sebagai narasumber.

Sekretaris LPPM UIN Sunan Kalijaga, Dr. Rika Lusri Virga, menyampaikan bahwa penguatan riset dan inovasi merupakan kerja kolektif yang tidak dapat bertumpu pada satu unit semata. “Workshop ini menjadi bagian dari ikhtiar LPPM untuk mendorong penguatan riset dan inovasi. Hal ini memerlukan kontribusi aktif dari setiap program studi yang memahami secara spesifik arah pengembangan keilmuan di dalamnya,” ujarnya.

Berkaitan dengan hal itu, LPPM juga mendorong penyusunan buku karya inovasi dosen dan mahasiswa serta penguatan proses pengajuan hak paten sederhana sebagai bagian dari hilirisasi hasil riset. Langkah ini menjadi bagian dari strategi membangun ekosistem riset yang utuh, dari hulu hingga hilir.

Adapun dalam paparannya, di hadapan para dosen dan jajaran pimpinan LPPM, Prof. Kuwat Triyana menekankan pentingnya pergeseran paradigma riset. Menurut dia, riset tidak lagi cukup berbasis topik, tetapi harus berangkat dari persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.

“Riset perlu diarahkan dari sekadar publikasi menjadi riset berbasis masalah yang menghasilkan dampak nasional maupun internasional yang terukur. Dosen tidak hanya menghasilkan karya ilmiah, tetapi juga perlu melahirkan inovasi, termasuk paten yang bernilai ekonomi,” ujarnya.


Dalam konteks tersebut, menurut Prof. Kuwat, kepekaan terhadap persoalan di sekitar menjadi salah satu kunci lahirnya riset yang berdampak. Ketika dosen mampu membaca realitas yang dihadapi masyarakat, riset tidak lagi berangkat dari ruang hampa. Namun, kompleksitas persoalan di lapangan menuntut lebih dari satu perspektif, sehingga pendekatan multidisipliner menjadi keniscayaan.

Karena itu, dosen juga didorong untuk tidak ragu menjalin kemitraan riset dan inovasi dengan berbagai pihak, didukung pemetaan kompetensi internal serta pemanfaatan alat dan sumber daya yang tersedia.

Transformasi riset, menurut Prof. Kuwat, juga menuntut kemampuan mengubah pengetahuan menjadi dampak ekonomi. Hal ini menjadi tantangan sekaligus peluang, termasuk bagi program studi berbasis ilmu sosial, untuk terus mengembangkan pendekatan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Oleh karena itu, pendekatan problem-based maupun project-based menjadi penting, dengan tetap menjaga orisinalitas keilmuan.


Dalam kerangka tersebut, lanjutnya. publikasi ilmiah dan produk inovatif seperti paten tidak perlu dipertentangkan, melainkan dapat berjalan beriringan sebagai bagian dari ekosistem riset yang sehat dan berkelanjutan.

Sementara itu, Prof. Nur Atik menyoroti peran strategis perguruan tinggi dalam mempercepat ekosistem riset inovatif. Ia menekankan bahwa kontribusi keilmuan, termasuk dari bidang sosial, tidak selalu harus diukur secara finansial, tetapi juga dari dampaknya terhadap masyarakat.

“Riset dasar harus tetap ada. Terapan tanpa dasar tidak mungkin hadir. Karena itu, penting memastikan bahwa penelitian yang dilakukan benar-benar menjawab persoalan nyata,” ujarnya.

Senada dengan prof. Kuwat,  Prof. Atik juga mengungkapkan bahwa paradigma monodisiplin tidak lagi relevan. Menurutnya, riset saat ini menuntut kolaborasi multidisiplin, bahkan multisektoral, dengan melibatkan berbagai pihak sejak awal, termasuk industri dan regulator. Pendekatan ini dikenal sebagai model “triple helix” yang menghubungkan perguruan tinggi, industri, dan pemerintah.

Ia mencontohkan isu kesehatan seperti tuberkulosis dan stunting yang tidak dapat dilihat semata sebagai persoalan gizi, tetapi juga terkait faktor sosial seperti kemiskinan. Hal ini menuntut pendekatan riset yang lebih kompleks dan lintas sektor.

Sejumlah praktik baik yang disampaikan narasumber, termasuk pengalaman di Universitas Padjadjaran, menegaskan bahwa penguatan kapasitas inovasi perlu diiringi dengan pembangunan ekosistem riset yang menyeluruh, mulai dari kolaborasi lintas disiplin, pemetaan kompetensi peneliti, hingga manajemen hilirisasi inovasi, bahkan penguatan iklim kewirausahaan

“Ketika kampus memahami posisinya, mengetahui kekuatan yang dimiliki, maka arah pengembangan riset akan lebih terukur dan strategis,” ungkapnya.

Komitmen ini menegaskan langkah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dalam mengembangkan riset yang berdampak bagi masyarakat dan industri. Melalui penguatan inovasi, karya ilmiah didorong bertransformasi menjadi solusi nyata, sekaligus menandai pergeseran kampus dari menara gading menuju pusat pengetahuan yang aplikatif dan bernilai guna.

Keberadaan Pusat Inovasi, Kekayaan Intelektual, dan Hilirisasi menjadi salah satu instrumen strategis dalam mengakselerasi proses tersebut, dengan memastikan hasil riset terkelola, terlindungi, dan terhubung dengan kebutuhan masyarakat serta dunia industri.(humassk)